1. News
  2. Kombitainment
  3. Eksklusif Silampukau: Kami Berharap Stambul Arkipelagia Bisa Ditafsirkan sebagai Fiksi

Eksklusif Silampukau: Kami Berharap Stambul Arkipelagia Bisa Ditafsirkan sebagai Fiksi

eksklusif-silampukau:-kami-berharap-stambul-arkipelagia-bisa-ditafsirkan-sebagai-fiksi
Eksklusif Silampukau: Kami Berharap Stambul Arkipelagia Bisa Ditafsirkan sebagai Fiksi

Silampukau telah berhasil memungkasi trilogi album Stambul Arkipelagia pada Jumat, 2 Oktober 2026. Album Stambul Arkipelagia volume 3 telah berhasil mereka rilis ke seluruh DSP dengan total 10 lagu. Album tersebut merupakan volume penutup dari visi artistik eksperimental baru Silampukau, yang dikenal sebagai duo kepodang hingga menemukan format baru sebagai grup yang mereka namai Orkes Silampukau. Dalam album ini, mereka mencoba menawarkan sebuah teaterikal sonik berlatar Arkipelagia, sebuah negara maritim fiktif yang penuh tragedi dan marabahaya.

Sebagaimana terbaca dari catatan-catatan yang dibuat, Kharis Junandharu mengungkapkan bahwa album ini terinspirasi oleh Komedie Stamboel dan Dardanella. Komedie Stamboel adalah pertunjukan teater hibrida yang bergaya musikal. Pertunjukan kelompok teater keliling ini berakar di Surabaya pada tahun 1891. Sedangkan Dardanella (kelompok sandiwara yang berasal dari Sidoarjo, kota sebelah selatan Surabaya) adalah pelopor teater modern Indonesia menurut Jaap Erkelens. Komedie Stamboel dan Dardanella, menurut catatan Kharis, kerap disingkirkan dari narasi kebudayaan Indonesia akibat sentimen nasionalisme karena dimainkan oleh peranakan Eropa dan Tionghoa.

Dalam catatannya tersebut, Kharis tidak sedang mencoba meromantisasi sejarah. Bersama Orkes Silampukau, ia hanya mencoba menjernihkan sejarah kebudayaan dari hegemoni pusat. Baginya, Komedie Stamboel dan Dardanella adalah pengingat bahwa denyut hibriditas yang memelopori modernitas kesenian kita tidak dilahirkan dari pusat kekuasaan. “Pada awal pengerjaan proyek, saya kadang berseloroh mengatakan Stambul Arkipelagia ini semacam upaya yang agak keterlaluan untuk bermain jelangkung; memanggil pulang arwah kesenian yang sempat terusir oleh ledakan gelombang nasionalisme di masa lalu untuk kemudian membongkar, memodifikasi, dan memperbaruinya,” tulisnya dalam artist statement di album ini.

Berbekal narasi tersebut, dibuatlah tiga jilid Stambul Arkipelagia yang berkisah tentang sebuah negara-bangsa bernama Arkipelagia. Arkipelagia dalam karya ini merupakan sebuah fiksi tentang sebuah negeri maritim penuh marabahaya, yang terletak di sekitar lingkar tropis. Disajikan secara serial dan semacam saga, pendengar seperti dibuat terus berandai-andai tentang semacam apa kisah yang mereka bayangkan. Dalam album ini, Silampukau berusaha mewujudkan distopia terburuk dari peradaban manusia. Sebuah negara yang terapung dalam masa lalu dan masa depan yang berada di ambang kenyataan dan khayalan.

Lagu-lagu yang mereka bawakan di album ini tentu berbeda sekali dengan Dosa, Kota, Kenangan (2015). Dari sisi musikalitas, mereka terasa lebih berwarna dan rancak dibanding album satu dasawarsa lalu yang fenomenal itu. Jika narasi Dosa, Kota, Kenangan adalah realitas urban Kota Surabaya, pada Stambul Arkipelagia kita akan dibawa ke sebuah dunia fiktif yang coba mereka kisahkan. Alasan perubahan sisi musikal tersebut, disampaikan Kharis, berakar dari kebudayaan Nusantara yang memang selalu mengalami hibriditas. Album ini secara ideologis mencoba mendobrak ilusi kemurnian genre yang konservatif.

