1. News
  2. Sepakbola
  3. Saat Tiba di Puncak Everest, Dia Tak Lupa Sholat

Saat Tiba di Puncak Everest, Dia Tak Lupa Sholat

Saat Tiba di Puncak Everest, Dia Tak Lupa Sholat

Assalaamu’alaikum Sobat RiseTAFDI. Mendirikan sholat di puncak Gunung Everest (ketinggian 8.848 mdpl) dalam kondisi ekstrem sebagaimana dilakukan oleh Nawal Sfendla, pendaki wanita asal Maroko dapat ditinjau secara khusus, baik dari aspek fisiologi manusia maupun hukum fikih.

Dalam pandangan Sains dan Medis, pada ketinggian di atas 8.000 m, tekanan parsial oksigen hanya sekitar sepertiga dari kondisi permukaan laut. Tanpa kombinasi teknologi, adaptasi fisiologis, dan manajemen waktu, maka tubuh manusia saat mencapai puncak Everest tidak dapat bertahan hidup lama dan perlahan-lahan akan rusak sel demi sel.

Melepas masker oksigen atau sarung tangan tebal meski hanya beberapa menit juga dapat memicu hipoksia akut, penurunan kesadaran, hingga hipotermia dan pembekuan jaringan tubuh (frostbite) yang berujung nekrosis.

Aktivitas menunduk, sujud, dan berdiri di suhu -30°C hingga -50°C menguras oksigen dan energi secara drastis. Menggunakan down suit tebal serta masker oksigen saat bersujud merupakan tindakan mutlak demi menjaga kelangsungan hidup (survival).

Jika kondisi di atas dialami oleh Muslim/ah yang hendak mengerjakan sholat, maka dapat digolongkan pada darurat atau masyaqqoh syadidat (kesulitan luar biasa) yang mengaktifkan hukum kemudahan (rukhsoh).

Dalam Madzhab Syafi’i, syarat sah sujud adalah dahi harus menempel langsung pada tempat sujud tanpa terhalang kain yang bergerak bersama pakaian (seperti kupluk atau masker).

Jika membuka penutup dahi membahayakan jiwa karena dingin ekstrem, kewajiban menyingkap dahi menjadi gugur. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menegaskan bahwa keselamatan jiwa (hifdz an-nafs) mendahului kesempurnaan syarat formal ibadah.

Jika salju tidak dapat dicairkan menjadi air dan tidak ada debu untuk tayamum, pendaki tergolong Faqid at-Thohuroin (orang yang kehilangan dua alat bersuci).

Syeikh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan bahwa Faqid at-Thohuroin tetap wajib sholat pada waktunya demi menghormati waktu sholat (Li Hurmatil Waqti), dan dianjurkan mengulangnya (i’adah) kelak jika sudah berada dalam kondisi normal.

Kemudian jika berdiri atau sujud sempurna berisiko membuat pendaki tergelincir ke jurang, maka sholat boleh dilakukan dengan duduk atau menggunakan isyarat mata/kepala.

Al-Khotib asy-Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj mengutip kaidah fikih “Al-maysur la yabthulu bil ma’sur” / ​المَيْسُورُ لَا يَبْطُلُ بِالْمَعْسُورِ (hal yang mampu dilakukan tidak gugur karena adanya hal yang sulit).

Pendaki muslim/ah apabila mendaki Everest pasti akan melewati banyak sekali waktu sholat dan menghadapi kesulitan tersebut, karena total waktu ekspedisi menuju puncak Everest memakan waktu sekitar 2 Bulan / 60–65 hari.

Sebagian besar waktu dihabiskan untuk trekking menuju Everest Base Camp (EBC), lalu masa aklimatisasi (naik-turun antarkamp untuk menyesuaikan paru-paru dengan oksigen tipis), serta menunggu weather window (jendela cuaca cerah dan angin tenang).

Konsep mendaki gunung tinggi ini dikenal dengan istilah “Climb High, Sleep Low” (Mendaki Tinggi, Tidur Rendah).

Proses ini mirip dengan latihan beban di gym, tubuh sengaja diberi “stres” di ketinggian yang lebih tinggi, lalu dibawa kembali ke bawah untuk beristirahat agar tubuh membentuk adaptasi baru.

Trek utama ke Base Camp (EBC – 5.364m), pendaki berjalan santai selama 8-10 hari dari Lukla (2.860m) menuju EBC. Di sepanjang jalan, mereka berhenti dan menginap 2-3 malam di desa yang sama (misalnya Namche Bazaar di 3.440m) untuk adaptasi tahap awal.

1). Rotasi 1: Menyentuh Kamp 1 & 2

Naik dari EBC (5.364m) menembus Khumbu Icefall menuju Kamp 1 (6.000m) atau Kamp 2 (6.400m).

Menginap 1–2 malam di sana agar “paru-paru kaget” dan terbiasa dengan oksigen yang makin tipis.

Turun kembali ke EBC untuk tidur, makan, dan memulihkan stamina di tempat yang oksigennya relatif lebih banyak.

2). Rotasi 2: Menyentuh Kamp 3

Naik kembali dari EBC melewati Kamp 1 dan Kamp 2, lalu memanjat dinding es Lhotse hingga menyentuh Kamp 3 (7.200m).

Turun kembali ke EBC (bahkan beberapa pendaki memilih turun lebih bawah lagi ke Desa Pheriche di 4.370m) untuk beristirahat total selama 4–6 hari.

Setelah tubuh memproduksi cukup sel darah merah baru (hemoglobin), pendaki menunggu cuaca bagus lalu melakukan perjalanan satu arah: EBC – Kamp 1 – Kamp 2 – Kamp 3 – Kamp 4 – PUNCAK – Turun.

Kenapa Harus Bolak-Balik Dulu?

Di atas ketinggian 6.000 meter, tubuh manusia sebenarnya tidak bisa melakukan pemulihan (recovery). Jika pendaki terus berdiam di kamp atas tanpa turun, tubuh mereka justru akan perlahan melemah, kehilangan massa otot, dan terserang penyakit ketinggian (AMS/HAPE/HACE). Naik ke atas berfungsi memberikan sinyal kejutan ke otak, sedangkan turun ke bawah memberikan waktu pemulihan agar sel darah merah bertambah secara aman.

Wallohu a’lam bishshowaab

Allohumma Sholli ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shohbihi Ajma’iin. Aamiin

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Saat Tiba di Puncak Everest, Dia Tak Lupa Sholat
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us