1. News
  2. Berita
  3. Terima Kasih, Malaysia

Terima Kasih, Malaysia

terima-kasih,-malaysia
Terima Kasih, Malaysia

Gambar ilustrasi, dibuat dengan bantuan Gemini AI dan Canva


Saya sedang menunggu kangkung krispi dan sup iga di sebuah warung makan di Surabaya Barat, dekat tempat tinggal saya. Pesanan belum datang, jadi saya buka-buka handphone untuk mengisi waktu, dan sesekali memperhatikan meja sebelah.

Meja sebelah ini ramai sekali. Mereka serombongan, mungkin 10 sampai 12 orang, dan tiga meja mereka gabungkan. Ramai sekali mereka mengobrol.

Mereka anak-anak muda yang rupanya sedang liburan. Mereka celingak-celinguk dengan wajah senang, memotret ke sana kemari, keluar masuk warung beberapa kali. Ketika makanan datang, mereka berucap seirama “Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” sambil memotret makanannya.

Dari bahasanya, Melayu yang kental, saya tahu mereka orang Malaysia. Apalagi saya cukup sering ke Malaysia.

Saya sebenarnya agak heran. Warung makan ini cukup jauh dari pusat kota Surabaya, dan wisman biasanya tidak akan pergi jauh-jauh dari sana. Saya sangat jarang bertemu turis asing di sini, termasuk dari Malaysia. Kalau ada turis asing di Surabaya, biasanya saya melihatnya di sekitar hotel-hotel di tengah kota atau di kawasan kota lama. Warung di Surabaya Barat seperti ini pelanggannya kebanyakan warga sekitar: keluarga yang makan bersama, pegawai yang mampir saat makan siang atau sepulang kerja, atau tamu yang turun dari tol menuju Kota Satelit di Surabaya Barat.

Karena itu rombongan anak muda ini terasa lain. Mereka tidak  tampak sedang tersesat, juga tidak sedang mengikuti pemandu wisata. Sepertinya mereka memang sengaja datang ke tempat ini, entah karena rekomendasi teman atau karena melihatnya di media sosial. Mereka memesan makanan tanpa ragu, lalu mengobrol dengan petugas restoran seperti pelanggan lama.

Setelah saya pikir-pikir, pemandangan seperti ini “seharusnya” tidak lagi terlalu mengejutkan. Belakangan saya makin sering mendengar cerita serupa dari berbagai kota. Orang Malaysia tidak lagi hanya ke Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, atau Malang, yang memang sudah lama populer di mata mereka. Dari Jakarta mereka naik kereta atau menyewa mobil ke Purwokerto, Garut, Salatiga, sampai Boyolali. Bahkan saya baca di Threads ada yang “kesasar” sampai ke Blora.

Kota-kota itu tentu jarang ada dalam rencana perjalanan wisman dari negara lain, yang biasanya ke Bali dulu, lalu Yogyakarta atau Labuan Bajo kalau waktunya cukup.

Alasannya tidak sulit ditebak. Bahasa kita mirip, jadi mereka bisa bertanya arah, menawar di pasar, atau mengobrol dengan pelayan warung tanpa kesulitan. Wajah mereka juga tidak berbeda dengan kita. Selama tidak bicara, orang tidak akan menyangka mereka turis asing. Dengan begitu mereka lebih leluasa masuk ke tempat-tempat yang biasa didatangi orang lokal.

Alasan lainnya soal uang. Ringgit sedang kuat terhadap rupiah. Saat saya menulis ini, satu ringgit setara sekitar Rp4.360. Dalam setahun terakhir, kursnya pernah berada di kisaran Rp3.800. Artinya, dengan jumlah ringgit yang sama, orang Malaysia sekarang mendapat rupiah sekitar 15 persen lebih banyak dibanding saat kurs berada di titik terendahnya. Sepanjang awal tahun ini, ringgit juga tercatat sebagai mata uang dengan penguatan tertinggi di Asia terhadap dolar Amerika.

Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Hariyadi Sukamdani, mengakui hal ini. Menurut dia, rupiah yang melemah membuat harga di Indonesia kompetitif, dan orang Malaysia “sekarang banyak banget yang datang ke Indonesia.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hal yang sama. Pada 2021, saat pandemi, kunjungan wisman berkebangsaan Malaysia tercatat 480.723. Setahun kemudian naik menjadi 1,21 juta, lalu 1,90 juta pada 2023 dan 2,27 juta pada 2024. Pada 2025 jumlahnya 2.639.749 kunjungan, lebih dari lima kali lipat dibanding 2021.

Tahun lalu, kunjungan wisman dari negara-negara ASEAN berjumlah 6,36 juta. Sekitar 41 persen di antaranya orang Malaysia. Singapura ada di urutan berikutnya dengan 1,53 juta. Dari total 15,39 juta kunjungan wisman sepanjang 2025, porsi Malaysia sekitar 17 persen, sesuai dengan angka yang disampaikan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pada akhir tahun lalu.

Tahun ini pun Malaysia masih di urutan pertama. Pada Juli 2026, dari 1,52 juta kunjungan wisman, sekitar 228 ribu adalah pemegang paspor Malaysia, naik 7,83 persen dibanding Juli tahun lalu. Australia dan Tiongkok menyusul di bawahnya. Di Riau, 41,53 persen wisman yang datang pada Juli adalah orang Malaysia.

Data kereta cepat Whoosh juga menarik. Hingga Agustus 2026, Whoosh sudah melayani 403.600 perjalanan penumpang asal Malaysia, atau 42,8 persen dari seluruh penumpang asing. Pada September, orang Malaysia rata-rata membeli 1.150 tiket Whoosh per hari. Menurut KCIC, mereka biasanya belanja di Jakarta, mencari makanan di Bandung, lalu ke Lembang atau Ciwidey.

Situasi global juga ikut berperan. Harga avtur naik dan tiket penerbangan jarak jauh menjadi mahal, sehingga wisatawan dari Eropa dan Amerika lebih sulit datang. Pasar regional seperti Malaysia yang menopang pariwisata kita saat ini. GIPI memperkirakan jumlah wisman tahun ini bisa melewati 16 juta kunjungan.

Bagi Indonesia ini jelas menguntungkan. BPS mencatat rata-rata pengeluaran wisman pada triwulan II 2025 sebesar US$1.199,71 per kunjungan. Itu rata-rata semua wisman, bukan khusus Malaysia. Kalau dikalikan dengan 2,6 juta kunjungan orang Malaysia, hasilnya sekitar tiga miliar dolar.

Hitungan itu tentu kasar. Banyak orang Malaysia datang sebentar lewat Batam atau Riau, dan pengeluarannya mungkin saja tidak sebanyak itu. Tetapi uang yang mereka belanjakan di warung, penginapan kecil, atau rental mobil di kota-kota seperti Salatiga dan Garut langsung sampai ke pelaku usaha setempat. Ekonomi lokal pun menggeliat.

Saya juga teringat soal asap. Hampir setiap tahun asap kebakaran hutan dan lahan dari Indonesia sampai ke Malaysia, dan tahun ini cukup berat. Pada 20 dan 21 Agustus, Malaysia menutup sekitar 591 sekolah di Sarawak karena kabut asap dari Kalimantan. Hampir 200 ribu murid terdampak. Indeks pencemaran udara di Serian, dekat perbatasan Kalimantan Barat, sempat mencapai 239, masuk kategori sangat tidak sehat. Awal September, media Malaysia memberitakan pemerintah mereka menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran di Indonesia.

Data BPS untuk Agustus dan September belum keluar, jadi belum kelihatan apakah asap memengaruhi kunjungan. Yang jelas, pada September orang Malaysia masih membeli lebih dari seribu tiket Whoosh setiap hari, dan anak-anak muda di meja sebelah itu tampak menikmati liburannya tanpa beban.

