1. News
  2. Kombitainment
  3. Sukatani: Spirit Punk Agraria di Balik Gimmick Sayur

Sukatani: Spirit Punk Agraria di Balik Gimmick Sayur

sukatani:-spirit-punk-agraria-di-balik-gimmick-sayur
Sukatani: Spirit Punk Agraria di Balik Gimmick Sayur

“Indonesia adalah negara agraris,” begitu kata guru-guru sekolah ketika menyampaikan gambaran mengenai negara ini seperti apa. Tapi, apakah betul negara ini penuh dengan pertanian? Menyedihkannya, barangkali adalah kita yang sudah terlalu lama tinggal di kota. Maka, mari singkirkan dulu baju kekotaan kita, lalu pergi jauh ke Purbalingga. Di sana, agraria bukan cuma predikat yang disampaikan di sekolah, melainkan spirit yang membuat para anak muda ini terus bersemangat menjalani hidupnya.

Spirit untuk menguri kebudayaan pertanian itulah yang membuat Sukatani hidup. Mereka lahir dari kolektif pertanian yang giat melakukan lokakarya hingga diskusi-diskusi serius perihal pertanian. Dari nama band sudah gamblang rasanya bahwa mereka adalah band yang benar-benar gandrung dengan apa yang disebut tani.

Saya menemui Alectroguy, separuh nyawa dari Sukatani, dalam sebuah obrolan yang terik di tengah hari Ramadan, 5 Maret 2026. Ia tampak letih sebagaimana orang berpuasa pada umumnya. Ramadan memang paling enak dijalani dengan tidur. Demikian juga Alectroguy yang saat itu baru bangun pukul 12.43 WIB. Ia mengungkapkan bahwa jika di bulan Ramadan, aktivitas kegiatan mereka kebanyakan dipindahkan ke malam hari. Ya, jawaban seperti anak muda pada umumnya.

Sebelum dikenal sebagai Alectroguy dengan topeng, yang mengikuti rekam jejaknya mungkin akan mengenalnya sebagai penyanyi folk yang suka ngider di panggung-panggung bawah tanah. Sosok berambut ikal seleher dan berkacamata ini sebelumnya memang dikenal kerap manggung dengan membawakan lagu-lagu protes dengan sebuah gitar, seperti Bob Dylan. Cukup mengejutkan, pembawaannya yang kalem justru meliar ketika ia memakai topeng saat di atas panggung bersama Sukatani.

Keinginan untuk membuat Sukatani, Alectroguy sampaikan, sudah bermula sejak 2018. Saat itu adalah masa-masa keranjingan bermain Fruity Loops. Malam-malamnya dihabiskan untuk mengulik perangkat lunak yang biasa digunakan untuk membuat musik dari alat tersebut. Keinginan membuat band bersama sang istri, Twister Angel, pun menjadi menggebu-gebu. Proyek ini sempat diuji coba masuk studio untuk latihan, namun tidak dilanjutkan karena belum adanya persiapan yang matang.

Di tahun-tahun itu, berbarengan dengan anak-anak muda Purbalingga mulai giat menguri budaya pertanian, Alectroguy bersama 10 kawannya di Purbalingga membuat kolektif Harvest Mind yang berdiri pada 2018. Saat itu, mereka aktif membangun solidaritas dengan teman-teman PWPP-KP yang sering membuat diskusi mengenai agraria. Dari perkenalan dengan banyak aktivis agraria itu, mereka akhirnya bertemu dengan pegiat pertanian organik yang mempunyai Sekolah Tani Muda, bernama Mas Komar dari Sleman.

“Nah, ketemu Mas Komar, lalu kita ngobrol-ngobrol. Teman-teman tuh tertarik sama konsep pertanian organik. Jadi lebih ke pertanian organiknya. Mungkin kalau pertanian konvensional, tidak terlalu membuat teman-teman tertarik. Dari konsep pertanian organik ini, ternyata seru, keren, dan filosofis. Kayak gitu-gitu awalnya,” ujarnya.

Sepulangnya bertemu Mas Komar, Alectroguy bersama Harvest Mind langsung menerapkan ilmunya dengan mengelola dua sawah di Purbalingga—satu di tengah kota dan satunya di pinggir kota. Mereka secara gotong royong dan sukarela turun ke sawah untuk menanam padi. Sawah itu dipinjamkan secara sukarela dari salah seorang anggota Harvest Mind karena saat itu mereka tidak punya biaya. Sawah tersebut pun akhirnya menjadi laboratorium bersama untuk belajar mengenai pertanian.

