Ada pekerjaan yang enggak kunjung dimulai karena hasilnya sudah lebih dulu dibayangkan harus sempurna. Ada kebiasaan yang jelas bikin capek, tetapi terus diulang karena meninggalkannya terasa lebih menakutkan. Saya merasa kekalahan kadang hadir dalam bentuk sesederhana itu. Hari tetap berjalan, sementara kita masih sibuk bernegosiasi dengan pikiran sendiri.
Perasaan tersebut menjadi jalan masuk saya ke Dignified Losers milik mpq, terutama lagu pembukanya, “Not For Anyone Else”. Ketika ditanya tentang pengalaman kalah tetapi harus tetap menjalani hidup, Alit Djarot menghubungkan lagu itu dengan tuntutan yang ia pasang terhadap dirinya sendiri.
“Gue kalah dengan ‘overthinking’, bahwa semuanya harus ‘perfect’ padahal, ternyata semuanya tinggal dijalanin aja. Kontrol yang bisa dikontrol, dan percaya sama orang yang dicintai. Ini digambarkan di lagu ‘Not for Anyone Else’,” ujar Alit.
Daniel Hasudungan menemukan cara menghadapi kekalahan melalui “Miles & Miles”, lagu penutup album. Ia menjelaskan bahwa liriknya berangkat dari pemikiran, “selama belum mati, apapun masih bisa dikejar”. Bagi Daniel, kesempatan untuk mencoba belum habis hanya karena sesuatu enggak berjalan sesuai harapan. “Masih ada besok, lusa, dst. minimal kalau kalah, at least sudah usaha,” lanjutnya.
Dua jawaban tersebut memberi saya pegangan untuk memasuki album kedua mpq ini. “Not For Anyone Else” membuka album dengan persoalan yang menahan langkah, sedangkan “Miles & Miles” menutupnya dengan alasan untuk mencoba lagi. Di antara keduanya, ada penantian, kebutuhan memutus sesuatu, keterpurukan yang disembunyikan, dan kehilangan yang bahkan belum sanggup diberi kata-kata.
Dirilis pada 23 Oktober 2026, Dignified Losers mengangkat tema yang mudah terasa dekat. Namun, lagu tentang kegagalan belum otomatis berhasil hanya karena pendengarnya pernah gagal. Yang lebih menarik adalah bagaimana persoalan tersebut muncul melalui pilihan musik dan sejauh mana lagu-lagunya memberi ruang bagi perasaan rumit tanpa buru-buru membereskannya.
“Not For Anyone Else” memulai perjalanan dengan ketukan pelan yang mantap dan aransemen intim. Ada ketegasan di dalamnya, tetapi pengakuan Alit tentang keinginan agar semuanya sempurna membuat ketegasan itu terasa sebagai sesuatu yang sedang diusahakan. Saya membayangkan seseorang yang akhirnya mengirim pekerjaan setelah terlalu lama memeriksanya, atau mulai berbicara setelah berkali-kali membatalkan kalimat di kepala.
Ketukan yang terus berjalan memberi bentuk pada usaha tersebut. Langkahnya enggak harus besar untuk terasa berarti. Buat saya, pilihan pembuka ini bekerja karena enggak langsung menjadikan keberanian sebagai sesuatu yang megah. Namun, menerima bahwa sebagian hasil berada di luar kendali tetap menjadi bagian tersulit. Lagu ini lebih menarik sebagai percakapan dengan kecemasan sendiri daripada jawaban tuntas untuk menghentikan kebiasaan berpikir berlebihan.
Dari kesulitan memulai, “Someplace Sometime Somehow” membawa album menuju ketidakpastian setelah langkah diambil. Suasana instrumennya mengawang, sementara ketukan yang jelas menjaga lagu tetap bergerak. Pertemuan keduanya mengingatkan saya pada rutinitas yang dijalani sambil menunggu perubahan: tetap bekerja, membalas pesan, dan membuat rencana meski belum tahu hasilnya akan seperti apa.
Ada harapan sekaligus rasa lelah dalam penantian tersebut. Harapan bisa membuat seseorang bertahan, tetapi juga menjadi alasan untuk menunda keputusan. Di sini, saya lebih menikmati ketidakpastiannya daripada memaksakan pesan bahwa semuanya pasti membaik. Suasana mengawangnya memberi tempat bagi keadaan ketika kita memang belum tahu. Meski begitu, arah emosinya terasa lebih samar dibandingkan lagu pembuka.
“East & West” meningkatkan gerak album melalui dinamika instrumen dan melodi yang mudah melekat. Setelah suasana menunggu, ada dorongan lebih tegas untuk berpindah. Daniel menghubungkan lagu ini dengan “Goodbye Everest” ketika membicarakan karya yang pesannya masih sulit ia jalani sendiri.
“Antara ‘Goodbye Everest atau ‘East & West’, keduanya adalah mesti ambil tindakan. Goodbye itu upaya preserving what we have, sedangkan ‘East & West’ itu memutus hubungan/kebiasaan yang kita udah gak suka lagi untuk ada di dalamnya. Dan gue orang yang cukup sulit untuk ambil tindakan tegas,” ucap Daniel.
Pengakuan tersebut memberi bobot pada “East & West”. Lagu yang bergerak lebih aktif ini datang dari seseorang yang mengaku sulit mengambil keputusan. Ada sesuatu yang akrab dalam pertentangan itu. Kita bisa menjelaskan dengan lancar kenapa suatu kebiasaan perlu dihentikan, lalu kembali melakukannya keesokan hari. Musiknya memberi dorongan, tetapi cerita Daniel memperlihatkan bahwa dorongan tersebut belum tentu langsung menjadi tindakan.
“The Entourage” menjaga tubuh tetap bergerak lewat pola ritme yang mengundang kepala mengangguk. Saya menangkap nuansa ironis yang bisa dikaitkan dengan hubungan sosial yang perlahan berubah. Orang-orang yang dulu gampang ditemui sekarang perlu mencocokkan jadwal. Rencana bertemu yang batal beberapa kali akhirnya tenggelam dalam percakapan lain.
Tentu, itu merupakan asosiasi saya sebagai pendengar, bukan kepastian tentang latar lagunya. Keluwesan ritmenya memberi kesempatan untuk mendekati perubahan tersebut dengan sedikit humor. Namun, hubungan yang berubah enggak selalu menandakan ada yang gagal menjaganya. Di bagian ini, daya tarik ritmenya lebih mudah saya tangkap daripada arah ceritanya. “The Entourage” menjaga gerak album, meski belum meninggalkan pertanyaan sekuat lagu-lagu di sekitarnya.
“Into Me” kemudian menarik perhatian kembali ke dalam. Aransemen yang lebih minimalis dan suasana santainya memberi ruang lebih besar bagi vokal. Sekilas, bagian ini terasa sebagai tempat beristirahat. Penjelasan Daniel justru membuat ketenangan tersebut terdengar sebagai sesuatu yang perlu dicurigai.
“‘Into Me’ isinya bener-bener full rendah diri. Si paling kasihan dan kayaknya semua orang akan susah buat ngaku tentang keterpurukan diri sendiri, untuk gak denial. Musiknya yang chill instead of mendayu-dayu sedih itu bentuk denial-nya. Kesannya terpuruk boleh, tapi mesti tetep cool.”
Buat saya, hubungan antara musik dan perasaan dalam “Into Me” menjadi salah satu bagian paling kuat di album. Suasana santainya memungkinkan lagu dinikmati dengan nyaman, tetapi sekaligus memberi bentuk pada keinginan menyembunyikan keadaan diri. Ada orang yang masih bisa bercanda, datang bekerja, dan ikut nongkrong sambil merasa buruk tentang hidupnya. Pengakuan Daniel membuat kenyamanan musik tersebut punya lapisan lain: tetap terlihat tenang juga bisa menjadi pekerjaan yang melelahkan.
Dari kebutuhan menjaga penampilan, “Wheel of Fortune” membawa persoalan ke keberanian mengambil risiko. Pergerakan akor yang manis dan suasana melankolis membuatnya mudah dinikmati. Namun, Alit menjelaskan adanya tuntutan yang lebih keras di balik lagu tersebut, sekaligus mengakui bahwa ia belum tentu bersedia mengikutinya.
“Wheel of Fortune menjelaskan tentang high risk high return, ‘Do or Die’. Gue dari dulu orang yang hati-hati, bahkan ditahap nyaman dengan safety net. Sekarang tetep mau gitu, biar kalo jatoh gak sakit-sakit banget. Jadi gue nyanyiin aja, dari pada gue jalanin.”
Kalimat terakhirnya terasa lucu, tetapi bagian sebelumnya yang membuat pengakuan itu berarti. Alit tahu alasan ia memilih berhati-hati. Saya merasa ini penting karena mengambil risiko sering dibicarakan seolah semua orang punya ruang jatuh yang sama. Padahal, kebutuhan dan tanggungan bisa membuat seseorang enggak punya banyak kesempatan untuk mencoba ulang.
“Wheel of Fortune” menjadi menarik sebagai tempat membayangkan keberanian yang belum sanggup dijalani. Meski demikian, kelembutan musiknya juga membuat kerasnya pilihan tersebut enggak langsung terasa di permukaan. Ada jarak antara gagasan yang dinyanyikan dan keputusan yang diambil, sesuatu yang justru membuat pengakuan Alit terasa relevan.
Pertanyaan tentang tindakan kembali muncul dalam “Goodbye Everest”, yang menghadirkan Nabila Hanina. Suasananya yang berongga dan mengawang memberi ruang untuk mengambil napas. Namun, penjelasan Daniel tentang usaha menjaga sesuatu yang masih dimiliki membuat saya enggak bisa sekadar membacanya sebagai kelegaan setelah melepas. Ada hal yang perlu diperjuangkan sebelum terlambat, tetapi bagaimana mengenalinya?
Ketika ditanya tentang batas antara memperjuangkan dan melepas sesuatu, Daniel lebih dulu melihat skala persoalannya. Untuk urusan personal, ia memberi tempat pada kemampuan mengenali batas sendiri. Namun, ia juga menyebut bahwa persoalan yang mempertaruhkan harkat, martabat, atau nyawa membutuhkan pertimbangan berbeda.
“Lain kalau itu problem yg skalanya besar plus dampaknya keberlangsungan hidup orang, itu akan selamanya mesti dan wajib diperjuangkan,” ujarnya.
Pembedaan tersebut memperluas pembicaraan album dari ketahanan pribadi menuju tanggung jawab terhadap orang lain. Ukuran bertahan enggak bisa selalu berhenti pada nyaman atau enggak nyaman. Di sisi lain, Alit menjelaskan caranya menghadapi persoalan yang sudah mengganggu keseharian.
“Kadang-kadang ketika sudah terlambat, baru sadar. Sekarang kalo sekiranya ada sesuatu yang membuat gue tidak berfungsi dalam keseharian gue, hal tersebut pasti gue singkiri sementara dulu, ‘taro di dalam box’. Time will tell mana yang masih layak diperjuangkan dan mana yang mesti dibuang.”
Perbedaan jawaban mereka justru memperkuat pembahasan “Goodbye Everest”. Ada kebutuhan untuk bertindak, tetapi ada pula keadaan ketika seseorang perlu mengambil jarak agar bisa berpikir. Menyimpan persoalan sementara mungkin membantu, meski juga menyisakan risiko menundanya terlalu lama. Lagu ini menjadi tempat yang menarik untuk memikirkan batas tersebut tanpa memaksakan satu jawaban yang berlaku bagi semua keadaan.
