1. News
  2. Kombitainment
  3. Ulasan Album Idgitaf Berusaha di Bawah Hujan: Belajar Mencintai, Meski Hujan Belum Reda

Ulasan Album Idgitaf Berusaha di Bawah Hujan: Belajar Mencintai, Meski Hujan Belum Reda

ulasan-album-idgitaf-berusaha-di-bawah-hujan:-belajar-mencintai,-meski-hujan-belum-reda
Ulasan Album Idgitaf Berusaha di Bawah Hujan: Belajar Mencintai, Meski Hujan Belum Reda

Setelah mengulas album Candramawa milik Danilla, tanpa pikir panjang yang selanjutnya saya dengarkan adalah karya musik terbaru Idgitaf. Kilas balik perkenalan dengannya, kami pertama kali bertatap muka secara virtual pada 23 Juni 2021 untuk membahas “Berlagak Bahagia”. Saat itu saya mendapat kesempatan menuliskan siaran persnya. Setelahnya, Creathink Publicist kembali memercayakan saya menulis sejumlah materi perilisan Idgitaf, hingga video musik “Mulai” dan perayaan satu tahun album Mengudara pada 2024.

Gita, panggilan akrabnya. Rasanya lebih sederhana dibandingkan nama panggung yang kini dikenal banyak orang. Pertemuan pertama kami memang hanya berlangsung lewat layar. Namun, dari cara ia menjawab setiap pertanyaan dengan lugas dan penuh keyakinan, saya langsung menangkap karakter yang kuat dalam dirinya.

Usia kami terpaut 15 tahun, empat bulan, dan 24 hari. Meski begitu, setiap kali berbincang dengannya saya selalu merasa menjadi gelas kosong yang perlu diisi. Bukan karena Gita tahu segalanya, melainkan karena ia selalu mampu menjelaskan proses kreatifnya dengan jujur, tanpa berusaha terdengar paling benar.

Selama bertahun-tahun menuliskan siaran pers karya-karyanya, saya belum pernah benar-benar merasa lagu-lagu Idgitaf begitu dekat dengan hidup saya. Sampai akhirnya satu lagu membuat saya ingin mendengarkan album ini dari awal.

Di atas sepeda motor menuju Stasiun Palmerah, seseorang itu menyodorkan sebelah AirPods miliknya. Sebelah kiri atau kanan, saya sudah lupa. Yang masih saya ingat hanyalah lagu yang mengalun saat itu, “Masih Ada Cahaya”. Lagu tersebut sebenarnya sudah lebih dulu beredar sebagai singel.

Saya tidak sedang mencari lagu baru. Saya hanya sedang mendengarkan.

Beberapa hari kemudian, lagu itu masih tertinggal di kepala saya. Barulah saya memutar Berusaha di Bawah Hujan dari awal.

Maka saya memilih mengulang perjalanan itu dari trek pertama.

Intro “Senyum dari Matahari” renyah terdengar. Gita terdengar jauh lebih lepas dibandingkan album pertamanya. Jika di Mengudara ia banyak mengajak pendengarnya berdamai dengan diri sendiri, kini ia mulai membuka pintu bagi orang lain untuk masuk ke dalam hidupnya. Bahkan ketika menyebut neraka dan surga sebagai perumpamaan, yang terasa justru bukan ketakutan, melainkan keberanian untuk mencintai.

Waktu memang berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang. Gita kini berusia 25 tahun. Di antara album pertama dan kedua, tentu banyak cerita yang ikut tumbuh bersamanya.

“Perasaan terbaiknya adalah saat aku discover kalau ternyata aku bisa bikin album cinta untuk pertama kali dan lebih istimewa lagi karena aku menggunakan analogi hujan,” katanya kepada saya.

Perjalanan berlanjut ke “Yuk Pulang”. Lagu ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna tentang pulang yang lebih luas daripada sekadar rumah. Siapa yang dimaksud Gita perlahan terasa menjadi rumah itu sendiri, tempat kembali setelah hari-hari yang melelahkan.

Lalu hadir “Mungkin di Depan Buram”. Masih tentang orang yang sama, mungkin. Lagu ini membawa kecemasan yang berbeda dari album sebelumnya. Jika dulu Idgitaf banyak menuliskan ketakutan terhadap dirinya sendiri, kini keresahan itu berpindah kepada seseorang yang ingin dipertahankan. Saat mulai merasa memiliki, rasa takut kehilangan ikut tumbuh. Barangkali memang begitu cara cinta bekerja.

Intro “Rencanamu Gagal (Tapi Kita Tidak)” manis sekali. Rasa penasaran membawa saya melihat siapa yang berada di balik produksinya, dan nama Lafa Pratomo muncul di sana. Liriknya seperti percakapan dua kepala yang sedang belajar menyatukan arah. Rencana boleh berubah, keadaan boleh tidak berjalan sesuai harapan, tetapi hubungan tidak harus ikut runtuh.