Para anak muda ini seperti ingin mengubah stereotip bahwa bertani itu tidak keren. Dengan modal ilmu seadanya dan kenekatan yang sudah naik ke ubun-ubun, mereka mengelola sawah itu dengan riang gembira. Dari sanalah muncul jargon: “isuk tani, bengi party,” yang berarti pagi bertani, malam berpesta. Selain bertani, mereka juga saat itu aktif mengampanyekan pesannya di media sosial seperti Instagram dan Twitter. Dari media sosial itu, Harvest Mind akhirnya mempunyai jejaring yang lebih luas.

Belajar mengenai pertanian organik ternyata bukan cuma sekadar tren belaka. Ketika diulik, banyak ilmu yang didapat hingga mampu diterapkan dengan baik jika diaplikasikan dengan cermat. “Belajar pertanian organik itu kaitannya bukan cuma untuk ekonomi dan sosial saja, tapi juga untuk ekologis, ke lingkungan,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, Harvest Mind sebagai komunitas pun terus bertumbuh. Banyak anak-anak muda di Purbalingga dan sekitarnya turut membersamai mereka. Hingga pada akhirnya, atas saran Mas Komar, Harvest Mind dikenalkan dengan sosok guru baru bernama Pak Dhe Tri yang tinggal di Banyumas. Dari Pak Dhe Tri ini, Alectroguy cs. dikenalkan dengan Mbah Gatot Surono yang ternyata tinggal di Purbalingga. Perlu diketahui, Mbah Gatot yang meninggal pada 19 Agustus 2019 ini terkenal setelah diwawancarai oleh Froyonion.

Alectroguy pun menceritakan wasilah keilmuan yang diperoleh dari Harvest Mind. Dari Mas Komar, Pak Dhe Tri, hingga Mbah Gatot adalah sosok-sosok penting yang membuat semangat menguri agrikultur harus terus disuarakan. Dari pertemuan-pertemuan yang intens itulah, mereka dengan berani membuat gebrakan dengan bertani dan terus membuat forum-forum soal pertanian. “Dari situ kita terus membuat movement. Sosok Mbah Gatot ini inspiratif. Wawancaranya di Froyonion itu aku potong lalu saya masukkan ke lagu Sukatani,” tambahnya.

Di sela-sela kegiatan bertani setiap harinya, jiwa musisi Alectroguy pun terpanggil. Karena sudah lelah mencari anggota band, ia pun memutuskan untuk membuat duo bersama sang istri. Hingga tercetuslah band Sukatani pada 2022. Ide tersebut muncul setelah Alectroguy dengan proyek solonya manggung di sebuah kafe di Tangerang.

“Baru setelah pandemi, sekitar tahun 2022, aku diajak manggung proyek solo di kafe teman di Tangerang. Di situ aku berpikir, ‘Kenapa proyek ini tidak coba aku bawa ke panggung saja?’ Sebenarnya aku dan vokalis memang ingin punya band dari dulu, tapi susah cari personel yang cocok dan meluangkan waktu bareng itu sulit. Akhirnya, saat ada tawaran manggung itu, kami putuskan berdua saja pakai sequencer. Tinggal ditambah gitar dan vokal, jadi lebih gampang,” ujarnya.

Sepulang dari Tangerang, Alectroguy dan Twister Angel pun menjadi fokus di dapur rekaman. Mereka mulai membuat lagu-lagu baru untuk menjadi sebuah album. Hingga lahirlah album Gelap Gempita pada 24 Juli 2023. Album ini rilis secara digital oleh netlabel asal Yogyakarta, Dugtrax Records. Berisi delapan lagu fenomenal yang akhirnya mendapat penghargaan album terbaik Tempo di tahun perilisannya. 

Sebagai band yang tumbuh dan lahir di Purbalingga, lagu-lagu Sukatani memang menyuarakan tentang pertanian dengan gaya yang khas. Musik new wave/post-punk dibawakan dengan bahasa Indonesia campur bahasa ngapak Purbalingga yang unik. Ramuan tersebut ternyata mendapat respons yang baik dari pecinta musik. Baru saja merilis album, tawaran manggung Sukatani pun membanjir. Tahun-tahun awal itu, Sukatani menjadi sangat sibuk dengan jadwal manggung setiap minggunya.

Dari gigs bawah tanah hingga festival macam Synchronize dan Pestapora pun mereka jabani. Sukatani muncul sebagai roster baru dengan gaya panggung yang khas: tampil dengan dress code bertopeng dan dandanan street punk, dipadu dengan gimmick membagi-bagikan sayur di setiap panggungnya. Hal ini tentu mendapat simpati besar dari para pecinta musik Indonesia. Panggung-panggung Sukatani menjadi sangat meriah.

“Kami mencari nama yang pas. Karena materi lagunya banyak mengangkat isu pertanian, terpikirlah nama Sukatani. Genre kami kan antara post-punk dan new wave, biasanya band genre begini namanya keren-keren pakai bahasa Inggris. Nah, aku justru ingin menabrakkan musiknya dengan nama yang konotasinya ndeso,” ucap Alectroguy sambil meringis.

Sukatani, bagi Alectroguy, juga ingin membangkitkan memori masa kecil tentang sebuah desa agraris dengan hamparan sawah hijau yang menyejukkan mata. Di sana, para petani hidup dengan keluarga kecil yang bahagia. “Kalau dengar kata itu, bayangannya adalah desa yang asri, makmur, dan sejahtera. Jadi, nama itu sekaligus menjadi doa. Akhirnya kami sepakat pakai nama itu, latihan, dan pertama kali manggung membawakan tiga lagu di pertengahan 2022,” tambahnya.

Alectroguy menjelaskan bahwa Sukatani tercipta bukan sekadar gimmick semata. Kesadaran membuat musik semacam itu tumbuh akibat persentuhan dengan pertanian lewat kolektif Harvest Mind. Dari Harvest Mind itu juga, ia bersama teman-temannya menjadi punya banyak teman baru di kalangan musisi lain ketika berkunjung ke Purbalingga. Memiliki kolektif yang saling mendukung seperti ini membuat Sukatani semakin bersemangat dalam berkarya.

Lagu yang tercipta pun bukan sekadar sesuatu yang dinyanyikan di atas panggung. Lagu Sukatani menjadi penyemangat, doa, spirit perlawanan, dan juga pesan-pesan kebaikan untuk mereka yang mencintai alam lewat bertani. Wok The Rock merangkum catatan menarik dalam liner notes Gelap Gempita: “Selain menyuarakan kemuakan atas kebobrokan sistem dan kebatilan kuasa, Sukatani juga mengingatkan kita betapa pentingnya suara-suara tersebut disalurkan melalui sulur-sulur seni populer yang diamplifikasikan dalam ranah akar rumput. Mari kita bergoyang dan bernyanyi ramai-ramai merayakan mosi tidak percaya pada kebijakan politik para penguasa kapitalis.”

Sukatani dan Harvest Mind, dengan segala capaian-capaiannya, semestinya mampu menjadi pemantik para generasi muda untuk memikirkan pertanian. Hal tersebut sangat penting karena menyangkut banyak sektor vital masyarakat. Kampanye untuk kembali mengenalkan pertanian menjadi tidak hanya selebaran-selebaran pepesan kosong. Kabar bahwa anak muda sudah banyak meninggalkan pertanian semestinya sudah menjadi alarm darurat.

“Semoga pertanian itu bisa jadi salah satu kegiatan yang mudah diakses. Akses pertanian itu termasuk akses lahan, akses bibit, akses media tanam, akses tengkulak, dan lain sebagainya. Jika itu mudah, minat pertanian akan bertambah. Harapannya, banyak kelompok yang fokus pada pertanian organik, karena Harvest Mind fokusnya ke yang alami dan organik, bukan kimia dan konvensional yang kadang bisa merusak,” tutup Alectroguy.

Kini, setelah sukses memantik diskusi agrikultur yang mendapat respons banyak orang, Sukatani dan Harvest Mind bersiap melangkah lebih jauh. Sawah yang dulu mereka garap mungkin sedang tidak bisa diakses karena sudah dipakai orang. Namun, benih-benih kesadaran yang mereka sebar sudah mulai tumbuh di mana-mana. Dengan album baru yang sedang digarap dan rencana tur ke Australia di depan mata, Sukatani membuktikan bahwa suara dari desa bisa bergema hingga ke belahan dunia lain. Mereka tidak hanya membawa musik, tetapi juga membawa tanah, doa, dan martabat para petani dalam setiap lagu yang mereka mainkan.

Krisis pangan yang sudah di depan mata semestinya menjadi pengingat bahwa kita harus bersiap untuk bertani. Sukatani dan Harvest Mind telah menjadi barisan depan yang terus berinisiatif menghadapi kenyataan masa depan. Mereka membuktikan bahwa gitar dan cangkul bisa menjadi senjata yang sama tajamnya untuk memastikan bahwa hari esok, kita masih memiliki sesuatu untuk dirayakan di atas meja makan. Saat krisis pangan mulai membayangi dunia, ide bertani adalah gagasan yang cermat dan keren.

Spirit yang dibawa Alectroguy dengan segala gerakannya adalah pengingat pedih bagi kita yang terlalu lama nyaman di hiruk-pikuk kota: bahwa predikat “negara agraris” akan lumat menjadi sejarah jika tak ada lagi tangan muda yang mau menyentuh tanah. Di tengah bayang-bayang krisis pangan dunia, bertani bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan mosi percaya pada masa depan. Sebab ketika krisis itu tiba, musik mungkin bisa menghibur, namun hanya tanah yang dirawat dengan cintalah yang mampu memberi kita makan.


Foto artikel diabadikan oleh @noisaresip.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Sukatani: Spirit Punk Agraria di Balik Gimmick Sayur
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us