1. News
  2. Berita
  3. Ditolak di Jawa pada 1850-an, Batik Tiruan Belanda Kini Jadi Kebanggaan Afrika Barat

Ditolak di Jawa pada 1850-an, Batik Tiruan Belanda Kini Jadi Kebanggaan Afrika Barat

ditolak-di-jawa-pada-1850-an,-batik-tiruan-belanda-kini-jadi-kebanggaan-afrika-barat
Ditolak di Jawa pada 1850-an, Batik Tiruan Belanda Kini Jadi Kebanggaan Afrika Barat

Gambar dari https://globalmamas.org/


Pada abad ke-19, Jawa adalah salah satu pasar kain terbesar di Asia. Batik dipakai di mana-mana, dari lingkungan keraton Surakarta dan Yogyakarta sampai kota-kota dagang di pesisir utara. Pengusaha tekstil di Belanda, Inggris, dan Swiss memperhatikan besarnya konsumsi kain itu. Mereka berharap batik bisa dibuat dengan mesin lalu dijual kembali kepada orang Jawa.

Ambisi ini muncul setelah Perang Jawa (1825–1830), ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda memperketat cengkeramannya lewat Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa. Industri di Eropa ingin ikut masuk ke pasar dalam negeri Jawa. Pada 1850-an, batik buatan mesin mulai ditawarkan kepada pembeli Jawa, dan hasilnya jauh dari harapan. Kain yang sama kemudian menemukan pasarnya di Afrika Barat.

Mesin Belanda Meniru Batik, tetapi Retakan Resinnya Ditolak Pembeli Jawa

Pada 1854, Jean Baptiste Théodore Prévinaire memodifikasi mesin cetak blok bernama perrotine. Ia adalah direktur Haarlemsche Katoenmaatschappij. Mesin buatannya, yang dijuluki La Javanaise, mengoleskan resin cair ke kedua sisi kain katun. Tujuannya meniru batik tulis, yang motifnya tembus dan tampak sama di sisi depan maupun belakang.

Di Helmond, perusahaan milik Pieter Fentener van Vlissingen mengembangkan rol tembaga berukir yang bisa menggulirkan resin ke kain dengan cepat. Perusahaan ini didirikan pada 1846 dan kelak dikenal sebagai Vlisco. Kedua teknik itu punya masalah yang sama. Resin mengeras dan retak ketika kain melewati bak pewarna, sehingga zat warna merembes lewat celahnya dan meninggalkan garis-garis halus seperti jaring laba-laba.

Pekerja di pabrik Vlisco, Belanda, memeriksa kain wax print bermotif lingkaran karya desainer Belanda Piet Snel. Kain jenis ini berakar dari upaya pabrik Belanda meniru batik Jawa pada abad ke-19. Kanan: Perajin di Gambia membuka ikatan kain celup buatan tangan, salah satu tradisi pewarnaan kain yang sudah ada di Afrika Barat sebelum wax print Belanda datang. Foto: BBC (kiri), African Fabric (kanan).

info gambar

Pekerja di pabrik Vlisco, Belanda, memeriksa kain wax print bermotif lingkaran karya desainer Belanda Piet Snel. Kain jenis ini berakar dari upaya pabrik Belanda meniru batik Jawa pada abad ke-19. Kanan: Perajin di Gambia membuka ikatan kain celup buatan tangan, salah satu tradisi pewarnaan kain yang sudah ada di Afrika Barat sebelum wax print Belanda datang. Foto: BBC (kiri), African Fabric (kanan).


Bagi pembeli Jawa pada 1850-an, garis retak itu adalah cacat. Batik tulis dinilai dari ketepatan garis, kebersihan latar, dan aroma malam dari lilin lebah serta damar. Kain dari Eropa tidak punya semua itu dan malah berbau bahan kimia. Pada dekade yang sama, perajin pesisir sudah memakai batik cap dengan stempel tembaga. Cara ini mempercepat produksi tanpa mengganti bahan malam tradisional, sehingga harga batik lokal tetap bersaing. Akibatnya, pedagang Eropa menumpuk stok yang tidak laku.

Kain yang Ditolak di Jawa Diterima Pembeli di Ghana, Togo, dan Nigeria

Kapal-kapal dagang Eropa yang berlayar ke dan dari Asia Tenggara biasa mengitari Tanjung Harapan dan singgah di pelabuhan Teluk Guinea. Menjelang 1880-an, kain-kain tiruan itu mulai diturunkan di Gold Coast (kini Ghana), Togo, Dahomey (kini Benin), dan Nigeria. Pedagang Skotlandia Ebenezer Brown Fleming bekerja sama dengan pabrik di Haarlem dan memperoleh hak distribusi di Gold Coast. Ia tidak menjual kain itu sebagai batik gagal. Ia memasarkannya sebagai kain berkualitas yang warnanya awet dan tembus di kedua sisi.

Pasar Afrika Barat sudah lama mengenal kain impor. Sejak akhir abad ke-15, pedagang Eropa membawa kain katun dan chintz dari India ke pantai ini. Para pembeli di sana terbiasa menilai mutu pewarnaan dan motif, sehingga mereka melihat kain dari Belanda dengan cara yang berbeda dari pembeli Jawa.

Retakan resin justru dianggap sebagai tekstur yang hidup dan bukti proses pencelupan yang asli. Warna yang sama di kedua sisi juga penting, karena perempuan setempat memakai kain sebagai lilitan yang terbuka saat tubuh bergerak. Kain yang tahan matahari dan tahan dicuci bahkan bisa disimpan sebagai harta.

