1. News
  2. Berita
  3. Tenang, BRIN Bilang El Niño 2026 Bukan ‘Godzilla’, Meski Kemaraunya Tetap Panjang

Tenang, BRIN Bilang El Niño 2026 Bukan ‘Godzilla’, Meski Kemaraunya Tetap Panjang

tenang,-brin-bilang-el-nino-2026-bukan-‘godzilla’,-meski-kemaraunya-tetap-panjang
Tenang, BRIN Bilang El Niño 2026 Bukan ‘Godzilla’, Meski Kemaraunya Tetap Panjang

22 Juni 2026 12.00 WIB • 3 menit

Tenang, BRIN Bilang El Niño 2026 Bukan 'Godzilla', Meski Kemaraunya Tetap Panjang

images info

Masyarakat tidak perlu panik menghadapi berbagai informasi mengenai potensi El Niño ekstrem pada 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan peluang terjadinya Godzilla El Niño, yaitu El Niño dengan intensitas sangat kuat yang mampu memicu kekeringan ekstrem, sangat kecil pada tahun ini. Meski demikian, BRIN mengingatkan bahwa musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal sehingga tetap memerlukan kewaspadaan dari pemerintah maupun masyarakat.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan hasil analisis berbagai model iklim global menunjukkan bahwa kondisi tahun 2026 lebih mengarah pada El Niño kategori moderat. Peluang terjadinya fenomena tersebut diperkirakan sekitar 27 persen, jauh berbeda dibandingkan El Niño super kuat yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015.

“El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” ujar Albertus dalam laporan perkembangan El Niño 2026, Sabtu (20/6).

Mengapa El Niño Mengurangi Curah Hujan di Indonesia?

Albertus menjelaskan bahwa El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan suhu laut tersebut menggeser pusat pembentukan awan hujan yang dalam kondisi normal berada di sekitar perairan Indonesia.

Akibat pergeseran itu, pembentukan awan lebih banyak terjadi di kawasan Pasifik Tengah sehingga wilayah Indonesia menerima curah hujan yang lebih sedikit. Dampaknya dapat berupa musim kemarau yang lebih panjang, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap sektor pertanian.

Berdasarkan proyeksi BRIN, puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Beberapa wilayah di Pulau Jawa diprediksi mengalami kondisi sangat kering, terutama di Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung. Secara keseluruhan, peluang terjadinya musim kemarau yang lebih panjang diperkirakan mencapai sekitar 81 persen.

Mengapa Godzilla El Niño Sulit Terjadi Tahun Ini?

Menurut Albertus, terdapat sejumlah faktor ilmiah yang membuat peluang munculnya Godzilla El Niño pada 2026 sangat kecil. Salah satunya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase netral dan diperkirakan bertahan hingga April 2027. Kondisi tersebut tidak memberikan dorongan tambahan yang biasanya memperkuat dampak El Niño terhadap Indonesia.

Selain itu, kawasan Pasifik baru saja mengalami El Niño kuat pada periode 2023–2024. Setelah mengalami fenomena tersebut, lautan membutuhkan waktu untuk kembali mengumpulkan energi yang cukup guna membentuk El Niño dengan intensitas sangat tinggi. Karena itu, kemungkinan munculnya El Niño ekstrem dalam waktu yang berdekatan dinilai rendah.

Meski demikian, BRIN menemukan sinyal yang perlu menjadi perhatian untuk jangka menengah. Berdasarkan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Niño diperkirakan meningkat hingga mendekati 40 persen pada periode akhir 2027 sampai pertengahan 2028. “Temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah,” kata Albertus.

Teknologi Mitigasi Disiapkan untuk Mengurangi Dampak

Mengantisipasi potensi dampak kemarau panjang, BRIN telah mengembangkan sejumlah teknologi berbasis riset. Salah satunya adalah platform Ina-Carbon yang mampu memantau kondisi lahan gambut secara real time, termasuk tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, hingga kualitas udara. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi kondisi kritis lahan gambut satu hingga dua minggu sebelum kebakaran hutan dan lahan terjadi sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan lebih cepat.

BRIN juga mengembangkan teknologi drone pemadam kebakaran yang mampu menjangkau lokasi-lokasi terpencil yang sulit diakses petugas di lapangan. Di sektor pertanian, berbagai inovasi adaptasi turut disiapkan, mulai dari sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak sebagai alternatif produksi pangan ketika lahan pertanian mengalami kekurangan air.

Albertus menegaskan bahwa dampak El Niño tidak hanya ditentukan oleh kekuatan anomali iklim, tetapi juga oleh kesiapan dalam melakukan mitigasi dan adaptasi. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada tanpa perlu khawatir berlebihan. “Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat pengelolaan sumber daya air, mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan, serta memastikan ketahanan pangan tetap terjaga. Dengan mitigasi dan adaptasi yang tepat, dampak El Niño dapat ditekan seminimal mungkin,” pungkasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tenang, BRIN Bilang El Niño 2026 Bukan ‘Godzilla’, Meski Kemaraunya Tetap Panjang
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us