1. News
  2. Mojok
  3. Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

sidang-skripsi-itu-hal-yang-gampang,-yang-lebih-susah-itu-mengurus-berkas-penjajakan-dan-yudisium
Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

Setelah melaksanakan sidang skripsi dan merasakan sendiri bagaimana ribetnya proses yudisium, saya setuju kalau ini juga sama sulitnya

“Hah? Yudisium lebih layak dirayakan? Apa layaknya? Kan cuma fotokopi dan minta TTD. Masa iya hal sepele kek gitu lebih layak dirayain?”

Itulah kalimat yang mungkin muncul di kepala saya ketika saat itu tidak sengaja membaca sebuah artikel di Terminal Mojok yang berjudul “Yudisium Lebih Layak Dirayakan daripada Sempro, Sidang, dan Wisuda” yang ditulis oleh Kuncoro Purnama Aji.

Ketika sedang membaca artikel itu, saya masih seorang mahasiswa yang belum melaksanakan yudisium. Malah saya saat itu masih sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi sidang skripsi yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Makanya, ketika membaca artikel itu, saya langsung berpikir, “Bukankah sidang skripsilah yang lebih layak dirayakan?”

Soalnya kan udah nyusun skripsinya susah, cari datanya juga susah, belum lagi nanti pas sidang kan pasti susahnya minta ampun karena harus gontok-gontokan sama dosen penguji selama beberapa jam. Lah masa iya, proses fotokopi dan tanda tangan malah dianggap lebih berharga daripada perjuangan menghadapi para penguji?

Namun setelah saat ini sudah melaksanakan sidang dan merasakan sendiri bagaimana ribetnya proses yudisium dan penjajakan, akhirnya saya paham kenapa menyelesaikan tahap ini sepertinya lebih layak dirayakan.

Sidang skripsi itu sebenarnya mudah

Mungkin di bayangan para pembaca sekalian, sidang skripsi itu pasti menakutkan dan mendebarkan, karena bakal dibantai dosenlah atau mungkin hal yang paling sering ditakutkan adalah tidak lulus sidang. Seperti informasi yang sering kita lihat berseliweran di beranda Instagram yang membahas sidang skripsi itu seperti apa sih. Namun setelah saya sidang, dapat saya pastikan sebenarnya yang sulit dari sidang skripsi itu ternyata cuman satu.

Menurutku hal yang paling sulit dari sidang skripsi adalah merasa gugup dah itu aja. Selebihnya, kalau kita mengerjakan skripsi dengan jujur dan sungguh-sungguh, harusnya sih gampang-gampang saja. Lebih sulit menahan agar tidak gugup ketika dilihatin tiga orang yang lebih ahli daripada kita.

Entah kenapa, ketika dilihatin dosen, kepala saya yang ketika malam hari sebelum sidang sudah seperti calon pemenang nobel, bisa lupa semua layaknya orang amnesia. Sudah, itu saja yang paling berat. Selainnya mah cuma kayak diskusi pas kelas aja, bedanya cuma sama dosen. Habis sidang, nilai langsung keluar, dan ya udah, bisa langsung foto dan hahahihihi sama teman teman.

Terlihat sepele, tapi ternyata lebih sulit diselesaikan

Sebenarnya, proses penjajakan dan yudisium jauh lebih sulit. Memang jika dilihat prosesnya terdengar sepele karena cuma minta tanda tangan dan upload ini-itu, habis itu selesai. Namun setelah mencoba prosesnya sendiri, ternyata memang ini lebih susah untuk diselesaikan. Bahkan lebih sulit ketimbang sidang skripsi.

Pertama, kampusku mewajibkan upload pasfoto untuk ijazah menggunakan jas almamater. Kemudian foto Kartu Keluarga, dan juga foto ijazah SMA yang tentunya aku harus mencari kembali di mana ijazahku satu itu karena sudah hampir 4 tahun lalu aku memegang benda tersebut. Semua berkas itu wajib diunggah ke website bernama Saya baik-baik saja untuk dicek oleh pihak universitas.

Setelah di-ACC, keluar nilai sementara yang harus dipelototi satu-satu biar nggak ada yang salah, sebelum akhirnya minta ACC ke Kaprodi dan Dosen Pembimbing Akademik (PA).

Kemudian setelah tahap tersebut barulah memasuki tahap yang paling menyebalkan dalam proses ini yaitu, berburu tanda tangan lembar pengesahan. Bayangkan, saya butuh tanda tangan dua dosen penguji, dosen pembimbing, Kaprodi, dan Dekan Fakultas. Saya pernah menghabiskan waktu sebulan lebih cuma demi memburu satu tanda tangan dosen penguji. Pernah juga saya nunggu dari pagi sampai menjelang sore di kampus, ujung-ujungnya chat WA saya cuma di-read tanpa balasan. Menyebalkan banget, kan?

Skripsi harus dipecah jadi lima

Lalu masuk ke tahap upload tugas akhir yang nggak kalah menyebalkan. Marginnya harus persis 4-3-3 layaknya formasi sepak bola. Kurang atau lebih sedikit, nggak bisa lanjut. Entah mata stafnya terbuat dari apa sampai bisa tahu margin belum sesuai cuma dalam sekali lirik.

Belum lagi skripsi lima bab itu harus dipecah per bab, abstraknya diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan di-burn ke dalam CD buat diserahkan ke perpustakaan. Oh, jangan lupakan urusan remeh seperti bikin akun ikatan alumni, ngurus surat bebas tanggungan perpus, sampai tanggungan biaya pendidikan. Memang gampang, tapi capeknya minta ampun.

Saya harus wira-wiri ke rektorat sampai ke bank buat bayar uang ikatan alumni sebesar 100 ribu, yang sampai detik ini saya nggak paham fungsinya buat apa selain bikin kantong mahasiswa miskin ini makin kering.

Menyelesaikan yudisium dan penjajakan adalah kemenangan sesungguhnya

Skripsi itu alurnya jelas cuman nulis, revisi, sidang, selesai. Kalau pusing, masih bisa ngajak teman yang bahkan dari kampus buat diskusi sambil ngopi. Lha, kalau penjajakan dan yudisium? Mau ngajak diskusi siapa? Syarat tiap fakultas, bahkan tiap jurusan saja bisa beda-beda. Ganti tahun ajaran saja bisa ganti aturan. Masa iya saya mau ngajak Kaprodi nongkrong di warkop buat nanyain proses ini?

Setelah melewati semua penderitaan itu, saya akhirnya benar-benar mengerti maksud artikel Mas Kuncoro. Kalau sidang skripsi adalah panggung unjuk kemampuan di depan tiga ahli, maka yudisium adalah pertempuran sesungguhnya. Melawan sistem administrasi, margin formasi 4-3-3, dan pesan WA yang dicentang biru tanpa balasan. Belum lagi keluar uang tambahan untuk syarat administrasi gaib yang nggak kelihatan apa gunanya.

Melihat berbagai dinamika yang menguras emosi dan dompet itu, saya mantap menyimpulkan: yudisium dan penjajakan sejatinya juga layak diberikan perayaan daripada saat selesai sidang maupun wisuda.

Penulis: Muhammad Bima Raihan Al Masyhur
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sidang Skripsi Nggak Perlu Dirayakan Berlebihan, Revisinya Belum Tentu Lancar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 5 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us