1. News
  2. Berita
  3. Dari Merauke hingga Jakarta, Salib Merah Hadir Membawa Semangat Perlawanan

Dari Merauke hingga Jakarta, Salib Merah Hadir Membawa Semangat Perlawanan

dari-merauke-hingga-jakarta,-salib-merah-hadir-membawa-semangat-perlawanan
Dari Merauke hingga Jakarta, Salib Merah Hadir Membawa Semangat Perlawanan

29 Oktober 2026 13.51 WIB • 2 menit

Dari Merauke hingga Jakarta, Salib Merah Hadir Membawa Semangat Perlawanan

images info

Salib merah dalam aksi di Jakarta pada 28 Oktober 2026 | Instagram kabinetrakyatri


Aksi demonstrasi dengan tajuk “Indonesia Sadar” digelar di Jakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026. Ribuan mahasiswa serta elemen masyarakat turut memadati area kawasan MH Thamrin dan Bundaran Hotel Indonesia yang menjadi pusat demonstrasi.

Demonstrasi ini merupakan rangkaian dari aksi yang sempat terjadi beberapa waktu belakangan. Pada demonstrasi Indonesia Sadar kali ini, aliansi mahasiswa serta masyarakat sipil turun langsung ke lapangan untuk menyampaikan tuntutan seputar isu lingkungan, penegakan hukum, dan pendidikan.

Di tengah keramaian aksi, ada satu simbol yang menarik perhatian banyak orang yang turut hadir secara langsung di lapangan. Simbol ini merupakan tanda salib berwarna merah yang digotong oleh beberapa orang mahasiswa.

Dinukil GNFI dari laman Suara, salib merah ini merupakan simbol yang diinisiasi oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Hadirnya salib merah ini makin melengkapi simbol-simbol perlawanan lainnya yang ditampilkan pada aksi demonstrasi ini, seperti salam tiga jari dan lainnya.

Hadirnya Salib Merah di Aksi Demonstrasi Indonesia Sadar 28 Oktober 2026

Hadirnya salib merah di tengah aksi demonstrasi menarik banyak perhatian. Tidak hanya para peserta aksi yang hadir di lapangan, munculnya salib merah ini juga menarik perhatian di media sosial.

Salib merah yang berukuran lebih kurang 5 meter ini dibawa oleh beberapa mahasiswa PMKRI menuju kawasan Gedung UOB dan Bundaran HI. Bahkan simbol perlawanan ini juga sempat dibawa ke barisan depan oleh massa aksi yang hadir.

Kemunculan salib merah ini juga berkaitan dengan salah satu isu yang diangkat dalam demonstrasi Indonesia Sadar, yakni penghentian kerusakan hutan. Terlebih simbol perlawanan ini juga digunakan oleh masyarakat adat di Papua yang merasakan langsung dampak dari pengrusakan hutan tersebut.

Penggunaan simbol ini tentu juga tidak lepas dari film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono yang sempat viral beberapa waktu lalu. Film dokumenter yang menyoroti dampak ekspansi dari perkebunan sawit dan tebu Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan ini memperlihatkan cara perlawanan masyarakat adat yang menggunakan salib merah untuk melindungi tanah mereka.

📷 Instagram Embed

https://www.instagram.com/p/DfCpDG4FB2R/

(Preview akan muncul di halaman artikel)

Makna Salib Merah, Simbol Perlawanan dari Tanah Papua

PSN yang terjadi di Papua Selatan ini membuka hutan yang ada di wilayah tersebut secara besar-besaran. Beberapa daerah yang terdampak langsung dari pembukaan lahan ini adalah Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappi.

Tidak hanya merusak alam yang ada di sana, keberadaan masyarakat adat pun ikut terancam. Menanggapi hal tersebut, muncul sebuah gerakan sosial yang bertujuan menjaga ruang hidup bagi suku-suku asli, seperti Awyu, Muyu, Malind, dan Yei yang mendiami daerah tersebut.

Dikutip GNFI dari laman Jubi, gerakan palang adat dan salib merah pun muncul sebagai respon atas situasi tersebut. Gerakan ini pertama kali mulai berkembang pada 2014 silam dengan tujuan untuk menghadang proyek-proyek skala besar yang mengancam keanekaragaman hayati di Papua.

Lewat gerakan ini, masyarakat menancapkan palang adat serta salib merah di tanah-tanah strategis yang terancam akibat proyek tersebut. Penggunaan palang adat dan salib merah ini menjadi bentuk transformasi baru dari miri, yang digunakan oleh orang-orang suku Awyu untuk menandai batas wilayah.

Salib merah yang digunakan oleh masyarakat sebagai simbol perlawanan juga memiliki maknanya tersendiri. Dilihat GNFI dari laman CRCS UGM, salib merah yang digunakan oleh masyarakat Awyu di Boven Digoel, Papua Selatan memiliki tinggi 12 meter dan lebar 7 meter.

Tinggi salib merah ini menjadi simbol dari jumlah murid Yesus. Sementara itu, lebar dari salib merah menggambarkan jumlah dari wilayah adat Awyu.

Lebih dari sekadar penanda wilayah, salib merah menjadi simbol keagamaan serta kultural dari masyarakat suku Awyu untuk melindungi tanah mereka dari ancaman yang menghadang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Dari Merauke hingga Jakarta, Salib Merah Hadir Membawa Semangat Perlawanan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us