Selepas itu, “Mendung” menjadi jeda yang menenangkan. Lagu ini terasa paling jujur. Album cinta ternyata tidak selalu dipenuhi kebahagiaan. Ada ruang untuk meminta maaf, mengakui ego, dan menerima bahwa dua orang tidak selalu berjalan dengan langkah yang sama.

Di tengah mendengarkan album ini, saya akhirnya menyadari sesuatu. Berusaha di Bawah Hujan bukan album tentang jatuh cinta. Album ini justru berbicara tentang bagaimana mempertahankan cinta ketika kenyataan mulai menunjukkan bentuknya.

Gita mengaku sempat merasa tidak mampu menulis lagu-lagu bertema cinta.

“Tapi setelah menemukan judul Berusaha di Bawah Hujan, aku ngerasa itu tepat banget sama apa yang aku rasakan. Di mana aku mencintai despite all the circumstances. Tapi itu pun enggak cuma untuk cinta, melainkan kehidupan juga. Banyak pilihan yang enggak perlu menyenangkan orang lain, sama seperti kita yang mau menerobos hujan. Mungkin orang mikir, ‘Ngapain?’ Tapi mereka enggak tahu ada tujuan yang harus kita kejar.”

Dari situlah saya mulai memahami mengapa album ini terasa berbeda dari Mengudara. Dulu, Idgitaf menulis untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Kini, ia menulis tentang bagaimana tetap berjalan bersama orang lain, bahkan ketika hujan belum juga reda.

Perjalanan itu berlanjut di “Rutinitas”. Jika sebelumnya Gita banyak bercerita tentang keberanian mencintai, kini ia masuk ke wilayah yang lebih sunyi. Hubungan ternyata sering kali dibangun dari hal-hal yang berulang. Sapaan setiap pagi, kabar di sela kesibukan, atau kebiasaan pulang bersama yang lama-kelamaan terasa biasa. Sampai akhirnya muncul pertanyaan yang diam-diam menakutkan: bagaimana jika semua itu suatu hari berhenti?

Barangkali di situlah lagu ini terasa paling dekat dengan kehidupan. Bukan pada rasa takut ditinggalkan, melainkan kekhawatiran kehilangan hal-hal kecil yang selama ini membuat hubungan terasa utuh.

Lagu berikutnya, “Sedia Aku Sebelum Hujan”, kembali menggunakan hujan sebagai perumpamaan. Kali ini bukan tentang keberanian menerobosnya, melainkan kesiapan untuk tetap tinggal sebelum keadaan berubah. Ada keinginan untuk hadir lebih dulu, sebelum orang yang dicintai meminta ditemani.

Saya menyukai bagaimana Gita tidak tergesa-gesa menyelesaikan persoalan. Setiap lagu memberi ruang kepada pendengarnya untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan perjalanan tanpa merasa harus segera menemukan jawaban.

Lalu saya kembali teringat malam di atas sepeda motor menuju Stasiun Palmerah.

Lagu yang pertama kali saya dengarkan saat itu adalah “Masih Ada Cahaya”. Setelah akhirnya mendengar keseluruhan album, saya mengerti mengapa lagu itu menjadi pintu masuk yang tepat. Lagu ini tidak terdengar seperti seseorang yang sedang berusaha menghibur. Ia justru menemani. Tidak menawarkan jalan keluar, tetapi mengingatkan bahwa harapan selalu punya cara untuk tetap tinggal.

Mungkin lagu itu tidak sedang menyelamatkan saya malam itu. Namun, beberapa hari kemudian, lagu itulah yang membuat saya ingin memutar Berusaha di Bawah Hujan dari awal.

Bunyi gitar yang membuka “Setengah Langit”, kolaborasi bersama Dere, langsung mengingatkan saya pada aransemen musik Benjamin Francis Leftwich. Saya menyukai bagaimana lagu ini tidak menjadikan kolaborasi sebagai ajang saling menonjolkan diri. Suara Gita dan Dere justru saling memberi ruang hingga lagu ini terdengar seperti percakapan, bukan saling bergantian bernyanyi.

Memasuki “Kita Saling Jaga”, saya merasa album ini akhirnya sampai pada inti yang ingin disampaikan Gita. Cinta bukan lagi sekadar rasa berbunga-bunga atau ketakutan kehilangan. Ia berubah menjadi keputusan.

Keputusan untuk tetap tinggal.

Keputusan untuk saling menjaga.

Barangkali di titik inilah saya benar-benar memahami mengapa Berusaha di Bawah Hujan disebut Gita sebagai album cinta. Bukan karena seluruh lagunya berbicara tentang hubungan romantis, melainkan karena ia melihat cinta sebagai sesuatu yang perlu dirawat setiap hari. Tidak selalu mudah, tetapi selalu layak diperjuangkan.

