
Atlet padel Indonesia, Fadona Kusumawati dan Fitriani Sabatini. | Kemenpora
Padel booming di Indonesia beberapa waktu terakhir. Bukan sekadar fomo, orang Indonesia nyatanya memang jago memainkan olahraga satu ini, dan Asian Games 2026 adalah buktinya.
Tak bisa dipungkiri, padel adalah salah satu olahraga yang popularitasnya menanjak tajam di Indonesia. Semakin banyak orang yang bermain, menjamur pula lapangannya. Di berbagai kota, lapangan padel bermunculan bak jamur di musim penghujan.
Berdasarkan data Growell, jumlah lapangan padel di Indonesia mengalami peningkatan dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025, atau sekitar 435% hanya dalam setahun. Pada 2026, diproyeksikan akan ada 2.527 lapangan, lalu trennya berlanjut hingga terdapat 4.693 pada 2027 dan 5.573 lapangan pada 2028.
Tren padel pula yang membuat olahraga tersebut dan para pemainnya kerap dicibir dengan label fomo, singkatan dari fear of missing out alias rasa takut, cemas, atau khawatir tertinggal tren, berita, atau aktivitas yang sedang ramai di masyarakat. Pemain padel dituding banyak yang cuma ikut-ikutan karena dorongan sosial dan takut ketinggalan tren, bukan murni karena memang berminat pada olahraganya. Apalagi, padel juga banyak dimainkan para selebritas dan figur publik.
Terlepas dari adanya stigma tersebut, Indonesia membuktikan diri patut diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan padel Asia. Ini terbukti dari keberhasilan Indonesia merebut medali dari cabang olahraga padel di Asian Games 2026.

Dari Padel, Indonesia Mendapat Medali Asian Games 2026
Tahun ini adalah kali pertama padel dipertandingkan sebagai cabor resmi di Asian Games. Pertandingannya berlangsung dari tanggal 28 September hingga 3 Oktober 2026 di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang.
Pertama kali padel dipertandingkan, Indonesia langsung tancap gas. Hasilnya, dua medali berhasil didapat yang terdiri dari masing-masing satu perak dan perunggu.
Medali perak didapat oleh pasangan ganda putri Fadona Kusumawati dan Fitriani Sabatini. Tampil ciamik sejak awal, keduanya kemudian harus mengakui keunggulan wakil tuan rumah Jepang, Saki Tsukamoto/Kae Takumoto, dalam laga final yang berakhir dua set langsung dengan skor 3-6, 4-6 pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
“Terima kasih ya,” ujar keduanya dengan disertai isak tangis seiring dengan tumpahnya segala beban perjuangan yang telah dipikul sejauh ini.
Sementara itu, perunggu didapat oleh pasangan ganda putri lainnya, Beatrice Gumulya/Novela Putri. Keduanya merebut medali setelah tampil “ngamuk” dalam laga versus wakil Filipina, Danna Abad/Joshea Malazarte.
Ogah pulang dengan tangan kosong, Beatrice/Novela tak mau tanggung-tanggung demi membawa pulang sekeping medali dari Jepang. Mereka pun menggasak Abad/Malazarte dengan skor telak 6-0, 6-0.
Meski belum bisa mempersembahkan emas, dua medali dari cabor padel tetap diapresiasi. Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Wamenpora RI) Taufik Hidayat, yang menyaksikan langsung pertandingan, memuji kerja keras dan perjuangan para atlet di lapangan. Ia berharap para atlet terus mengasah kemampuan untuk menghadapi kejuaraan-kejuaraan internasional lainnya.
“Terima kasih perjuangannya, tetap semangat untuk menghadapi berbagai kejuaraan lainnya,” kata Taufik.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.
Tim Editor