WartapalaIndonesia.com, KENDARI – Ratusan mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari berbagai perguruan tinggi yang mengikuti Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) ke-XXXV memperingati Sumpah Pemuda dengan menyuarakan kepedulian terhadap kondisi ekologi dan persoalan sosial kemanusiaan.
Peringatan tersebut tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Ratusan Mapala berkumpul untuk melakukan konsolidasi, menyampaikan orasi, membacakan tuntutan, serta membawa spanduk dan poster yang berisi pesan terkait lingkungan dan kondisi masyarakat.
Momentum Sumpah Pemuda menjadi ruang bagi Mapala se-Indonesia untuk kembali menegaskan pentingnya persatuan dan peran pemuda dalam merespons berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia.
Salah satu isu yang menjadi perhatian utama adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Jenderal Lapangan aksi, Muh Yusril Sudarmin dari Mapala UMI Makassar yang merupakan Demisioner Koordinator Pusat Koordinasi Nasional (PKN) Mapala se-Indonesia, mengatakan semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan dalam kepedulian dan tindakan nyata.
“Kami ingin semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berhenti pada peringatan, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan keberanian pemuda untuk menyikapi persoalan yang terjadi di negeri ini, termasuk persoalan lingkungan,” ujarnya.
Dalam aksinya, Mapala se-Indonesia mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan kebakaran hutan dan lahan sebagai bencana nasional.
Desakan itu disampaikan karena karhutla dinilai bukan hanya persoalan kerusakan lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat berdampak terhadap kehidupan masyarakat, kualitas udara, kesehatan, serta keberlanjutan ekosistem.
Mapala mendorong agar penanganan karhutla dilakukan secara lebih terpadu, termasuk memberikan perlindungan terhadap masyarakat yang terdampak asap, memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta memastikan adanya pemulihan terhadap kawasan hutan dan lingkungan yang mengalami kerusakan.
“Karhutla bukan hanya persoalan hutan yang terbakar, tetapi menyangkut keselamatan masyarakat dan masa depan lingkungan. Karena itu, kami mendorong agar negara hadir dengan penanganan yang lebih serius, terpadu, dan berkelanjutan,” jelas Yusril.
Selain menyampaikan tuntutan, momentum tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan solidaritas antar- Mapala dari berbagai daerah.
Persoalan lingkungan yang terjadi di satu wilayah dinilai perlu mendapat perhatian bersama karena memiliki dampak yang lebih luas terhadap masyarakat dan lingkungan.
Gerakan Mapala juga diharapkan tidak berhenti setelah aksi selesai. Sejumlah bentuk gerakan lanjutan yang didorong antara lain kampanye lingkungan, edukasi kepada masyarakat, kegiatan sosial dan kemanusiaan, diskusi kepemudaan, serta penguatan koordinasi antar Mapala di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi Mapala, peringatan Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab pemuda.
“Persatuan tidak hanya diwujudkan melalui ikrar, tetapi juga melalui keberanian untuk menyuarakan persoalan dan mengambil peran dalam mencari solusi,”pungkas Yusril. (Az)
Kontributor || Abdul Aziez, WI 20005
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)