Veda Ega Pratama pembalap asal Gunungkidul | Instagram @veda_54
“Kawah Candradimuka” rasanya cocok disematkan kepada Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bukan tanpa alasan, daerah ini telah melahirkan sejumlah pembalap motor Indonesia yang mampu menorehkan prestasi di tingkat nasional hingga kancah internasional.
Ada sang legenda asal Yogyakarta, Irwan Ardiansyah, yang bersinar di lintasan dan mengukir sejarah lewat tujuh gelar juara nasional motocross secara 7 tahun berturut-turut pada 1996–2002.
Dari Sleman, ada Doni Tata Pradita, seorang pionir yang membuka jalan bagi para pembalap muda tanah air untuk bersaing di level internasional. Selain itu, ia juga jadi pembalap pertama dalam sejarah Indonesia yang berhasil menembus dan mencetak poin di ajang Kejuaraan Dunia Grand Prix (MotoGP) pada 2008.
Ada juga Aldi Satya Mahendra asal Bantul, seorang pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium pada ajang World Supersport di Australia. Hingga akhirnya ia kembali membuktikan kelasnya dengan merebut podium ketiga di Misano, Italia, pada Juni 2026.
Tentunya masih ada banyak lagi deretan pembalap asal Yogyakarta yang berhasil mencuri perhatian di lintasan.
Lalu, apa yang membuat kota Pelajar ini terus melahirkan bibit pembalap yang berprestasi?
Dukungan Keluarga Jadi Bekal Pembalap Muda
Salah satu faktornya adalah dipengaruhi oleh kuatnya transmisi keluarga balap yang mewariskan pengalaman, keterampilan, hingga mental bertanding secara turun tumurun. Hal ini jadi membentuk semacam dinasti atlet yang menguntungkan bagi para calon pembalap.
Sebab, keluarga akan menjadi tempat pertama bagi mereka dalam mengenal dunia racing. Sehingga sejak usia dini, sudah terbiasa dengan suasana kompetisi, latihan disiplin, starategi balap, hingga teknik berkendara yang membuat mereka cepat beradaptasi.
Hal ini terlihat dari perjalanan Veda Ega Pratama, pembalap muda asal Gunungkidul, yang mulai mengenal balap motor berkat sang ayah. Yaitu Sudarmano, seorang mantan pembalap nasional yang namanya tetap dihormati hingga saat ini.
Sudarmono terus memberikan bimbingan dan pengawasan kepada Veda sejak masih kecil. Sehingga hal tersebut dapat membentuk fondasi yang kuat sebagai seorang pembalap serta kemampuannya di lintasan menjadi lebih unggul dibanding pembalap seusianya.
Melansir laman resmi MotoGP, Veda mulai mengikuti balapan pertamanya saat berusia enam tahun dengan modal berlatih di area parkir Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul yang didampingi oleh sang ayah.
Berbekal pengalaman dan pembinaan sejak kecil, Veda terus berkembang hingga menjuarai Asia Talent Cup pada 2023. Dan kemudian ia berhasil menjadi runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025 sebelum akhirnya mendapat kesempatan menjalani satu musim penuh di kelas Moto3 pada 2026.
Kekompakkan Antarpembalap dan Sekolah Pembalap Jadi Kekuatan
Tetapi dibalik itu semua, yang menjadi faktor utamanya adalah antarpembalap dan sekolah pembalap yang selalu jaga kekompakkan dan latihan bersama sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Fenomena tersebut sudah menjadi budaya balap yang kuat di Yogyakarta dan pembinaannya berjalan dengan baik.
“Karena kalau pembalap asli Jogja kompak, kalau mulai latihan sehari-harinya di Jogja. Selalu bersama, tidak ada kompetitor atau gap antara rival,” ujar Doni Tata Pradita, sebagaimana dikutip dari otorider.
Kekompakan tersebut juga terlihat dari kebiasaan para pembalap yang rutin bertemu dan menjalani latihan fisik maupun berkendara bersama. Mereka biasanya berlatih di Stadion Mandala Krida, Sirkuit Pasar Sapi, hingga sirkuit Boyolali.
Jadi, para pembalap tidak hanya mengasah kemampuan di lintasan, tetapi juga menjaga hubungan baik dan kebersamaan di antara mereka.
Selain itu, di Yogyakarta juga banyak sekolah balap yang aktif membina calon pembalap. Jadi selain memiliki hubungan yang baik dengan sesama pembalap, mereka juga tetap akur dengan sejumlah pembalap yang berbeda sekolah.
Kedekatan ini yang membuat proses pembinaan pembalap di Yogyakarta berjalan saling mendukung, tanpa harus menjadikan persaingan sebagai penghalang untuk berkembang bersama.
“Di Jogja ada beberapa sekolah balap, Sudarmono, D45, Octvz, tempat saya sendiri, dan kita berteman baik, berlatih bersama,” kata Doni.