Batik di Afrika Barat | Bahoum Batik IG

info gambar

Batik di Afrika Barat | Bahoum Batik IG

Sering beredar cerita bahwa kain ini masuk ke Afrika Barat lewat Belanda Hitam. Mereka adalah lebih dari 3.000 prajurit asal Afrika Barat yang direkrut KNIL antara 1831 dan 1872 untuk bertugas di Hindia Belanda. Sejarawan Ineke van Kessel menyebut cerita itu sebagai mitos. Hanya sebagian kecil prajurit yang pulang ke Gold Coast, dan mereka terlalu miskin untuk membeli kain semahal itu. Arsip kolonial juga tidak pernah menyebut mereka membawa batik.

Dari Nomor Katalog Pabrik Menjadi Simbol Identitas Afrika Barat

Pabrik di Haarlem dan Helmond kemudian mengganti palet warna. Cokelat soga dan nila khas Jawa Tengah ditinggalkan, lalu diganti kuning terang, biru kobalt, merah, dan hijau yang lebih disukai pasar Afrika Barat. Motif Jawa juga mendapat arti baru. Motif sayap garuda, misalnya, dinamai Sika Wo Antaban di Ghana, yang berarti “uang punya sayap”. Nama itu berfungsi sebagai pengingat bahwa harta mudah hilang.

Kain wax print bermotif burung layang-layang yang di Ghana dikenal sebagai Sika Wo Antaban atau

info gambar

Kain wax print bermotif burung layang-layang yang di Ghana dikenal sebagai Sika Wo Antaban atau “uang punya sayap”, pengingat bahwa harta mudah hilang. Warna kuning, biru, dan merahnya mencerminkan palet terang yang dipakai pabrik Belanda untuk pasar Afrika Barat, menggantikan cokelat soga dan nila batik Jawa. Foto: Etnotextil.ru

Pabrik hanya memberi nomor katalog pada setiap desain. Para pedagang perempuan di pasarlah yang memberi nama. Kain bermotif mata disebut L’Œil de ma rivale atau “mata saingan saya”. Seorang istri bisa memakainya untuk menyampaikan sikap kepada madunya tanpa berkata apa pun.

Di Lomé, Togo, para saudagar kain yang dijuluki Nana Benz menguasai distribusi sejak 1950-an hingga akhir 1980-an. Julukan itu muncul karena banyak dari mereka mampu membeli Mercedes-Benz. Mereka mendatangi pabrik di Eropa, ikut menentukan warna dan ukuran motif, serta memegang hak eksklusif atas desain tertentu.

Setelah merdeka, Ghana dan Pantai Gading mendirikan pabrik sendiri, seperti GTP di Tema dan Uniwax di Abidjan. Pada 2010, Vlisco dibeli firma ekuitas swasta Actis, lalu kain Tiongkok yang lebih murah membanjiri pasar. Kebakaran Grand Marché Lomé pada Januari 2013 ikut memukul jaringan dagang Nana Benz.

Instalasi How Does a Girl Like You, Get to be a Girl Like You (1995) karya Yinka Shonibare di Biennale of Sydney ke-10 (1996), Art Gallery of New South Wales. Shonibare menjahit gaun bergaya era Victoria dari kain wax print, kain yang dikenal sebagai kain khas Afrika tetapi berawal dari tiruan batik Jawa buatan pabrik Belanda. Foto: Foto: Biennale of Sydney/Flickr.

info gambar

Instalasi How Does a Girl Like You, Get to be a Girl Like You (1995) karya Yinka Shonibare di Biennale of Sydney ke-10 (1996), Art Gallery of New South Wales. Shonibare menjahit gaun bergaya era Victoria dari kain wax print, kain yang dikenal sebagai kain khas Afrika tetapi berawal dari tiruan batik Jawa buatan pabrik Belanda. Foto: Foto: Biennale of Sydney/Flickr.

Lebih dari satu setengah abad setelah ditolak di Jawa, kain ini kini dikenal sebagai Ankara atau African wax print. Di Afrika Barat, kain itu dianggap bagian dari identitas sendiri dan, setelah era kemerdekaan, menjadi lambang kebanggaan Pan-Afrika. Pasar juga terus melahirkan motif dan nama baru. Salah satunya Sac de Michelle Obama di Pantai Gading dan Togo, yang bergambar tas tangan dan dibaca sebagai lambang perempuan yang terdidik dan mapan.

Seniman Inggris-Nigeria Yinka Shonibare memakai kain ini dalam karya-karyanya untuk mempertanyakan gagasan tentang budaya yang murni, karena kain yang dirayakan sebagai kain Afrika itu berawal dari Jawa dan dibuat di Belanda. Antropolog Nina Sylvanus berpendapat bahwa keafrikaan kain ini tidak terletak pada bahannya. Makna itu lahir dari cara kain tersebut dipakai dan dimaknai oleh para pemakainya di Afrika Barat, sebuah proses yang sudah berlangsung lebih dari seratus tahun.


Referensi

Sylvanus, N. (2007). The fabric of Africanity: Tracing the global threads of authenticity. Anthropological Theory, 7(2), 201–216. https://doi.org/10.1177/1463499607077298

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Ditolak di Jawa pada 1850-an, Batik Tiruan Belanda Kini Jadi Kebanggaan Afrika Barat
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us