Mungkin mereka tidak terlalu memikirkan soal asap itu saat berlibur. Kita yang seharusnya memikirkannya. Selain menyambut mereka dengan baik di warung dan stasiun, kita juga perlu mengurus kebakaran lahan supaya tidak terus mengganggu tetangga yang “berbaik hati” membawa devisa ke rumah kita.

Sambil makan, saya jadi memikirkan hal lain. Hubungan Indonesia dan Malaysia sering kali ramai justru karena urusan yang memisahkan. Kita pernah ribut soal lagu, tarian, batik, sampai batas wilayah. Di media sosial, perdebatan antarwarganet kedua negara bisa berlangsung berhari-hari hanya karena satu unggahan. Orang yang terlibat di dalamnya belum tentu pernah bertemu satu sama lain.

Anak-anak muda di meja sebelah itu mengalami dan merasakan Indonesia secara langsung. Mereka makan di warung yang sama dengan orang Surabaya, antre di stasiun yang sama, dan mungkin tersesat di jalan yang sama. Pengalaman seperti itu biasanya lebih lama diingat daripada perdebatan di internet. Banyak sekali  penumpang asal Malaysia membagikan pengalaman naik Whoosh di media sosial mereka. Saya kira foto-foto dari warung di Surabaya Barat tadi juga akan beredar di kalangan teman-teman mereka di Malaysia.

Arusnya juga tidak satu arah. Menurut Tourism Malaysia, sekitar 4,3 juta orang Indonesia berkunjung ke Malaysia pada 2025, lebih banyak dari jumlah orang Malaysia yang datang ke sini. Lewat program Visit Malaysia 2026, mereka menargetkan 4,7 juta wisatawan Indonesia tahun ini. Saat ini ada lebih dari 610 penerbangan langsung per minggu antara kedua negara, dengan kapasitas lebih dari 110 ribu kursi. Hubungan antarwarga dua negara ini sebenarnya sudah lama berjalan, jauh sebelum ada kereta cepat dan tiket pesawat murah.

Yang berubah sekarang adalah caranya. Kalau dulu orang Malaysia datang ke Indonesia sebatas belanja di Bandung atau Medan, kini mereka masuk sampai ke Boyolali dan Purwokerto. Mereka melihat Indonesia yang tidak ada di brosur: pasar tradisional, kota kecil, warung pinggir jalan.

Yang sering mereka ceritakan justru orang-orangnya. Di media sosial, cukup banyak orang Malaysia, terutama yang baru pertama kali ke Indonesia, menulis bahwa mereka terkejut dengan keramahan yang mereka temui. Petugas di bandara, pengemudi taksi, penjual makanan, kasir, sampai pegawai hotel. Banyak yang mengaku merasa nyaman, dan ingin datang lagi. Tentu tidak semua pengalaman seperti itu, tetapi cerita-cerita semacam ini yang kemudian dibaca teman dan keluarga mereka di Malaysia.

Kalau pengalamannya menyenangkan, mereka memang akan kembali. Data pemesanan Agoda menempatkan Indonesia satu dari lima negara Asia yang paling banyak ingin dikunjungi ulang oleh wisatawan luar negeri. 

Kunjungan ulang semacam itulah yang menurut saya bisa menjadi modal hubungan yang lebih dekat antara kedua negara. Pemerintah boleh menandatangani nota kesepahaman sebanyak-banyaknya, tetapi kedekatan antarwarga tumbuh dari pengalaman sehari-hari seperti ini. Orang-orang yang pernah makan sup iga di Surabaya dan naik kereta ke Bojonegoro, saling berteman dengan orang Indonesia, mungkin akan berpikir dua kali sebelum ikut memaki kedua negara di kolom komentar sosmed. 

Hal itu berlaku juga untuk kita. Cara kita memperlakukan tamu di warung, di terminal, dan di penginapan akan ikut menentukan cerita yang mereka bawa pulang.

Tak lama kemudian rombongan itu membayar dan pergi, sementara sup iga saya belum habis.

Terima kasih, Malaysia, sudah terus datang. Semoga lain kali kalian datang lagi, dan ajak banyak teman.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Terima Kasih, Malaysia
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us