Dalam kamus kerja sehari-hari, kita sering mendengar kata burn out ketika seseorang merasa kelelahan sehingga tampak kehilangan semangat dalam bekerja. Sering kali hal ini terjadi karena terus-menerus mengalami tekanan yang tinggi dalam pekerjaan hingga kurang memiliki waktu beristirahat.
Kondisi burn out seperti ini biasanya dapat diatasi dengan mendiskusikan ulang target dan harapan dari pimpinan, mengelola pekerjaannya, dan mengambil waktu sejenak untuk mengisi dirinya kembali dengan energi baru.
Namun, ada kalanya seseorang tampak tidak memiliki energi tanpa alasan yang jelas. Ada yang terus terlihat ragu dan menunda untuk menyerahkan hasil pekerjaannya karena merasa masih belum sempurna. Ada juga yang terlalu lama berada di zona aman sehingga enggan mengambil tantangan baru, bahkan jika itu membuatnya tidak berkembang. Ada pula yang menerima semua pekerjaan karena ingin “menjaga hubungan baik”, tetapi membuat dirinya kepayahan.
Standar tinggi memang penting, tetapi perfeksionisme membuat proses menjadi lambat. “Perfection is the enemy of progress” mengingatkan kita bahwa kualitas harus sebanding dengan produktivitas. Apalagi ketika kita membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki prestasi cemerlang. Imposter syndrome ini sering membuat kita merasa tidak kompeten dan menghambat produktivitas.
Bentuk lain yang jarang disadari adalah self-handicapping. Ia tidak mempersiapkan dirinya dengan maksimal, bekerja setengah hati, bukan karena tidak mampu, melainkan agar memiliki alasan jika hasilnya tidak sesuai harapan. Lebih mudah berkata “saya tidak sempat” daripada menghadapi kenyataan “saya sudah berusaha, tetapi tetap gagal”.
Bentuk perlindungan diri
Yang menarik, akar dari perilaku ini sering bukan pada kemampuan, melainkan cara kita memaknai pengalaman. Kita cenderung menyimpan pengalaman negatif lebih kuat daripada yang positif.
Satu kritik kecil bisa membuat kita sulit tidur selama berhari-hari, sementara sepuluh apresiasi tidak diingat. “We are velcro for negative experiences, and teflon for positive ones”. Tanpa sadar, kita memiliki kebiasaan untuk mengkritik diri, sampai lama-kelamaan meragukan kemampuan diri kita sendiri.
“Sabotase diri” tidak muncul dalam aksi besar yang langsung terlihat. Ia hadir dalam bentuk kecil, berulang, dan terasa “masuk akal.” Tanpa disadari, narasi memori-memori negatif sedikit demi sedikit tumbuh menjadi keyakinan diri. Seorang profesional yang beberapa kali dikritik mulai merasa dirinya tidak cukup kompeten sehingga menjadi lebih berhati-hati, lebih defensif, atau justru menghindari proyek yang menantang.
Seorang pemimpin yang pernah gagal dalam proyek besar tumbuh menjadi perfeksionis yang micromanage, memastikan semuanya terkendali sampai kehilangan kelincahan dalam mengambil keputusan. Mereka yang selalu siap membantu, selalu ada ketika dibutuhkan, hingga mengabaikan waktu untuk diri sendiri bisa jadi dilandasi kekhawatiran dianggap tidak peduli dan kontributif ketika gagal hadir. Padahal, dalam jangka panjang dengan energi yang terkuras dan kelelahan, ia sulit berfokus pada tugas yang lebih penting.
Brianna Wiest dalam buku The Mountain is You menjelaskan bahwa sabotase diri adalah suatu bentuk perlindungan dari rasa tidak nyaman, ketakutan akan kegagalan ataupun penolakan. Perlindungan ini terbentuk dari pengalaman masa lalu, yang terus aktif hingga sekarang meskipun situasinya mungkin sudah tidak lagi relevan. Kompetensi kita yang semakin meningkat dari berbagai macam pelatihan, atasan yang sudah berganti pun tidak dapat menerobos tameng perlindungan itu.
Keluar dari lingkaran ini
Keluar dari sabotase diri justru bukan dengan memaksa diri menjadi lebih disiplin atau lebih kuat. Semakin dipaksa dan merasa terancam semakin dalam pola itu mengakar karena berasal dari kebutuhan melindungi diri.
Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran diri kita. “Apa yang sebenarnya saya khawatirkan? Seberapa sering kekhawatiran itu tumbuh menjadi kenyataan?”
Kita sering merasa tidak cukup, bukan karena fakta, melainkan narasi yang diulang terus-menerus. Satu kegagalan kecil menjadi bukti bahwa kita tidak mampu. Satu kritik menjadi dasar bahwa kita tidak layak. Di sinilah kita perlu mengambil jarak untuk belajar membedakan antara realitas dan cerita yang kita bangun tentang realitas itu.
Ketika pikiran berkata, “Saya tidak siap,” kita bisa berhenti sejenak dan bertanya,“Ini fakta atau hanya perasaan yang sedang berbicara?” Bukan mengabaikan emosi, melainkan menggali lebih dalam untuk lebih memahaminya.
Langkah berikutnya adalah membangun hubungan yang lebih sehat dengan kegagalan. Selama kegagalan kita maknai sebagai label diri, kita akan terus mencari cara untuk menghindarinya dengan menunda, mengalihkan, atau memilih jalan yang lebih aman.
Namun, ketika kegagalan mulai kita lihat sebagai proses belajar yang membantu kita memahami apa yang perlu diperbaiki, intensitas rasa takutnya berkurang. Ini bukan berarti kegagalan menjadi menyenangkan. Namun, ia tidak lagi menjadi momok yang mengancam.
Yang paling penting adalah membangun kepekaan dalam mengenali kesuksesan-kesuksesan kecil dan merayakannya. Menghargai langkah keberhasilan kita sekecil apapun itu akan menambah tabungan energi positif dalam diri kita yang dapat digunakan ketika menghadapi kegagalan sehingga membantu kita kuat untuk bertahan dan bangkit kembali. Tidak hanya keberhasilan sendiri, tetapi juga keberhasilan orang lain karena emosi itu menular. Semakin banyak kita menebar hal-hal positif, semakin tebal tabungan energi kita.
Terakhir, kita perlu memastikan bahwa langkah yang kita ambil memiliki arah yang jelas. Banyak keputusan yang terlihat seperti perubahan, tetapi sebenarnya hanya bentuk pelarian. Kita berpindah pekerjaan, mengganti lingkungan, atau memulai sesuatu yang baru tanpa benar-benar memahami apa yang kita cari.
Keputusan diambil bukan karena tujuan yang jelas, melainkan dorongan untuk keluar dari situasi yang tidak nyaman. Padahal, seperti diingatkan, “Run toward something, not away from something.” Tanpa arah yang jelas, perubahan hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Pada akhirnya, keluar dari sabotase diri bukanlah perjalanan yang cepat. Ia lebih mirip proses membuka lapisan demi lapisan dalam diri kita, memahami apa yang selama ini kita lindungi, cerita apa yang kita percayai, dan bagian mana dari diri kita yang sebenarnya sudah siap untuk berubah.
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.