tirto.id – Tuberkulosis (TB) masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan angka yang disampaikan dokter spesialis paru, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), jumlah kasus baru TB di Indonesia mencapai sekitar 1,06 juta kasus per tahun.
Angka tersebut setara dengan sekitar 10 persen dari kasus baru TB di dunia dan menempatkan Indonesia di urutan kedua berdasarkan jumlah kasus.
Salah satu persoalan dalam penanganan TB adalah tidak semua kasus berhasil ditemukan. Orang yang belum terdiagnosis tidak mengetahui dirinya sakit, sehingga tidak mendapatkan pengobatan dan berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.
Selain keterbatasan penemuan kasus, adanya stigma dan mitos mengenai TB di masyarakat juga menjadi hambatan. Sebagian pasien khawatir dikucilkan keluarga, diberhentikan dari pekerjaan, atau dikeluarkan dari lingkungan sekolah. Padahal, TB merupakan penyakit menular yang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan tuntas.
Erlina Burhan merupakan dokter spesialis paru yang berpraktik di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur. Ia menempuh pendidikan kedokteran umum di Universitas Andalas, Padang, pada 1989–1990, kemudian meraih gelar Master of Science (M.Sc.) dari Heidelberg University, Jerman, pada 1995.
Erlina melanjutkan pendidikan spesialis paru di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan menyelesaikannya pada 2004. Ia kemudian memperoleh gelar konsultan infeksi paru pada 2010 dan menyelesaikan pendidikan doktor ilmu kedokteran di UI pada 2012.
Pada awal 2024, Erlina dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di UI.
Dalam praktiknya, Erlina menangani pasien TB setiap hari, termasuk pasien rujukan dengan komplikasi. Ia juga aktif memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai gejala, penularan, dan pengobatan TB.
Dalam wawancara khusus bersama Tirto, ia menjelaskan gejala TB, proses diagnosis dan pengobatan, risiko penularan, serta stigma dan mitos yang masih berkembang di masyarakat.
Erlina juga menjelaskan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan selama minimal enam bulan untuk kasus TB yang menggunakan regimen standar, serta upaya pemerintah menemukan kasus melalui program Active Case Finding (ACF). Berikut wawancara lengkap Tirto dengan Dr. Erlina Burhan.
Mengapa kasus Tuberkulosis masih tinggi di Indonesia?
Di tingkat global, kasus baru per tahunnya sekitar 10,5 sampai 10,6 juta. Nah, Indonesia ada 1 jutaan, 1 juta 60 ribuan kasus. Artinya, 10 persen kasus TB di dunia ada di Indonesia. Jadi, ini membuat kita ranking nomor dua di dunia dari sisi jumlah kasus.
Pertama, karena penyakit TB ini penyakit menular. Selain itu, dari laporan-laporan selama ini, Indonesia tidak pernah menemukan semua kasus. Paling tinggi pernah dicapai sekitar tahun 2024. Itu hampir 80 persen kasusnya ditemukan. Tapi selalu ada gap, selalu ada kelompok yang tidak ditemukan, artinya tidak terdiagnosis.
Kalau tidak terdiagnosis, dia tidak tahu kalau sakit TB. Jadi, tidak ada pengobatan dan tidak ada juga upaya pencegahan. Karena penyakit ini menular lewat batuk, seharusnya pasien menggunakan masker. Namun, mereka tidak tahu karena tidak berobat atau tidak memeriksakan diri.
Padahal, sekarang pemeriksaan sudah sangat luas dan bisa dilakukan di mana-mana, mulai dari rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, klinik, hingga praktik dokter spesialis dan dokter umum.
Apa gejala Tuberkulosis yang perlu diwaspadai masyarakat?
Batuk itu tidak mesti TB. Orang yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) juga kadang-kadang batuk. Apalagi kemarin ada abu vulkanik, orang juga batuk-batuk. Namun, khusus untuk TB, batuknya biasanya lama. Kalau sudah berobat dan diberikan antibiotik, tetapi tidak sembuh, itu perlu diperhatikan. Lama dalam hal ini biasanya lebih dari dua minggu. Bahkan, ada orang yang bertahun-tahun batuk, tetapi tidak merasa itu sesuatu yang perlu diperiksa.