Sebagai orang yang lama tinggal di Surabaya, saya tentu kagum dengan perkembangan awal Silampukau dari EP Sementara Ini (2009) dengan format duo hingga sekarang personelnya banyak. Saya turut mengikuti perkembangan Silampukau dari awal kembalinya mereka muncul di Tambakbayan hingga menjadi band nasional. Setelah kemunculan album Dosa, Kota, Kenangan, hampir setiap minggu Silampukau selalu main di Kota Surabaya dan sekitarnya. Mendengar album baru mereka ini tentu memiliki perbedaan rasa seperti ketika saya menonton Silampukau pertama kali di sebuah kafe di daerah Klampis Ngasem.

Melihat betapa rumitnya pemikiran Silampukau dalam album triloginya ini, saya pun berkesempatan untuk melakukan wawancara tekstual dengan Kharis Junandaru. Personel Silampukau yang paling banal dan bertanggung jawab atas pengkaryaan dari grup musik yang ia dirikan sejak 2008 lalu. Wawancara tekstual ini dilakukan lewat perantara Reno Surya, manajer dari Silampukau, dan baru mendapat balasan pada Sabtu dini hari, 3 Oktober 2026.

Setelah membuat album fenomenal “Dosa, Kota, Kenangan”, apakah Silampukau mempunyai beban tersendiri dalam membuat album baru hingga baru membuat album lagi 10 tahun kemudian?

Kharis: Entahlah, barangkali memang sudah takdirnya begini. Setelah DKK mendapat apresiasi yang bagus dari publik, saya merasa dituntut—entah oleh siapa—untuk membuat hal yang serupa.

Masalahnya waktu itu ada dua; yang pertama, metriks dari album itu tidak sesuai dengan apresiasinya, pendeknya ini barangkali perkara tata kelola dari manajemen band (walaupun pengelolaannya memang bukan dilakukan oleh orang profesional) yang tidak punya imajinasi untuk mengembangkan aset, jadi saya memilih menunda penggarapan album berikutnya sampai masalah ini beres (yang ternyata tidak kunjung beres sampai akhirnya pandemi datang, dan masalah ini teralihkan oleh masalah yang lebih besar lagi).

Masalah yang kedua adalah konsep. Di tahun-tahun sebelum pandemi, saya sudah hampir yakin bahwa saya tidak lagi terlalu tertarik mengembangkan realisme urban, karena realisme ini tentunya harus berangkat dari kenyataan, dan kenyataan harian kita erat dengan kebijakan-kebijakan politis yang diambil oleh para pengelola negara. Jika jalur kekaryaan realisme ini saya teruskan, saya khawatir bahwa proses songwriting-nya akan terlalu menguras kewarasan dan lagunya nanti tidak akan terlalu menyenangkan untuk didengar.

Apakah ada alasan tertentu kenapa Silampukau seolah mengubah genre musik kalian di album terbaru ini? Apa ada rasa bosan dalam membawakan lagu-lagu di “Dosa, Kota, Kenangan”?

Kharis: “Seolah” adalah sentuhan kecil yang bagus sekali. Terima kasih. Kami rasa kami tidak terlalu banyak berubah secara spirit dan pada formula songwriting-nya. Album DKK sebenarnya spektrum soniknya melampaui gitar-vokal, namun opini yang terbentuk di benak publik adalah ini kami sekadar duo gitar dan vokal saja. Ini barangkali disebabkan produksi album DKK yang terlalu sembarangan, jadi banyak elemen-elemen sonik yang tidak menancap ke pendengar, sekalipun elemen itu sebenarnya sudah ada di sana. Contoh, “Si Pelanggan”. Aransemen lagu ini untuk album adalah solo piano dan vokal. “Doa 1” dan “Puan Kelana” adalah contoh yang lain, kedua lagu ini diaransemen secara band, lengkap dengan alat tiup dan lainnya. Pada “Bola Raya”, kami juga sudah menyisipkan foley paku bumi segala. Tapi ya tetap saja, presentasi semacam ini entah mengapa selalu dianggap sepi oleh publik, dan dalam benak kebanyakan orang, kami hanya duet gitar-vokal saja. Saya sering takjub, gemas, namun terlalu malas untuk membantah opini itu. Toh, kalau mau didengerin sendiri, album itu juga masih ada di DSP.

