1. News
  2. Berita
  3. Tak Hanya Identik dengan Ritual, Kemenyan Juga Punya Potensi Ekonomi yang Menjanjikan

Tak Hanya Identik dengan Ritual, Kemenyan Juga Punya Potensi Ekonomi yang Menjanjikan

tak-hanya-identik-dengan-ritual,-kemenyan-juga-punya-potensi-ekonomi-yang-menjanjikan
Tak Hanya Identik dengan Ritual, Kemenyan Juga Punya Potensi Ekonomi yang Menjanjikan

Kemenyan (benzoin resin) | Wikimedia commons | Midori


Bagi sebagian orang, kemenyan dengan aroma asap yang mengepul sering dikaitkan dengan ritual gaib atau tradisi kuno yang jauh dari kesan modern. Stigma mistis pada kemenyan ini bukan muncul begitu saja, melainkan terbentuk lewat proses sosial yang panjang dan terus diwariskan secara turun temurun.

Di balik stigma tersebut, kemenyan sebenarnya merupakan getah kering yang dihasilkan dari batang pohon kemenyan, berupa kristal keruh berwarna cokelat atau putih yang mengeluarkan aroma khas ketika dibakar.

Minta Ito Melinda Harahap dan Eki Maryo Harahap dalam risetnya di Jurnal Maternitas Kebidanan menjelaskan, getah ini telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Pakpak Bharat untuk merawat luka dengan cara mengoleskan atau menempelkan kemenyan yang sudah dibakar ke bagian tubuh yang terluka.

Secara ilmiah, dalam buku Rahasia Anti Bakteri Getah Kemenyan, Formulasi Deodoran dan Sampo Alami, getah kemenyan mengandung sejumlah senyawa aktif bernama asam benzoat dan asam sinamat yang menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap sejumlah bakteri, termasuk Pseudomonas aeruginosa dan Propionibacterium acnes.

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan kemenyan yang lebih luas, dari sekadar bahan ritual menjadi bahan baku produk perawatan tubuh alami.

Selain itu, senyawa asam sinamat dalam kemenyan juga berkaitan dengan karakter aromanya. Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Ganis Lukmandaru, menjelaskan bahwa kemenyan yang tumbuh di Indonesia berasal dari genus Styrax. Hal ini berbeda dengan kemenyan dari Turki dan Arab yang berasal dari genus Boswellia.

Perbedaan genus inilah yang memengaruhi aromanya, sehingga membuka peluang pemanfaatan kemenyan Indonesia lebih luas, salah satunya sebagai bahan baku parfum.

“Keunggulannya di Indonesia ini bau madunya. Baunya itu agak kayak permen gitu. Itu keunggulannya,” ujar Ganis.

Sayangnya, potensi ini belum digarap maksimal di dalam negeri. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat, setidaknya 5.000 hingga 8.000 ton kemenyan bisa dihasilkan dari Sumatra Utara setiap tahun.

Dan sebagian besar dari jumlah itu justru diekspor dalam bentuk mentah untuk diolah di India, Singapura, dan Uni Eropa. Negara-negara itulah yang kemudian menikmati nilai tambah dari pengolahan kemenyan asal Indonesia.

Dari Getah Mentah Menuju Rupiah yang Lebih Berlipat

Jika diolah lebih lanjut di dalam negeri, nilai ekonomi kemenyan sebenarnya bisa melonjak jauh dari harga getah mentahnya.

Ganis menjelaskan, prosesnya  dapat dimulai dari getah kemenyan yang didistilasi menjadi minyak. Getah tersebut dipanaskan untuk memisahkan komponen yang mudah menguap, lalu uapnya didinginkan hingga menjadi minyak. Dan minyak tersebut kemudian dapat diolah menjadi parfum atau diproses lebih lanjut hingga memperoleh senyawa tunggal dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Dari tahap distilasi ini saja, nilai kemenyan dapat meningkat 20 kali lipat dibandingkan harga getah mentahnya.

“Menjadi minyak ini sudah dipisah antara yang mudah menguap dan yang tidak. Menjadi parfum itu sudah produk lagi. Apalagi dipisah sampai level senyawa tunggal, itu lebih mahal lagi. Visinya ke sana,” katanya.

Sebagai gambaran, Ganis mencontohkan pengembangan industri derivat getah pinus. Sekitar tahun 2015, industri derivat mulai dibangun di Pemalang sehingga getah pinus dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Nanti harusnya kemenyan juga kayak pinus gitu. Ending-nya itu. Kita sudah punya contohnya. Getah pinus itu,” ujarnya.

Saran Hilirisasi dan Tantangan yang Masih Mengadang

Hilirisasi kemenyan menurut Ganis tidak harus langsung lewat pabrik besar, seperti pengolahan minyak kayu putih dan kenanga yang biasa dilakukan skala rumah tangga.

Pola tersebut bisa diterapkan pada kemenyan melalui pengolahan getah menjadi minyak. Dengan nilai tambah yang lebih tinggi, petani dapat memperoleh pendapatan lebih besar tanpa harus meningkatkan jumlah getah yang dipanen.

“Kalau nilai tambahnya tinggi, dengan jumlah produk yang sama, pendapatan yang diperoleh bisa lebih besar. Jadi, harapannya, petani tidak perlu memanen dalam jumlah banyak untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Kalau nilai tambahnya rendah, mereka harus memanen lebih banyak untuk memperoleh pendapatan yang cukup. Sebaliknya, kalau nilai tambahnya tinggi, dengan pendapatan yang lebih besar, mereka cukup memanen lebih sedikit. Ini kan lebih melindungi,” jelas Ganis.

Di sisi lain, standardisasi mutu menjadi salah satu tantangan hilirisasi kemenyan karena standar yang ada belum sepenuhnya menjadi acuan dalam perdagangan.

Selain itu, sebagian besar penyadap saat ini merupakan generasi yang lebih tua, sehingga keberlanjutannya perlu dijaga dari hulu hingga hilir, mulai dari regenerasi penyadap hingga pengembangan produk turunannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tak Hanya Identik dengan Ritual, Kemenyan Juga Punya Potensi Ekonomi yang Menjanjikan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us