1. News
  2. Berita
  3. Nusantara Bertutur, Batuk Hitam Anak Gunung Krakatau

Nusantara Bertutur, Batuk Hitam Anak Gunung Krakatau

nusantara-bertutur,-batuk-hitam-anak-gunung-krakatau
Nusantara Bertutur, Batuk Hitam Anak Gunung Krakatau

Matahari baru saja terbit. Rara si rusa muda tampak gelisah. Telinganya yang panjang terus bergerak-gerak, menangkap suara dengungan aneh dari kejauhan. Telapak kakinya merasakan getaran halus yang terus berulang dari dalam bumi. Dug… dug… dug…

“Kalian merasakan itu tidak? Tanahnya seperti sedang menggigil!” ujar Rara cemas.

Dari atas dahan pohon ketapang, Koko si kera ekor panjang melompat turun. Ia mengusap hidungnya berkali-kali. “Coba endus udara ini, Rara. Hidungku mencium bau sangit seperti telur busuk dari arah laut.”

“Telur busuk? Itu pasti gas belerang.” gumam Rara mulai ketakutan.

Terdengar pekikan nyaring. Cici si burung camar terbang menukik turun dengan napas tersengal-sengal.

“Gawat teman-teman!” seru Cici. “Gunung Anak Krakatau di tengah laut sana meletup-letup menyemburkan batu panas seperti kembang api raksasa! Asap hitamnya sangat tebal dan sedang tertiup angin kencang ke arah hutan kita!”

“Menyemburkan batu dan asap hitam?” Koko bingung.

“Iya! Awan hitam itu bergerak ke sini membawa banyak sekali debu. Sebentar lagi pasti terjadi hujan abu dan kerikil!” jelas Cici.

Mendengar laporan Cici, Rara dan Koko saling berpandangan. Insting tajam mereka sebagai satwa liar seketika menyala terang.

“Getaran bumi, bau gas belerang, dan awan abu hitam…” gumam Koko memutar otak.

“Itu alarm bahaya dari alam! Anak Krakatau sedang erupsi!” seru Rara. “Cepat lari! Kita harus segera mencari tempat berlindung di dalam Gua Karang!”

Tanpa membuang waktu, ketiga sahabat itu berlari sekuat tenaga menuju sebuah gua batu yang kokoh di tepi hutan.

Begitu mereka tiba dengan selamat di dalam gua… Bummm!

Terdengar dentuman maha dahsyat dari arah Selat Sunda. Anak Krakatau memuntahkan awan hitam pekat yang langsung menutupi cahaya matahari.

Tak lama kemudian, terdengar suara aneh dari luar gua. Tuk! Tuk! Pletuk!

Hujan kerikil dan abu vulkanik turun dengan deras, menimpa daun-daun dan tanah di luar tempat mereka bersembunyi.

Rara, Koko, dan Cici beringsut mundur ke bagian gua yang paling dalam. Mereka gemetar melihat kengerian itu. Koko buru-buru menutup hidungnya dengan daun lebar agar napasnya tidak sesak.

“Kalau saja kita tidak segera berlindung, tubuh kita sakit terkena hujan kerikil,” bisik Cici dengan suara bergetar.

Koko mengangguk setuju. “Iya, abu gunung meletus itu sangat berbahaya untuk pernapasan kita.”

Rara menghela napas panjang, bersyukur mereka utuh tanpa luka. “Untung saja kita peka menangkap pesan rahasia dari alam. Mulai sekarang, kita tidak boleh lengah dan harus selalu mendengarkan peringatan alam, agar selamat.” Ketiga sahabat itu pun berpelukan erat di dalam gua. *

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Imam Baehaqi
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nusantara Bertutur, Batuk Hitam Anak Gunung Krakatau
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us