“Tenang Saja (Ini Hanya Fase)” kemudian hadir seperti pelukan yang datang di waktu yang tepat. Lagu ini mengingatkan saya pada Idgitaf yang pertama kali dikenal banyak orang. Cara ia menulis lirik tetap sederhana, tetapi mampu membuat pendengarnya merasa sedang diajak berbicara secara langsung.

Kalimat “ini hanya fase” terdengar sederhana. Namun, semakin bertambah usia, saya justru percaya bahwa tidak ada perasaan yang benar-benar menetap. Bahagia datang dan pergi. Sedih juga demikian. Begitu pula kecewa, marah, takut, bahkan cinta. Semuanya bergerak mengikuti waktu.

Mungkin itu sebabnya lagu ini terdengar begitu menenangkan. Bukan karena menawarkan jawaban, melainkan mengingatkan bahwa setiap fase pada akhirnya akan berganti.

Perjalanan album kemudian ditutup oleh “Berusaha di Bawah Hujan”. Setelah mengikuti seluruh trek sebelumnya, saya baru memahami bahwa hujan yang dimaksud Gita bukanlah rintangan yang harus dilawan. Hujan adalah keadaan yang tidak bisa kita hentikan, tetapi tetap bisa kita lalui.

Ada orang yang memilih menunggu hujan reda.

Ada pula yang memutuskan tetap berjalan.

Dan album ini memilih tetap berjalan.

Album ini selesai diputar. Namun, saya masih penasaran dengan satu hal.

Seorang teman yang bukan pendengar Idgitaf sempat mendengarkan Berusaha di Bawah Hujan. Komentarnya sederhana.

“Albumnya nyaman. Tapi menurut gue ini bakal jadi album yang nanti orang bakal balik lagi, kayak 10 tahun lagi.”

Komentar itu saya sampaikan kepada Gita.

“Mungkin ya. Aku udah familiar sama laguku yang naik setahun dua tahun kemudian. Bisa jadi ini album yang begitu juga. Mungkin dampaknya bisa lebih besar karena album ini jauh lebih mateng daripada yang sebelumnya,” jawabnya.

Saya rasa ada benarnya.

Album ini tidak terasa seperti kumpulan lagu yang berdiri sendiri. Semakin didengarkan dari awal hingga akhir, semakin terasa bahwa setiap trek saling menyambung dan membentuk satu perjalanan yang utuh. Rasanya memang ingin dinikmati sebagai sebuah album, bukan dipilih sepotong-sepotong.

Sebelum menutup percakapan, saya bertanya satu hal lagi.

“Saya mengenal karya-karyamu sebagai lagu-lagu tentang proses penyembuhan. Kalau ada pendengar album ini yang sedang patah hati, apa yang ingin kamu sampaikan?”

Gita menjawab, “Album ini enggak semata-mata album cinta untuk orang lain, tapi juga ke diri sendiri. Denger album ini bikin berpengharapan untuk dapat merasakan cinta yang damai juga, dicintai juga sepenuhnya. Walaupun patah hati, tapi enggak putus berpengharapan. Aku ngerasa waktu enggak akan pernah terasa habis sama orang yang tepat, jadi jangan pernah putus asa buat cari orang yang tepat itu.”

Jawaban itu membuat saya kembali mengingat perjalanan Idgitaf selama beberapa tahun terakhir.

Saya mengenal karya-karyanya sebagai lagu-lagu yang lahir dari proses menerima diri sendiri. Di album ini, saya melihat Gita melangkah sedikit lebih jauh. Ia tidak lagi hanya berbicara tentang bagaimana menyembuhkan luka, tetapi juga bagaimana tetap memilih mencintai ketika luka itu mungkin datang lagi.

Kalau Mengudara terasa seperti perjalanan pulang kepada diri sendiri, maka Berusaha di Bawah Hujan adalah keberanian membuka pintu untuk orang lain.

Album pertama membuat Idgitaf berdamai dengan dirinya sendiri. Album kedua mengajarkannya berdamai dengan orang lain.

Barangkali itu juga alasan mengapa, setelah sekian lama hanya menuliskan kabar tentang karya-karyanya, baru kali ini saya memilih tinggal lebih lama bersama albumnya.

Mungkin itu pula alasan hujan dipilih sebagai analogi utama. Hujan tidak pernah meminta kita berhenti berjalan. Ia hanya mengingatkan bahwa setiap perjalanan selalu punya cuacanya sendiri.

Kadang kita memilih berteduh.

Kadang kita memilih tetap melangkah.

Dan kadang, seperti Idgitaf dalam album keduanya, kita memilih berusaha di bawah hujan.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Ulasan Album Idgitaf Berusaha di Bawah Hujan: Belajar Mencintai, Meski Hujan Belum Reda
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us