Ada juga beberapa gejala lain yang mungkin terlupakan. Pasien TB biasanya sering merasa demam, tetapi demamnya hilang timbul dan membaik sendiri. Nafsu makannya juga turun sehingga berat badannya turun. Bisa juga disertai keringat malam.
Jadi, kalau Anda batuk, mengalami demam, nafsu makan menurun, berat badan turun, dan mungkin juga berkeringat pada malam hari, sebaiknya mencari pemeriksaan dan pengobatan. Itu gejala-gejala yang dirasakan pasien tuberkulosis.
Bagaimana proses diagnosis Tuberkulosis di fasilitas kesehatan?
Gejala-gejala yang saya sebutkan tadi, seperti batuk lama berulang yang tidak sembuh-sembuh, demam hilang timbul tetapi tidak terlalu tinggi, berat badan turun karena nafsu makan turun, dan kadang-kadang berkeringat pada malam hari, itu harus diperiksakan.
Biasanya, kalau dahaknya ada, langsung diperiksa dahaknya untuk memastikan bahwa memang ada kuman TB di dalam dahak tersebut.
Kadang-kadang beberapa fasilitas juga menyediakan foto rontgen. Dari foto rontgen, kita bisa melihat seberapa luas penyakitnya. Apakah hanya sedikit di bagian atas paru atau mungkin sudah ada banyak lubang di mana-mana. Jadi, tingkat keparahan penyakit juga bisa dilihat dari foto rontgen.
Apakah pasien Tuberkulosis harus beristirahat total selama enam bulan?
Tidak selalu harus seperti itu. Ada stigma bahwa kalau ketahuan TB, seseorang nanti diberhentikan dari pekerjaan. Kalau anak-anak sekolah, ada yang khawatir diperiksa karena takut ketahuan dan disuruh istirahat di rumah.
Stigma dan salah pengertian seperti ini membuat orang keberatan untuk memeriksakan diri. Bahkan, ketika sudah diberikan bukti positif TB, ada yang masih menyangkal. Mereka mengatakan tidak mungkin terkena TB karena tidak punya keturunan TB.
Ini juga salah. TB bukan penyakit turunan, melainkan penyakit menular. Tidak harus orang tua, kakek, nenek, atau anggota keluarga lain terkena TB lalu penyakitnya diturunkan.
Kadang-kadang pasien yang menyangkal diagnosis mencari pendapat kedua dari dokter lain. Ada juga yang akhirnya menerima setelah beberapa dokter menyatakan diagnosis yang sama, lalu mulai minum obat.
Sebagai dokter yang sering bertemu pasien TB, kami juga harus sabar menerangkan dan membuat pasien percaya dengan penanganan yang dilakukan. Stigma membuat orang tidak mau terbuka menyampaikan bahwa dirinya terkena TB.
Berbeda dengan ketika seseorang mengatakan sakit diabetes atau sakit jantung. Sepertinya stigma itu tidak terjadi dengan cara yang sama pada TB, padahal TB adalah penyakit yang bisa disembuhkan dan dicegah.
Bagaimana pengobatan Tuberkulosis dan mengapa pasien harus minum obat sampai tuntas?
Kalau memang sudah didiagnosis TB, pengobatannya menggunakan obat yang disediakan dalam dua bentuk. Pertama, kombinasi dosis tetap, yaitu dalam satu tablet ada kombinasi empat obat atau dua obat. Kedua, obat lepasan, artinya satu tablet berisi satu jenis obat.
Obat TB itu ada empat, yaitu rifampicin, isoniazid, ethambutol, dan pyrazinamid. Sekarang ada juga satu kapsul yang berisi empat obat sekaligus.
Biasanya, kombinasi diberikan kepada pasien yang tidak mau minum banyak obat dan kita pastikan pasien tersebut patuh. Kalau tidak patuh, bukannya sembuh, malah bisa menjadi resisten.
Tujuan obat adalah membunuh kuman. Kalau seharusnya minum empat tablet setiap hari, tetapi hanya minum dua tablet atau hanya sekali seminggu, obatnya tidak bekerja sebagaimana mestinya. Kumannya tidak mati, tetapi karena sudah terpapar obat, kuman bisa menjadi resisten akibat mutasi.
