
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggalkan pekerjaan panjang setelah api berhasil dipadamkan. Vegetasi yang rusak membuat pemulihan ekosistem tidak bisa dilakukan dengan menunggu hutan tumbuh kembali secara alami. Pada lahan gambut yang telah dikeringkan dan berulang kali terbakar, tantangannya bahkan lebih besar karena kondisi lahan dapat menghambat pertumbuhan bibit pohon.
Penanaman kembali atau reforestasi menjadi salah satu upaya pemulihan. Namun, jenis pohon yang ditanam tidak boleh dipilih secara sembarangan. Tipe ekosistem perlu menjadi pertimbangan agar tanaman dapat bertahan dan mendukung pemulihan hutan.
Menurut data yang dihimpun Good News From Indonesia (GNFI) dari berbagai jurnal ilmiah, sejumlah jenis pohon memiliki potensi untuk membantu rehabilitasi lahan bekas karhutla. Beberapa di antaranya merupakan pohon yang tumbuh relatif cepat, sementara jenis lainnya memiliki peran penting dalam pemulihan hutan rawa gambut.
Pohon Cepat Tumbuh untuk Memulihkan Vegetasi
Jabon (Neolamarckia cadamba) menjadi salah satu pilihan untuk rehabilitasi lahan karena pertumbuhannya relatif cepat. Penelitian Fathia, Hilwan, dan Wibowo yang diterbitkan dalam jurnal Media Konservasi pada 2019 menguji jabon bersama sengon (Falcataria moluccana), akasia (Acacia mangium), dan Campnosperma auriculata di lahan pascakebakaran di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Penelitian tersebut menemukan bahwa perlakuan pemupukan berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman.
Sengon juga berpotensi membantu pemulihan lahan melalui pertumbuhannya yang cepat. Sementara itu, akasia mampu tumbuh pada tanah dengan kesuburan rendah. Meski demikian, penggunaan akasia perlu mempertimbangkan karakter ekosistem setempat karena spesies ini dapat menyebar dan mendominasi vegetasi. Untuk restorasi hutan alami, pemilihan jenis lokal tetap perlu diutamakan.
Ekaliptus (Eucalyptus spp.) juga dikenal sebagai kelompok pohon yang digunakan dalam kehutanan. Namun, kecocokannya untuk lahan bekas karhutla bergantung pada spesies dan kondisi lokasi. Penanamannya tidak bisa digeneralisasi untuk semua tipe hutan, terutama jika tujuan pemulihan adalah mengembalikan komposisi ekosistem asli.
Nyawai (Ficus variegata) memiliki fungsi ekologis yang berbeda. Buahnya dapat menjadi sumber pakan satwa, sehingga keberadaannya berpotensi mendukung hubungan antara vegetasi dan satwa liar. Adapun tisuk (Hibiscus macrophyllus) dapat dipertimbangkan berdasarkan karakter pertumbuhan dan kemampuannya membentuk tutupan vegetasi.
Pinus Sumatera (Pinus merkusii) juga memiliki manfaat dalam kondisi habitat yang sesuai. Sistem perakarannya dapat membantu menahan tanah, tetapi pohon ini bukan pilihan universal untuk seluruh lahan bekas kebakaran. Jenis pohon tetap harus disesuaikan dengan vegetasi alami dan kondisi lingkungan setempat.
Balangeran dan Jenis Lokal untuk Lahan Gambut

Pada lahan gambut yang berulang kali terbakar, pemilihan spesies lokal menjadi sangat penting. Penelitian Lampela dan rekan-rekan yang terbit dalam jurnal Forest Ecology and Management pada 2018 menguji lima jenis pohon asli di lahan bekas hutan rawa gambut yang telah dibuka, dikeringkan, dan terbakar berulang kali di Kalampangan, Kalimantan Tengah.
Balangeran (Shorea balangeran) menunjukkan hasil terbaik dalam pengamatan selama 1,5 tahun. Tinggi bibitnya meningkat rata-rata 139 persen, dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 89 persen. Temuan tersebut menunjukkan potensinya untuk rehabilitasi gambut terdegradasi.
Jelutung rawa (Dyera polyphylla) juga merupakan pohon asli ekosistem gambut. Getahnya berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, meskipun hasil penelitian yang sama menunjukkan tingkat kelangsungan hidup bibitnya hanya 29 persen selama periode pengamatan. Artinya, penanaman jelutung memerlukan perhatian terhadap teknik pembibitan dan kondisi lokasi.
Pasang (Lithocarpus dasystachyus) turut menunjukkan potensi. Penelitian Lampela dan rekan-rekan yang terbit pada 2017 mencatat pertumbuhan tinggi bibitnya mencapai 220 persen dari tinggi awal setelah sekitar 1,5 tahun di salah satu lokasi penelitian di Kalimantan Tengah.
Memulihkan Hutan Tidak Cukup dengan Menanam Pohon
Sebetulnya tidak ada satu jenis pohon yang otomatis cocok untuk seluruh lahan bekas karhutla. Keberhasilan rehabilitasi dipengaruhi oleh kondisi tanah, ketersediaan air, pemeliharaan bibit, dan risiko akan kebakaran berulang.
Pada lahan gambut, pemulihan tata air merupakan hal paling penting untuk menjaga kelembaban gambut dan mengurangi risiko kebakaran. Penanaman juga perlu disertai pemantauan pertumbuhan tanaman, perlindungan bibit, dan mitigasi munculnya api agar upaya pemulihan tidak kembali rusak.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor