Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Artikel ini merupakan isi bab kedua dari buku “Cara Menjadi Relawan Garis Depan di Lokasi Gempa”. Bab kedua Posko Kemanusiaan Relawan garis Depan. Berisi 7 artikel (nomor 7 hingga 13).
Buku ini ditulis oleh Ahyar Stone (Pemimpin Redaksi Wartapala. Anggota Dewan Pengarah SARMMI). Terbit pertama Januari 2024. Penerbit Jasmine Solo, Jawa Tengah. Buku ini diterbitkan atas kerja sama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Wartapala, SARMMI. Selamat membaca. (Redaksi).
a. Desa Focus Area
Desa yang didampingi relawan garis depan disebut desa focus area. Di desa inilah relawan garis depan menyelenggarakan kegiatan kemanusiaan dan mendirikan posko kemanusiaan.
Meski posko kemanusiaan didirikan di sana, kalau kemampuan mumpuni dan personil di tim relawan Anda jumlahnya banyak, area pendampingan bisa diluaskan ke desa di sekitarnya.
Tetapi jika kemampuan dan personil terbatas, pendampingan cukup difokuskan di desa tempat mendirikan posko kemanusiaan.
Lebih baik Anda mendampingi satu desa tapi maksimal, daripada mendampingi banyak desa tetapi hasilnya cuma setengah-setengah, karena tak ada kegiatan kemanusiaan yang tuntas.
b. Pinjam Rumah Warga
Untuk posko kemanusiaan, dapat menggunakan tenda peleton. Tetapi tenda peleton tidak praktis. Membawanya berat. Memasangnya repot. Bila siang bagian dalam tenda peleton terasa gerah. Sering jadi genangan air bila turun hujan deras.
Sebagai ganti tenda peleton, relawan garis depan dapat memanfaatkan gedung sekolah, atau pinjam rumah rusak sedang yang tak dihuni karena pemiliknya mengungsi. Umumnya warga tidak keberatan rumahnya dipakai relawan yang mendampingi desanya.
Cari tempat yang ada halaman. Gunanya untuk parkir kendaraan yang menurunkan bantuan. Juga untuk mengumpulkan warga saat membagi bantuan. Halaman posko dapat pula difungsikan sebagai lokasi kegiatan kemanusiaan.
Mendirikan posko kemanusiaan di rumah warga atau di gedung sekolah, juga sebagai upaya relawan garis depan “memberi contoh”, agar warga kembali berani tinggal di dalam ruangan atau di rumahnya. Dalam banyak kejadian gempa, contoh adalah nasehat yang mujarab.
Bila warga desa focus area mendirikan camp pengungsian di ujung desa, lokasi mendirikan posko kemanusiaan jangan terlalu jauh dari tempat itu. Lebih dekat tentu lebih baik.

c. Posko Kemanusiaan
Setelah dapat pinjaman tempat — misalnya ruang kelas sebuah sekolah — lakukan mitigasi. Tujuannya untuk mengetahui potensi bahaya jika terjadi gempa susulan atau turun hujan deras. Periksa atap, dinding, pintu dan jendela.
Usai mitigasi, buat jalur evakuasi. Selama berposko di sana, jangan menaruh misalnya sepatu dan barang bantuan di jalur evakuasi. Jalur evakuasi harus selalu steril dari benda-benda yang berpotensi menghalangi gerak cepat penghuni posko menyelamatkan diri.
Ruangan kelas tadi disebut ruang posko kemanusiaan. Ruangan posko dikavling menjadi beberapa bagian sesuai kebutuhan. Misalnya ada tempat untuk menampung bantuan. Tempat menyimpan perlengkapan tim relawan dan seterusnya.
Sediakan pula tempat khusus untuk menaruh sepatu dan helm safety. Bila terjadi gempa susulan, semua relawan garis depan ingat letak sepatu dan helmnya. Sehingga ketika menyelamatkan diri, relawan garis depan tetap memakai alas kaki yang aman dan pelindung kepala.
Saat relawan garis depan tidur, dompet dan HP simpan di saku atau dekat bantal. Jangan taruh di tempat yang jauh.
Pintu posko cukup ditutup setengah dan jangan dikunci. Jendela biarkan terbuka. Kecuali kalau hujan deras.
d. Pasang Banner
Memasang banner posko kemanusiaan, sebaiknya tidak sembarangan. Banner dipasang di bagian depan posko kemanusiaan. Usahakan posisi banner jangan terlalu rendah. Tetapi jangan pula terlalu tinggi.
Tinggi yang ideal adalah sedikit di atas kepala orang dewasa berdiri. Selain bisa dilihat dari jauh, bila banner dijadikan latar belakang foto bersama posisi berdiri, tulisan di banner bagian bawah tidak tertutup kepala. Kalaupun tertutup hanya sedikit.

e. Surat Pemberitahuan
Setelah posko kemanusiaan didirikan, berikutnya buat surat ke Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Perihal surat adalah pemberitahuan. Bukan permohonan izin.
Isi surat minimal memuat : Nama organiasi. Daftar personil (cantumkan pula personil yang masih di perjalanan). Nama desa focus area. Berapa lama menyelenggarakan operasi kemanusiaan. Program yang dilakukan selama operasi kemanusiaan.
Surat Anda buat di desa focus area. Bisa pula minta pengurus induk organisasi Anda membuat surat seperti itu. Surat dikirim ke email Anda. Kemudian pindahkan ke flashdisk, lalu numpang print di BPBD atau ke tempat lain.
Surat pemberitahuan Anda antar ke BPBD sehari atau dua hari setelah posko kemanusiaan didirikan. Mencari posko BPBD di lokasi gempa, biasanya tidak sulit. Minta nomor kontak petugas yang menerima surat Anda. Ini untuk komunikasi lanjutan.
Surat Anda tadi, akan menjadi dokumen resmi BPBD untuk mendata relawan yang datang membantu daerahnya.
Bila operasi kemanusiaan selesai, Anda boleh membuat surat pemberitahuan ke BPBD. Atau menghubungi melalui handphone. Tetapi tidak membuat surat pemberitahuan juga tidak apa-apa. BPBD umumnya tahu kalau relawan sudah berangsur-angsur pulang ke daerah asal. (as).
Foto || SARMMI
Editor || Danang Arganata, WI 200050
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)