Pengobatan standar berlangsung enam bulan. Pada dua bulan pertama, pasien minum empat macam obat. Empat bulan berikutnya hanya dua macam obat. Kita menyebutnya fase awal dan fase lanjutan.
Kadang-kadang, setelah fase awal, pasien merasa sudah sembuh lalu tidak melanjutkan pengobatan. Ini berbahaya karena penyakit bisa kambuh atau bahkan menjadi TB resisten obat.
Apakah pengobatan Tuberkulosis gratis? Bagaimana jika pasien mengalami efek samping obat?
Sekarang, kalau berobat di fasilitas pemerintah yang memiliki program TB, obatnya gratis. Namun, ada juga orang-orang tertentu yang tidak bisa diberikan obat kombinasi karena mengalami efek samping.
Sebagian besar pasien tidak mengalami masalah dengan obat TB. Namun, ada sebagian kecil yang mengalami efek samping, misalnya mual dan muntah, mata menjadi kuning sehingga lemas, atau reaksi alergi berupa gatal-gatal dan kemerahan.
Jangan langsung menghentikan pengobatan. Datang ke dokter dan ceritakan masalahnya. Dokter akan menyesuaikan pengobatan. Obat kombinasi yang sebelumnya diberikan bisa dihentikan sementara dan diganti dengan obat satu per satu untuk mengetahui obat mana yang menjadi penyebab efek samping atau alergi.
Bagaimana penularan Tuberkulosis dan apakah semua jenisnya menular?
Yang menular itu adalah TB paru. Di luar itu biasanya tidak menular. TB otak, TB tulang, dan TB usus tidak menular seperti TB paru. TB paru menular karena kumannya bisa keluar saat batuk. Di dalam droplet yang keluar ketika batuk terdapat kuman. Ukurannya sangat kecil, tidak terlihat, dan bisa melayang-layang di udara.
Karena itu, penggunaan masker selalu kami anjurkan kepada pasien TB, terutama ketika masih berpotensi menularkan. Orang di sekitarnya tidak tahu apakah udara yang dihirup mengandung kuman TB atau tidak karena kumannya tidak terlihat.
Biasanya, setelah bulan kedua pengobatan, pasien diperiksa dahaknya. Jika hasilnya negatif, pasien biasanya sudah tidak menular.
Bagaimana cara melindungi diri dari penularan Tuberkulosis dan Apakah orang yang menghirup kuman pasti sakit?
Saya kira masker sudah cukup untuk membantu melindungi diri, sama juga dengan menjaga imunitas. Kuman TB ada di udara. Kita tidak bisa melihatnya dan tidak tahu, misalnya ketika pergi ke mal, apakah ada pasien TB yang sedang batuk. Namun, walaupun kita menghirup kuman TB, tidak semua orang akan menjadi sakit.
Kalau sistem imunnya bagus, kuman yang masuk akan ditangani oleh sistem imun. Bahkan, bisa tidak ada kuman yang tersisa di dalam tubuh.
Ada juga kondisi ketika sistem imun tidak terlalu bagus, tetapi masih cukup untuk mengendalikan kuman. Jadi, kumannya tetap hidup di dalam tubuh, tetapi terkendali oleh sistem imun sehingga tidak menyebabkan sakit.
Kalau seseorang memiliki kuman TB di dalam tubuh tetapi belum sakit, dokter akan menilai apakah orang tersebut berisiko mengalami TB. Jika berisiko, biasanya diberikan terapi pencegahan TB atau TPT.
Terapi pencegahan TB diberikan kepada orang yang memiliki kuman TB di dalam tubuh agar kumannya mati dan tidak berkembang menjadi penyakit.
Apa fungsi vaksin BCG dalam pencegahan Tuberkulosis?
Vaksin TB yang sudah ada saat ini adalah BCG dan diberikan kepada bayi. Tujuannya agar bayi atau anak-anak tidak sakit TB. Kalaupun sakit, TB-nya tidak berat, bukan TB milier atau TB otak seperti meningitis.
Fakta lainnya, berdasarkan penelitian, perlindungan BCG tidak lebih dari 10 tahun. Karena itu, para ilmuwan, akademisi, dan mungkin industri berusaha mengembangkan vaksin untuk anak-anak yang lebih besar, remaja, hingga orang dewasa.
