1. News
  2. Mojok
  3. Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

manisnya-nastar-mengingatkan-saya-akan-masa-lalu-yang-pahit-karena-cuma-bisa-menikmatinya-di-rumah-saudara
Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

“Lebaran aja, ya…” kata teman saya pas ditanya kapan nastar pesanan saya diantar. Padahal, percakapan itu terjadi sebelum bulan puasa. