1. News
  2. Berita
  3. Danantara Siapkan Jurus Baru: Etanol Bakal Gantikan Ketergantungan Bensin Impor?

Danantara Siapkan Jurus Baru: Etanol Bakal Gantikan Ketergantungan Bensin Impor?

danantara-siapkan-jurus-baru:-etanol-bakal-gantikan-ketergantungan-bensin-impor?
Danantara Siapkan Jurus Baru: Etanol Bakal Gantikan Ketergantungan Bensin Impor?

3 Oktober 2026 13.58 WIB • 3 menit

Danantara Siapkan Jurus Baru: Etanol Bakal Gantikan Ketergantungan Bensin Impor?

images info

Dony Oskaria/Rizky Kusumo


Danantara mendorong pengembangan etanol E20 untuk mengurangi impor bensin. Riset menunjukkan peluang dan tantangan etanol bagi kendaraan.

Di tengah kebutuhan bensin yang terus bergerak naik, Indonesia mulai mencari jalan keluar yang tidak hanya bergantung pada kilang dan impor. Salah satu jawabannya datang dari bahan yang selama ini lebih dekat dengan perkebunan daripada pompa bensin: etanol.

Danantara Indonesia kini mendorong pengembangan bahan bakar ramah lingkungan berbasis etanol sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyebut Indonesia telah mencatat kemajuan melalui penerapan biodiesel B50.

Setelah keberhasilan tersebut menekan kebutuhan impor solar, perhatian berikutnya diarahkan kepada bensin.

“Kita harapkan juga sama dengan bensin,” ujar Dony di acara executive breakfast meeting bertajuk “dua tahun danantara” yang digelar oleh Ikatan Alumni Fikom Unpad di Jakarta Jumat (3/10/2026).

Gagasannya adalah mengembangkan bensin dengan campuran etanol atau E20, yakni bahan bakar yang mengandung 20 persen etanol. Pemerintah juga tengah menyiapkan ekosistem produksi etanol, mulai dari bahan baku hingga pembangunan pabrik.

Langkah ini bukan sekadar mengganti sebagian isi tangki kendaraan. Di balik E20 terdapat ambisi yang jauh lebih besar: mengurangi kebutuhan bensin impor sekaligus membangun industri energi berbasis sumber daya domestik.

Dari Tebu ke Tangki Mobil, Perjalanan Etanol Dimulai

Indonesia sebenarnya tidak baru mengenal bioetanol. Pemerintah telah mendorong pengembangan bioetanol berbasis tebu sejak beberapa tahun lalu. Pada 2022, pemerintah bahkan menargetkan peningkatan produksi bioetanol nasional dari sekitar 40 ribu kiloliter menjadi 1,2 juta kiloliter pada 2030.

Kini targetnya semakin besar. Kementerian ESDM memperkirakan konsumsi bensin nasional berada di kisaran 40 juta kiloliter per tahun. Jika E20 diterapkan secara penuh, kebutuhan etanol dapat mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya mencampurkan etanol ke bensin, tetapi memastikan bahan bakunya tersedia dalam jumlah besar.

Karena itu, tebu menjadi salah satu sumber yang diperhitungkan. Pemerintah juga mendorong pengembangan lahan dan industri pengolahan agar rantai pasok etanol tidak berhenti pada produksi bahan mentah.

Molases atau tetes tebu dapat menjadi bahan baku penting dalam proses produksi etanol. Dengan kata lain, perkebunan tebu nantinya bukan hanya berkaitan dengan gula. Sebagian hasilnya bisa masuk ke rantai energi.

Pemerintah bahkan menyiapkan langkah untuk mencapai produksi E20 dalam dua tahun mendatang, termasuk penyediaan lahan dan pembangunan industri pengolahannya.

Namun, ada satu pertanyaan besar: apakah mesin kendaraan Indonesia siap menerima bensin dengan campuran etanol 20 persen?

Riset Menunjukkan Potensi, Tetapi Mesin dan Pasokan Jadi Kunci

Sejumlah penelitian memberikan alasan mengapa etanol menarik untuk dikembangkan sebagai bahan bakar.

Penelitian LEMIGAS terhadap campuran bensin dan etanol E20 pada mesin sepeda motor menemukan bahwa E20 menunjukkan daya dan torsi yang lebih tinggi dibandingkan campuran metanol M20 dalam pengujian tersebut. Studi lain juga menemukan bahwa penambahan bioetanol dapat meningkatkan angka oktan dan berpotensi menurunkan sejumlah emisi kendaraan.

Secara umum, etanol memiliki kandungan oksigen yang membantu proses pembakaran. Sejumlah penelitian internasional juga menemukan potensi penurunan emisi tertentu ketika etanol dicampurkan dengan bensin, meski hasil akhirnya sangat bergantung pada jenis mesin, komposisi bahan bakar dan kondisi pengujian.

Tetapi jalan menuju E20 tidak otomatis mulus.

Kesiapan kendaraan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. GAIKINDO pada September 2026 menyampaikan bahwa sebagian besar kendaraan yang beredar belum dapat langsung diasumsikan kompatibel dengan E20 tanpa mempertimbangkan spesifikasi dan pengujian kendaraan.

Artinya, pengembangan etanol membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan pabrik. Indonesia membutuhkan bahan baku, teknologi fermentasi dan pengolahan, standar kualitas, infrastruktur distribusi, serta pengujian kendaraan.

Riset terbaru mengenai kesiapan bioetanol di Indonesia juga menyoroti persoalan bahan baku, teknologi, kebijakan dan harga sebagai faktor penting keberhasilan program.

Pada akhirnya, proyek etanol Danantara bukan hanya cerita tentang bahan bakar baru. Ini adalah upaya membangun rantai energi dari lahan tebu, pabrik etanol, distribusi BBM hingga mesin kendaraan.

Jika seluruh mata rantai tersebut berhasil dibangun, etanol bisa menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bensin impor. Namun jika pasokan dan kesiapan kendaraan belum mampu mengejar target, E20 akan menghadapi tantangan sebelum benar-benar menjadi pemandangan biasa di SPBU.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Danantara Siapkan Jurus Baru: Etanol Bakal Gantikan Ketergantungan Bensin Impor?
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us