Mohon dijelaskan apa itu Stambul Arkipelagia?

Kharis: Stambul Arkipelagia adalah judul album terbaru kami yang terdiri dari tiga volume yang dirilis secara terpisah sejak tahun lalu. Pada 2 Oktober lalu, kami merilis volume ketiga, yang merupakan volume terakhir dari rangkaian ini. Album ini berisi lagu-lagu dari negeri kepulauan antah-berantah yang bernama Arkipelagia. Masing-masing lagu itu merupakan fragmen cerita, yang diharapkan bisa menuntun para pendengarnya untuk membentuk gambaran tentang negeri antah-berantah itu di dalam benak masing-masing.

Saya baca Silampukau terinspirasi dari Komedie Stamboel, bisa dijelaskankah tentang apa itu Stamboel dan apa alasan Silampukau mengangkat ini?

Kharis: Stambul, atau Komedie Stamboel, adalah teater hibrida pada masa kolonial yang menggabungkan tradisi kesenian Asia Barat dan Eropa, yang menjadi pelopor bagi perkembangan teater berikutnya di Indonesia pada masa mendatang. Kami mengambil spirit dari Komedie Stamboel dan Dardanella untuk menceritakan tragedi dan petaka yang menimpa sebuah negeri bernama Arkipelagia.

Kenapa album ini dibuat hingga bervolume 3? Apakah nanti akan ada volume 4, 5, dan seterusnya?

Kharis: Alasan paling krusial di balik perilisan album ini menjadi beberapa volume sebenarnya adalah modal. Sejak awal proyek, Stambul Arkipelagia memang sudah direncanakan untuk dirilis menjadi beberapa bagian, karena kami sadar untuk mengerjakannya dalam sekali duduk akan perlu modal yang sangat besar yang tidak akan mampu kami tanggung.

Selain itu, karena pengembangan tema juga terus dilakukan selama dua tahun pengerjaan ini, saya yakin hasilnya akan lebih menarik ketimbang jika ceritanya harus ditetapkan dulu dari awal sampai akhir. Untunglah insting saya terbukti benar. Ada banyak sekali happy accident yang terjadi dalam pengerjaan. “Kecelakaan” yang barangkali malah tidak akan terjadi jika dirancang dengan terlalu kaku dari awal.

Apa ada perbedaan antara volume 1, volume 2, dan volume 3?

Kharis: Biar jawabannya tidak terlalu panjang, iya tentu ada. Ada eskalasi dinamika dan groove pada tiap volume.

Berapa lama mengerjakan album ini? Apa ada cerita menarik dalam penggarapannya?

Kharis: Kami memproduksi album ini dari Maret 2025 hingga Agustus 2026. Banyak sekali cerita yang menarik. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan untuk menceritakannya.

Dalam pengerjaan album ini, Silampukau mengajak beberapa kolaborator. Apa alasan mengajak kolaborator ini?

Kharis: Kolaborasi rasanya memang merupakan spirit utama dalam perjalanan musikal kami. Ini sudah kami lakukan semenjak album DKK 2015 lalu. Jadi, jika kolaborasi ini kami lakukan juga pada album terbaru, ini adalah hal yang sangat natural. Sebab, alasan utama dari semua kolaborasi tentunya adalah perluasan sonik.

Melihat kondisi negara yang sedang amburadul ini, apa ada yang ingin disampaikan tentang kondisi ini?

Kharis: Semoga sebagian besar dari kita masih memiliki keinginan, keberanian, dan imajinasi untuk menghentikan ketelanjuran ini.

Apa album ini bagian dari misi Silampukau untuk mencari akar musik Indonesia, sebagaimana disampaikan juga terilhami dari Musik Lenso, Bing Slamet, Benyamin Sueb, Syekh Albar, Waldjinah, musik keroncong dan campursari, hingga Leo Kristi?

Kharis: Rasanya tidak. Justru album ini adalah tawaran baru dari kami untuk musik Indonesia, semacam alternate version, kalau boleh menyebutnya demikian. Tentang raksasa-raksasa musik yang disebut dalam artist statement di website resmi kami, itu adalah bagian dari argumen untuk membuktikan bahwa hibriditas merupakan DNA dari musik di Indonesia.

Apa yang ingin disampaikan Silampukau kepada pendengar setelah mendengarkan keseluruhan album ini?

Kharis: Kami berharap agar Stambul Arkipelagia dapat dinikmati sedalam-dalamnya sebagai sebuah fiksi, sebagai pakansi singkat kala kenyataan demikian mengimpit, sebagai lantunan kala hari-hari terasa kian muskil, kian sulit.

Apa saja yang dikonsumsi Silampukau saat mengerjakan album ini?

Kharis: Seringnya sih oseng-oseng tragedi untuk makan siang, dan gado-gado kabar buruk dari kanal-kanal berita untuk makan malam. Sama seperti kebanyakan orang lain juga, saya yakin.

—

Album Stambul Arkipelagia dirilis dalam bentuk trilogi dalam periode dua tahun. Volume pertama mereka rilis pada 15 Mei 2025, volume kedua pada 5 November 2025, dan seri pamungkasnya pada 2 Oktober 2026. Tiga volume ini diproduksi oleh Moso’iki Records yang merupakan milik Silampukau sendiri. Pada volume pertama dan kedua, Moso’iki Records berkolaborasi dengan Stoopa Music yang merupakan milik Tommy Respati, yang turut membantu mengerjakan album ini. Semua kepenulisan dan komposisi dalam album ini dikerjakan oleh Kharis Junandharu. Sedangkan seluruh lukisan cover dalam trilogi ini dikerjakan oleh Redi Murti.

Stambul Arkipelagia volume pertama dan kedua masing-masing dirilis dengan lima lagu. Sedangkan untuk Stambul Arkipelagia volume ketiga, mereka merilis 10 lagu. Pada seri terakhir ini, Silampukau mengajak beberapa kolaborator untuk mengisi lagu. Cholil Mahmud didapuk mengisi “Lagu Umum”, Natasya Elvira pada lagu “Stambul Rindu”, dan “Pandemonium Ekosida” berkolaborasi dengan Kuntari. Dalam pengerjaan album ini, Silampukau juga dibantu oleh beberapa rekanan untuk mengisi instrumen.

Stambul Arkipelagia juga menjadi penentu babak akhir episode Silampukau sebagai duo kepodang antara Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening. Silampukau memberi jawaban kepada khalayak bahwa saat ini mereka bertransformasi menjadi Orkes Silampukau yang berbentuk grup band. Hal tersebut dikarenakan pada album ini ada beberapa personel baru yang turut ambil bagian dalam eksperimentasi musik Silampukau dan juga turut membantu beberapa pertunjukan ketika manggung. Additional player Silampukau, Rhesa Filbert, kini telah resmi bergabung menjadi member. Prasimansyah bergabung sebagai penggebuk drum, dan Sam Ariefin “Mr. Piano Man” menjadi kibordis. 

Dalam catatannya, Kharis menjawab bahwa membuat sebuah grup orkes adalah impian lamanya. Mengubah format duo menjadi grup juga menjawab pertanyaan karena di setiap kali manggung, Silampukau terlihat jarang sekali tampil berdua.

Foto artikel oleh Iqbal Tawakal.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Eksklusif Silampukau: Kami Berharap Stambul Arkipelagia Bisa Ditafsirkan sebagai Fiksi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us