Istilah Wi-Fi, sinyal seluler, dan internet bagi sebagian besar dari kita adalah biasa. Namun, coba bayangkan bagaimana kita menjelaskan perbedaan dari ketiga istilah tadi kepada nenek kita yang bingung kenapa ia tidak bisa membalas pesan-pesan di WhatsApp dalam perjalanan pulang dari pasar. Padahal, tanda Wi-Fi di ponselnya menyala seperti biasa dan pesan baru terkirim begitu ia sampai di rumah.
Pada 1990, seorang mahasiswa psikologi di Stanford bernama Elizabeth Newton melakukan penelitian dengan membagi partisipan menjadi dua kelompok, pengetuk dan pendengar. Pengetuk diberi daftar lagu terkenal, lalu diminta mengetukkan iramanya di atas meja. Pendengar bertugas menebak judul lagu hanya dari ketukan yang mereka dengar.
Sebelum permainan dimulai, pengetuk diminta menebak berapa persen pendengar yang akan berhasil menebak dengan benar. Jawaban mereka rata-rata, sekitar 50 persen. Namun, kenyataannya, dari 120 lagu yang diketuk, pendengar hanya benar 2,5 persen atau sekitar 3 lagu.
Jurang sebesar itu terjadi karena pengetuk membayangkan lagu tersebut di kepalanya. Setiap ketukan terasa jelas karena ia sudah tahu melodinya, sementara bagi pendengar yang terdengar hanya ketukan-ketukan tanpa konteks. Inilah yang oleh para peneliti disebut curse of knowledge, kutukan pengetahuan. Semakin dalam kita menguasai sesuatu, semakin sulit kita membayangkan bagaimana rasanya tidak tahu apa-apa tentang hal itu.
Ini juga yang kadang membuat kita merasa frustrasi ketika menjelaskan istilah-istilah atau proses teknologi baru yang menurut kita sederhana sekali kepada orangtua yang tidak kunjung paham. Seorang koki merasa perintah “tumis hingga matang” sudah cukup jelas. Sementara itu, si pemula kebingungan apakah semua bahan dimasukkan sekaligus atau satu per satu, apa tandanya kalau sudah matang, apakah harus diaduk atau didiamkan saja.
Di kantor, bentuknya bermacam-macam. Tim riset heran mengapa user tidak memahami metode statistik yang menurut mereka sudah dijelaskan dengan terang. User berharap tim TI segera menerjemahkan proses bisnis yang mereka jalani bertahun-tahun menjadi sistem.
Atasan frustrasi karena anak buah kembali melakukan kesalahan yang rasanya sudah dijelaskan berkali-kali. “Kok gitu aja, tidak mengerti, sih?” ujar mereka. Di kepala masing-masing, lagunya terdengar jelas. Di telinga orang lain, mungkin yang terdengar hanya ketukan.
Contoh menarik datang dari persaingan televisi plasma dan LCD. Para ahli menilai plasma unggul dalam sejumlah aspek kualitas gambar. Namun, keunggulan teknis bukan satu-satunya hal yang menentukan pilihan konsumen. LCD berkembang cepat, semakin kompetitif dari sisi harga, dan tampil sangat menarik dalam lingkungan toko yang terang.
Panasonic akhirnya menghentikan produksi panel plasma pada akhir 2013 di tengah turunnya permintaan dan perubahan besar di pasar televisi. Mengingatkan bahwa apa yang dianggap penting oleh seorang ahli belum tentu menjadi hal yang diprioritaskan oleh konsumen.
Semakin dalam kita mempelajari suatu bidang, pengetahuan kita berubah bentuk. Gerakan menggosok gigi kita sudah berjalan otomatis, tidak seperti anak kecil yang harus mengingat langkah demi langkah. Seorang programer berpengalaman tidak lagi memikirkan setiap baris sintaks, sama seperti pembaca lancar tidak lagi mengeja huruf satu per satu.
Keahlian membuat banyak langkah berpikir menjadi otomatis. Efisiensi ini sangat berguna bagi si ahli, tetapi justru karena sudah otomatis, langkah-langkah tersebut menjadi tak kasat mata baginya sendiri. Begitu menjadi ahli, kita tidak hanya lupa bahwa kita pernah tidak tahu; kita juga lupa bagaimana proses kita akhirnya menjadi tahu. Sering kali bukan karena kurang penjelasan, melainkan komunikasi dimulai dari batu pijakan yang berbeda.
Sederhana butuh pendalaman
Dalam komunikasi antara ahli dan pemula, porsi tanggung jawab terbesar untuk menjembatani kesenjangan pemahaman ada pada pihak yang lebih tahu. Seorang teknisi harus meyakinkan pelanggannya dengan bahasa si pelanggan hingga ia dapat mengambil keputusan dengan percaya diri.
Sebuah penjelasan bisa 100 persen benar, tetapi tidak berarti bagi pendengarnya. Seorang guru perlu memulai dari tingkat pemahaman muridnya saat ini dan mulai bergerak membimbing dari titik itu. Siapa pun yang lebih paham, dialah yang perlu turun ke level dasar, bukan sebaliknya.
Simplifikasi tidak berarti membuang kompleksitas. Simplifikasi adalah mengorganisasikan kompleks dengan menonjolkan esensinya. Ketika diminta merangkum buku 500 halaman, pekerjaan kita bukan sekadar menghapus contoh dan memangkas kalimat. Kita harus terlebih dulu memahami ide utama, hubungan antar-argumen, dan mana yang benar-benar esensial. Baru setelah itu kita dapat menyusunnya dalam bentuk yang lebih sederhana.
Tujuan seorang ahli bukan menyederhanakan subyeknya, melainkan menyederhanakan jalan menuju pemahaman. Bedanya halus, tetapi penting. Kita bukan membuat sesuatu yang rumit menjadi dangkal, melainkan membangun tangga agar orang lain bisa selangkah demi selangkah naik dan sampai ke tempat kita berada.
Kecintaan Steve Jobs pada kesederhanaan ternyata berakar jauh sebelum Apple berdiri. Dari rumah-rumah modern bergaya Eichler di lingkungan tempat ia tumbuh, dari ketenangan Zen Buddhisme yang ia serap sepulang mengembara ke India, bahkan dari kelas kaligrafi yang ia ikuti setelah keluar dari Reed College.
Semangat itu kemudian tecermin dalam sebuah maksim yang terpampang pada brosur awal Apple tahun 1977: Simplicity is the ultimate sophistication, kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi. Seperti ditulis Walter Isaacson dalam biografinya, bagi Jobs dan Jony Ive, kesederhanaan bukan sekadar mengurangi tombol atau membuat tampilan minimalis.
Mereka justru harus memahami seluruh kompleksitas produk, perangkat keras, perangkat lunak, hingga cara pengguna berinteraksi dengannya agar kompleksitas itu dapat didudukkan di tempat yang tepat. Yang terlihat sederhana bagi pengguna justru bisa merupakan hasil dari pekerjaan yang sangat kompleks di belakangnya. Karena prinsip yang diusung adalah bagaimana membuat pengalaman pengguna sesederhana mungkin.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan apakah kita mampu membantu orang lain memahami apa yang kita ketahui. Sebab sesuatu yang jelas bagi kita belum tentu terlihat jelas bagi orang lain.
Dan, barangkali itulah paradoks kesederhanaan, yaitu untuk membuat sesuatu menjadi sederhana, kita justru harus memahaminya lebih dalam.
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.