Sekarang memang sedang ada penelitian vaksin TB. Mudah-mudahan hasilnya bagus sehingga semakin banyak kelompok masyarakat yang bisa terlindungi dari penyakit TB.
Di Indonesia, cakupan imunisasi BCG cukup bagus, di atas 90 persen. Namun, kasus baru TB tetap lebih dari satu juta per tahun. Dari angka tersebut, sekitar 200 ribu sampai 300 ribu kasus merupakan anak-anak.
Jadi, pencegahan tidak hanya melalui vaksin. Kita juga perlu menjaga sistem imun dan melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala yang mengarah pada TB.
Apa yang paling menghambat pemberantasan Tuberkulosis di Indonesia?
Menurut saya, yang paling menghambat adalah stigma. Dari sisi masyarakat, banyak sekali mitos yang beredar dan tidak benar, terutama tentang penularan.
Bahkan, dalam satu keluarga, anggota keluarga yang terkena TB bisa mengalami stigma. Gelas dan piringnya dipisahkan. Ada pasien yang melapor kepada saya, “Dok, saya kok dikucilkan di rumah sendiri. Piring gelas dipisah.”
Padahal, TB tidak menular lewat piring atau gelas. Kuman TB ada di udara, bukan di piring atau gelas. Jadi, pasien tidak perlu dikucilkan.
Kalau ada anggota keluarga yang sakit TB, kita berikan semangat agar sembuh, diingatkan minum obat, dan makan teratur.
Stigma juga membuat pasien bersembunyi dan tidak mau mengakui kondisinya. Kadang-kadang, ketika ditemukan kelainan paru yang mengarah pada TB saat pemeriksaan kesehatan, orangnya sulit ditemukan ketika ditelusuri.
TB bukan sesuatu yang harus dihindari, bukan penyakit turunan, dan bukan guna-guna. Batuk darah, misalnya, kadang dianggap akibat santet, padahal bisa terjadi karena TB. Penyakit ini bisa sembuh.
Selain stigma, tidak semua kasus berhasil ditemukan. Indonesia terdiri atas sekitar 17 ribu pulau. Ada wilayah dengan fasilitas dan infrastruktur yang sangat baik, tetapi ada pula daerah yang menghadapi tantangan dalam hal fasilitas kesehatan, penemuan kasus, dan pengobatan.
Karena itu, perlu kerja sama lintas sektor, lembaga, dan kementerian agar persoalan nonmedis juga bisa diperbaiki. Kementerian Kesehatan memang berperan penting, tetapi kementerian lain juga perlu membantu.
Komdigi, misalnya, bisa ikut menyebarluaskan informasi tentang TB kepada masyarakat, termasuk gejala-gejalanya, bahwa penyakit ini bisa disembuhkan, dan anjuran untuk segera datang ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala.
Apa saja mitos tentang Tuberkulosis yang perlu diluruskan?
Pertama, TB dianggap penyakit keturunan. Itu salah karena TB merupakan penyakit menular. Kedua, ada anggapan TB tidak bisa disembuhkan. Faktanya, TB bisa sembuh jika pengobatannya tuntas, konsisten, dan pasien disiplin minum obat.
Ketiga, TB dianggap penyakit guna-guna atau santet. Itu juga tidak benar. TB juga tidak selalu disertai batuk darah. Batuk darah bisa terjadi ketika pembuluh darah di paru pecah. Kalau pembuluh darahnya kecil, biasanya hanya terlihat bercak darah. Namun, jika darah yang keluar banyak, bisa jadi pembuluh darah yang lebih besar pecah.
Pada pasien dengan penyakit yang cukup berat, paru bisa memiliki rongga atau lubang. Di sekitar rongga tersebut terdapat pembuluh darah yang bisa pecah ketika pasien batuk kuat. Mitos lainnya adalah susu tertentu bisa membersihkan paru-paru. Tidak ada itu. Susu masuknya ke lambung, bukan ke paru-paru.
Apa yang harus dilakukan keluarga atau caregiver ketika merawat pasien Tuberkulosis?
Konsepnya adalah minum obat sesuai dosis, sesuai waktu, dan sesuai durasi, minimal enam bulan untuk pengobatan standar yang tadi kita bicarakan.