“Ode to Grief” memperlambat langkah dan memberi tempat bagi kehilangan. Di sini, persoalannya bahkan sudah sampai pada ketidakmampuan menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
“’Ode to Grief’ bahkan bagian reff tidak ada liriknya. Hanya choir diatas musik. Sampai sekarang belom berhasil atau belom kuat untuk menggambarkan ‘grief’. Akhirnya gue berlindung di belakang abstraksi tanpa lirik,” ujar Alit.
Pernyataan ini berhubungan kuat dengan pengakuannya tentang kesempurnaan pada pembuka album. Kali ini, bagian yang belum berhasil diucapkan justru dibiarkan hadir sebagai bentuk lagu. Paduan suara mengambil tempat ketika kalimat belum tersedia. Duka enggak selalu datang sebagai cerita yang siap dibagikan. Kadang, orang yang mengalaminya sendiri masih kesulitan memahami apa yang dirasakan.
Pilihan itu memberi pendengar ruang untuk membawa pengalaman masing-masing. Namun, abstraksinya juga menjaga sebagian cerita tetap jauh. Saya bisa masuk dengan perasaan sendiri tanpa benar-benar mengenali kehilangan yang dialami pembuatnya. Buat saya, itulah kekuatan sekaligus batas “Ode to Grief”. Saya menghargai ruang yang diberikan, tetapi enggak ingin buru-buru menyebutnya menyembuhkan. Lagu ini terasa lebih jujur ketika dibiarkan menemani sesuatu yang belum selesai.
“Miles & Miles” menutup album dengan durasi lebih panjang dan kenaikan yang dibangun perlahan. Setelah ruang kosong dalam “Ode to Grief”, perkembangan musiknya menghadirkan kembali kemungkinan untuk bergerak. Keyakinan Daniel tentang masih adanya hari esok memberi konteks pada rasa lega yang muncul menjelang akhir.
Di sini, pengakuan Alit pada pembuka kembali terasa penting. Jika tuntutan akan kesempurnaan bisa membuat usaha enggak pernah dimulai, menerima bahwa usaha tetap berarti membuka kemungkinan untuk melangkah tanpa jaminan. Hubungan inilah yang membuat urutan album terasa punya tujuan bagi saya.
Meski begitu, klimaks “Miles & Miles” enggak membuat persoalan sebelumnya otomatis selesai. Kesulitan bertindak dalam “East & West”, penyangkalan dalam “Into Me”, dan duka yang belum bisa diucapkan masih meninggalkan bekas. Saya lebih bisa menerima kelegaannya sebagai tenaga sementara. Besok, rasa takut mungkin kembali, tetapi kesempatan mencoba juga belum habis.
Bagi saya, Dignified Losers paling kuat ketika memperlihatkan pertentangan antara hal yang dipahami dan hal yang sanggup dijalani. Hubungan tersebut terasa jelas dalam ketenangan “Into Me”, keberanian yang masih dibayangkan dalam “Wheel of Fortune”, serta bagian refrain tanpa lirik dalam “Ode to Grief”. Di beberapa bagian lain, penjelasan personel masih lebih membantu saya mengenali persoalannya daripada kesan yang langsung datang dari musik. Enggak semua lagu meninggalkan pengaruh yang sama kuat.
Namun, Alit dan Daniel juga enggak berbicara dari posisi sudah mengatasi semuanya. Mereka masih menuntut kesempurnaan, memilih rasa aman, dan kesulitan mengambil keputusan. Kejujuran itu membuat perjalanan album terasa lebih dekat. Ketika “Miles & Miles” selesai, saya kembali pada pertanyaan yang dibuka “Not For Anyone Else”: kalau hasilnya belum tentu baik, apakah saya tetap bersedia mulai?
Dignified Losers memberi dorongan untuk menjawabnya, tanpa berpura-pura bahwa menjalankan jawaban tersebut akan selalu mudah.