1. News
  2. Berita
  3. Lahan Gambut Tak Selalu Identik dengan Karhutla, Ini Sederet Potensinya untuk Karbon dan Kesehatan

Lahan Gambut Tak Selalu Identik dengan Karhutla, Ini Sederet Potensinya untuk Karbon dan Kesehatan

lahan-gambut-tak-selalu-identik-dengan-karhutla,-ini-sederet-potensinya-untuk-karbon-dan-kesehatan
Lahan Gambut Tak Selalu Identik dengan Karhutla, Ini Sederet Potensinya untuk Karbon dan Kesehatan

7 Oktober 2026 10.19 WIB • 2 menit

Lahan Gambut Tak Selalu Identik dengan Karhutla, Ini Sederet Potensinya untuk Karbon dan Kesehatan

images info

Lahan gambut selama ini kerap dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika kawasan tersebut mengalami pengeringan. Namun, ekosistem yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia itu memiliki fungsi ekologis dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan jika dikelola dengan tepat.

Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Dony Rachmanadi, dalam Media Lounge Discussions: Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya, dikutip dari laman BRIN.

Menurut Dony, gambut tidak semestinya hanya dipandang dari persoalan kebakaran. “Enggak ada sesuatu itu enggak ada manfaatnya, dan itu semua adalah berkah,” ungkapnya.

Menyimpan Karbon

Salah satu potensi penting gambut berkaitan dengan kemampuannya menyimpan karbon. Ekosistem gambut dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga memiliki peran dalam upaya pengendalian emisi dan pengembangan mekanisme perdagangan karbon.

Dony mengatakan mekanisme perdagangan karbon mulai dikembangkan di sejumlah wilayah yang memiliki ekosistem gambut, termasuk Kalimantan Tengah dan Sumatera.

“Salah satu contohnya sekarang ada mekanisme perdagangan karbon. Di Kalteng ada, di Sumatera juga ada,” ujarnya.

Potensi tersebut berkaitan dengan karakteristik gambut yang terbentuk dari akumulasi bahan organik yang belum terurai sempurna. Dalam kondisi alami, lapisan gambut juga memiliki kemampuan menyimpan air sehingga berfungsi sebagai bagian dari pengatur tata air ekosistem.

Karena itu, menjaga kondisi gambut tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga mempertahankan fungsi penyimpanan karbon yang dimilikinya.

Berpotensi untuk Bahan Obat

Selain karbon, keanekaragaman hayati di kawasan gambut juga berpotensi dimanfaatkan untuk pengembangan produk kesehatan. Dony mencontohkan tanaman akar kuning yang tumbuh di ekosistem gambut.

Tanaman tersebut diketahui memiliki kandungan zat aktif yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat, salah satunya untuk pengobatan hepatitis. Menurut Dony, penelitian lebih lanjut terhadap kandungan tanaman gambut dapat membuka peluang pemanfaatan yang bernilai ekonomi.

“Kalau kita bisa mengelola satu aja dari zat aktif, itu kan harganya mahal sekali. Nah itu bisa bermanfaat baik untuk semua, apalagi bidang kesehatan. Banyak obat-obat yang didapatkan dari situ,” tuturnya.

Potensi tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan gambut tidak hanya berkaitan dengan komoditas lahan, tetapi juga dapat berasal dari keanekaragaman hayati yang ada di dalam ekosistemnya.

Pengeringan Membuat Gambut Mudah Terbakar

Di sisi lain, pemanfaatan gambut harus disertai dengan pengelolaan ekosistem yang baik. Salah satu persoalan utama yang membuat gambut mudah terbakar adalah perubahan kondisi hidrologis akibat pengeringan.

Dony menjelaskan gambut secara alami memiliki kandungan air yang tinggi. Ketika kawasan tersebut mengalami pengeringan, bahan organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar.

“Mudah terbakar karena kondisi hidrologinya yang berubah,” ujar Dony.

Kebakaran gambut juga memiliki karakteristik berbeda karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi yang disebut subsurface smoldering tersebut membuat api sulit diketahui dan dipadamkan sepenuhnya.

“Banyak air yang disemprotkan di situ, besok balik lagi, dia nyala lagi. Begitu dapat oksigen, dia nyala lagi,” tutur Dony.

Menurutnya, kondisi serupa pernah terjadi dalam kebakaran besar di Kalimantan Timur pada 1997. Saat itu, kebakaran berlangsung dalam skala luas dan berkaitan dengan kondisi kering yang dipengaruhi fenomena El Niño.

BRIN terus melakukan penelitian mengenai ekosistem gambut, termasuk untuk mendukung pencegahan dan pengendalian kebakaran. Bagi Dony, perlindungan gambut dan pemanfaatan potensinya perlu berjalan bersamaan.

“Mudah-mudahan sejalan itu kita juga bisa mengendalikan bencana yang terjadi,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Lahan Gambut Tak Selalu Identik dengan Karhutla, Ini Sederet Potensinya untuk Karbon dan Kesehatan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us