Kalau Anda merawat pasien TB di rumah, pastikan dia minum obat sesuai dosis dan jumlahnya, serta tepat durasinya. Ingatkan dan berikan semangat karena banyak pasien TB mengalami depresi atau merasa berat ketika penyakitnya tidak kunjung sembuh. Hal itu bisa membuat proses penyembuhannya menjadi lebih lama.
Untuk kasus tertentu yang disertai komplikasi, pengobatan bahkan bisa lebih dari enam bulan. Kalau sudah ada komplikasi, pasien bisa mengalami stres. Misalnya, ada cairan di selaput paru yang membuat pasien sesak.
Jadi, tugas keluarga adalah memberikan semangat, bukan mengucilkan, serta memastikan pasien menjalani pengobatan sesuai anjuran.
Petugas kesehatan juga harus memberikan edukasi yang bisa dimengerti pasien. Kadang-kadang pasien mengatakan sudah mengerti, tetapi belum tentu benar-benar memahami. Karena itu, kami bisa bertanya kembali, “Coba diulangi apa yang saya katakan tadi tentang obat ini.

Petugas kesehatan perlu memastikan pasien memahami diagnosis, pengobatan, dan efek samping yang mungkin dialami. Sebagian besar pasien memang tidak mengalami masalah, tetapi sebagian kecil bisa mengalami efek samping. Jika muncul gatal-gatal setelah minum obat, pasien harus melapor dan tidak berhenti minum obat sendiri.
Bagaimana upaya pemerintah untuk menemukan kasus Tuberkulosis?
Saya cukup gembira dengan perubahan konsep yang dilakukan pemerintah. Selama ini konsepnya pasif, menunggu orang bergejala atau batuk darah datang ke fasilitas kesehatan.
Kalau ingin berhasil menjaring, melakukan skrining, mendiagnosis, dan mengobati sampai sembuh, harus ada tindakan yang luar biasa. Itu sudah dilakukan pemerintah Indonesia dalam dua sampai tiga tahun belakangan melalui Active Case Finding (ACF).
Petugas kesehatan datang ke komunitas atau masyarakat untuk melakukan skrining. Mereka juga membawa alat foto toraks, bahkan sekarang sudah ada yang menggunakan kecerdasan buatan atau AI untuk membantu proses skrining.
Jika hasil foto rontgen menunjukkan sesuatu yang mengarah pada TB dan orang tersebut memiliki dahak, pemeriksaan dahak bisa segera dilakukan.
Menurut saya, ACF perlu terus dijalankan di banyak tempat. Kalau tidak salah, pelaksanaannya masih terbatas di beberapa lokasi atau wilayah.
Dalam program tersebut, jika ditemukan orang dengan hasil pemeriksaan dahak positif, petugas juga bisa menelusuri kontak eratnya. Orang-orang yang memiliki kontak erat kemudian dapat menjalani skrining.
Apakah pemeriksaan Tuberkulosis bisa diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis?
Saat Cek Kesehatan Gratis, masyarakat bisa menjalani pemeriksaan darah, tanda-tanda vital, dan pemeriksaan fisik. Saya kira bisa juga ditanyakan gejala-gejala TB.
Kalau dari wawancara atau pemeriksaan awal petugas ditemukan gejala yang mengarah pada TB, orang tersebut bisa langsung dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jadi, program ini bisa diintegrasikan dengan upaya penemuan kasus TB, dengan tetap memperhatikan pelaksanaan dan kualitas pemeriksaannya.
Apa pesan Anda bagi anak muda yang memiliki anggota keluarga dengan Tuberkulosis?
Mari kita bantu saudara-saudara kita. Kalau ada anggota keluarga yang terdiagnosis TB, jangan panik dan jangan stres. Justru jaga dan berikan motivasi agar dia minum obat sampai selesai.
TB bisa sembuh. Kalau anggota keluarga tersebut minum obat, itu artinya Anda sudah mengurangi risiko orang-orang di sekelilingnya tertular, termasuk diri Anda sendiri.
Dengan membantu pasien menjalani pengobatan sampai sembuh, kita juga membantu mengurangi penularan dan melindungi diri sendiri serta keluarga.
tirto.id – News Plus
Reporter: Hanang Septioyudho
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama