Menganalogikan sebuah oli mesin, bak “darah” bagi kendaraan. Tugasnya bukan sekadar melumasi komponen yang bergesekan. Oli juga berfungsi sebagai pendingin, pembersih, peredam getaran, dan pencegah karat.
Namun, apa yang terjadi jika oli di dalam mesin berubah menjadi berbusa? Di balik gelembung-gelembung udara yang tampak sepele, busa menyimpan ancaman serius yang dapat merusak komponen internal mesin dalam waktu singkat. Pertanyaannya, mengapa Oli Tidak Boleh Mudah Berbusa?
Mesin modern bekerja pada kecepatan tinggi dengan suhu dan tekanan ekstrem. Komponen seperti poros engkol (crankshaft) berputar ribuan kali per menit, memicu agitasi (pencampuran mekanis) yang tinggi antara udara dan oli. Jika oli tidak memiliki ketahanan yang baik, udara akan terjebak dan membentuk busa. Yuk, intip alasannya.
Penurunan Daya Lumas
Fungsi utama oli adalah menciptakan lapisan pelindung tipis (oil film) di antara dua permukaan logam yang bergesekan agar tidak bersentuhan langsung. Busa pada dasarnya adalah kantung udara yang dikelilingi oleh lapisan tipis cairan. Udara tidak memiliki daya lumasi. Ketika pompa oli mengisap busa alih-alih cairan oli murni, lapisan pelindung pada komponen penting menjadi sangat tipis atau bahkan terputus. Hal ini memicu gesekan kering, keausan dini, hingga risiko mesin jebol.
Penurunan Kapasitas Pendinginan
Oli berperan penting dalam menyerap panas dari komponen internal mesin yang paling panas dan membawanya ke karter untuk didinginkan. Udara adalah konduktor panas yang buruk dibandingkan dengan cairan oli. Busa di dalam sistem sirkulasi oli tidak dapat menyerap dan mentransfer panas secara efisien. Akibatnya, suhu operasional mesin meningkat drastis, yang berujung pada overheating dan penurunan viskositas oli lebih cepat.
Penurunan Tekanan Oli
Pompa oli dirancang untuk memompa cairan yang bersifat incompressible atau tidak dapat dimampatkan, bukan udara yang bersifat compressible. Jika oli yang masuk ke pompa penuh dengan udara, pompa oli akan mengalami kavitasi dan kesulitan membangun tekanan yang stabil. Indikator tekanan oli di dasbor bisa menyala, dan komponen di bagian atas mesin seperti valvetrain tidak mendapatkan pasokan oli yang memadai karena tekanan sistem yang tidak stabil.
Mempercepat Degradasi Oli
Busa memperbesar luas permukaan kontak antara oli dengan udara di dalam mesin. Proses oksidasi oli akan terjadi jauh lebih cepat pada suhu tinggi. Oli menjadi lebih cepat pekat, membentuk endapan, dan kehilangan aditif pentingnya dalam waktu singkat.
Baca Juga : Perlukah Menambah Aditif Ke Oli?
Peran dan Manfaat Aditif Anti-Foam
Mengingat tingginya risiko busa, produsen oli tidak tinggal diam. Mereka menambahkan agen kimia khusus ke dalam formula oli mesin yang disebut Aditif Anti-Foam (biasanya berbasis silicone polymers atau organic copolymers). Aditif anti-foam bekerja dengan cara menyebar secara merata di dalam cairan oli dan mengubah tegangan permukaan dari gelembung-gelembung udara yang terbentuk. Ketika gelembung udara mencoba bersatu membentuk busa besar, aditif ini melemahkan dinding sel gelembung tersebut.