Kehormatan sepak bola Indonesia berikutnya ditentukan oleh cara kita memperlakukan orang yang berjuang untuknya
Jakarta (ANTARA) – Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup perdana setelah menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4–2, di Gelora Bung Karno, 5 Oktober.
Sungguh penantian panjang setelah 35 tahun sejak sepak bola senior SEA Games 1991 meraih emas. Hasil juara telah mengubah kegelisahan panjang menjadi kegembiraan nasional. Masif. Trending topik lah.
Indonesia perlu berterima kasih kepada pelatih kepala John Herdman. Juga kepada para bintang timnas seperti Kevin Diks, Elkan Baggott, Dean James, Shayne Pattynama, Ole Romeny, Egy Maulana Vikri, Rizki Ridho, Emil Audero yang telah memperlihatkan kebersamaan yang menghasilkan trofi.
El Capitano Diks menyebut keberhasilan itu sebagai kebanggaan terhadap tim dan fondasi perjalanan mereka berikutnya.
Ingatlah ekspresi Herdman ketika Audero dengan gagah perkasa menggagalkan penalti penentu Thailand. Dua kepalan tangannya mengeras, urat lengannya menonjol, dan teriakan “yaaa” terlepas sekuatnya. Lega, bangga, dan beban yang sekian lama dipikulnya dilepaskan dalam satu gerakan spontan.
Itulah gerakan bawah sadar seorang pelatih yang akhirnya dapat bernapas lapang. Mengapa begitu emosional? Karena bagi Herdman, kemenangan itu menyentuh sisi manusiawinya yang telah menuntaskan amanah sebuah bangsa yang dipercayakan kepadanya.
Dua bulan sebelumnya, suasananya jauh berbeda. Dalam ASEAN Hyundai Cup 2026, yang lazim disebut Piala AFF, Indonesia kalah 0–3 dari Vietnam pada 3 Agustus, lalu tersingkir setelah ditahan Singapura 1–1 pada 7 Agustus.
Saat timnas babak-belur, di tribun stadion terdengar bentakan keras suporter Shame on you, John! ; di media sosial muncul tuntutan John out dan tagar pemecatan. Ada kritik tentang miskinnya alternatif taktik, serangan yang tidak padu, dan pertahanan kacau. Kritik teknis itu layak-layak saja.
Namun, membandingkannya dengan Shin Tae-yong untuk merendahkan martabat pribadi Herdman jelas tidak memperbaiki apapun. Kecewa boleh. Menghina jangan. Apalagi saat event Agustus itu tak ada Pelupessy, Diks, Baggott, James, Audero, Paes, Verdonk, Hubner, dan Vickery. Mereka tidak dilepas klub karena Piala AFF bukan event resmi FIFA.
Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975; kini berusia 51 tahun dan berkewarganegaraan Britania Raya. Ia pernah mengajar ilmu olahraga di Northumbria University, Newcastle, Inggris, dan bekerja dalam pembinaan pemain muda Sunderland.
Sertifikat kepelatihan FA diperoleh Herdman pada 1995, disusul lisensi UEFA B pada 1999 dan diploma UEFA A.
Ia menangani tim putri Selandia Baru pada 2006–2011, termasuk di Piala Dunia 2007 dan 2011. Bersama putri Kanada, ia meraih perunggu Olimpiade 2012 serta 2016, kemudian Herdman membawa timnas senior putra Kanada ke Piala Dunia 2022 setelah penantian 36 tahun.
Prestasi moncer tersebut tentu tidak menjamin setiap pertandingan akan dimenanginya. Tetapi menyebut Herdman tidak mempunyai kemampuan jelas mengabaikan rekam jejak sama sekali. Tidak adil.
Karakter
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.