1. News
  2. Berita
  3. Situs Mbah Kopek: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Bumi Wali Demak

Situs Mbah Kopek: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Bumi Wali Demak

situs-mbah-kopek:-jejak-peradaban-hindu-buddha-di-bumi-wali-demak
Situs Mbah Kopek: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Bumi Wali Demak

banner

28 Agustus 2025 10.00 WIB • 3 menit

Situs Mbah Kopek: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Bumi Wali Demak

images info

Selama ini Kabupaten Demak dikenal luas sebagai pusat perkembangan Islam di Jawa, bahkan dijuluki sebagai Bumi Para Wali. Namun, di balik identitas religius itu, tersimpan jejak sejarah yang jauh lebih tua. Keberadaan Situs Mbah Kopek menjadi bukti nyata bahwa sebelum Islam berakar kuat, wilayah Demak telah lebih dahulu mengenal tradisi Hindu-Buddha.

Situs bersejarah ini berlokasi di Desa Pidodo, Kecamatan Karangtengah, sekitar 10 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Demak. Di sinilah ditemukan sejumlah arca kuno yang kemudian disimpan di sebuah bangunan sederhana berkat bantuan seorang donatur dari Jakarta.

Tempat Penyimpanan Arca Kuno

Pak Bayan, juru pelihara Situs Mbah Kopek, menuturkan bahwa dulunya arca-arca ini tersebar di jalanan. Agar lebih terjaga, masyarakat berinisiatif mengumpulkannya di satu tempat.

“Situs ini jadi tempat penyimpanan arca yang tersebar di jalan-jalan. Kemudian ada seorang donatur dari Jakarta yang membantu pembuatan bangunan kecil untuk penyimpanan arca,” jelasnya, dikutip dari kanal YouTube ASISI Channel.

Salah satu temuan paling berharga adalaharca Durga Mahisasuramardini, sebuah representasi Dewi Durga yang menaklukkan raksasa berkepala kerbau. Arca ini populer di berbagai candi masa klasik, salah satunya di Candi Prambanan yang terkenal dengan sebutan arca Roro Jonggrang.

Pak Bayan menegaskan bahwa keberadaan arca tersebut bukan untuk dipuja, melainkan sebagai warisan budaya yang wajib dilestarikan.

“Yang penting masyarakat menerima, bukan untuk disembah, karena ini semua untuk cagar budaya,” ungkapnya.

Ditemukan oleh Masyarakat Desa

Cerita mengenai penemuan arca ini datang dari warga setempat. Sanuar, Kaur Perencanaan Desa Pidodo, menceritakan bahwa awalnya arca ditemukan di area irigasi sawah. Karena dianggap penting, arca itu kemudian dipindahkan ke area makam desa dan ditempatkan di bawah pohon asem.

“Nenek moyang kami menemukan sebuah arca itu akhirnya dibawa ke makam yang berada di bawah pohon asem,” katanya.

Pada mulanya, masyarakat mengira arca tersebut hanyalah batu biasa. Namun seiring waktu, mereka menyadari bahwa benda ini memiliki nilai sejarah.

“Iya tetap kita uri-uri dan pelihara, kita melindungi dari untuk penemuan para leluhur,” ujar Sanuar.

Kini, arca dan peninggalan lain di Situs Mbah Kopek menjadi bagian dari identitas desa sekaligus simbol kebanggaan warga.

Usia dari Abad ke-5 hingga ke-8 Masehi

Menurut Roni Sulfa Ali, Analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Demak, situs ini diperkirakan berasal dari masa awal Mataram Kuno.

“Benda tersebut sudah ada sekitar abad ke-5 sampai dengan ke-8 Masehi. Situs ini juga ada kaitan dengan Situs Dudukan di Desa Blerong, Kecamatan Guntur,” jelas Roni.

Keterkaitan ini memperlihatkan bahwa Demak bukan sekadar wilayah dengan tradisi Islam yang kuat, tetapi juga bagian dari jaringan peradaban Hindu-Buddha di Jawa Tengah.

Koleksi Lain di Situs Mbah Kopek

Selain arca Dewi Durga, di situs ini juga ditemukan peninggalan lain yang mengindikasikan keberadaan kompleks peribadatan Hindu. Beberapa di antaranya adalah yoni, pecahan batu, serta bagian yang diduga merupakan kemuncak candi.

“Dugaan kami Dewi Durga, dilihat dari hiasannya kemudian dari ornamen dan juga seperti memiliki sebuah lembu atau nandi. Kemudian ada yoni, walaupun sudah ada bekas kerusakan dan ada pecahan yang kemungkinan besar kemuncak candi atau bagian candi yang tidak utuh,” terang Roni.

Temuan-temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa Desa Pidodo dulunya merupakan lokasi penting dalam penyebaran Hindu-Buddha di kawasan pesisir Jawa.

Status Objek Diduga Cagar Budaya

Meski memiliki nilai historis tinggi, Situs Mbah Kopek belum resmi ditetapkan sebagaibenda cagar budaya. Saat ini, statusnya masih berupaObjek Diduga Cagar Budaya (ODCB).

“Jadi memang kita tidak bisa serta merta menyatakan sebuah benda dan bangunan sebagai cagar budaya. Namun (status ODCB) untuk memudahkan dan juga melindungi benda tersebut,” papar Roni.

Status ODCB ini penting agar situs tetap terjaga dan terlindungi dari potensi kerusakan maupun pengabaian. Sesuai dengan amanat UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setiap objek yang diduga memiliki nilai sejarah wajib mendapatkan perlindungan sebelum dilakukan kajian mendalam.

Menyambung Jejak Sejarah Demak

Keberadaan Situs Mbah Kopek memberikan gambaran baru tentang perjalanan sejarah Kabupaten Demak. Jika selama ini Demak identik dengan Wali Songo dan perkembangan Islam di Jawa, situs ini menunjukkan bahwa jauh sebelumnya wilayah tersebut telah menjadi tempat tumbuhnya peradaban Hindu-Buddha.

Dengan keberadaan arca Durga Mahisasuramardini, yoni, dan pecahan candi, Situs Mbah Kopek seakan menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu Demak sebelum kedatangan Islam. Jejak inilah yang menjadikan Demak semakin kaya, bukan hanya dalam hal spiritual Islam, tetapi juga dalam khazanah budaya Nusantara.

Sumber:

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editor arrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Situs Mbah Kopek: Jejak Peradaban Hindu-Buddha di Bumi Wali Demak
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us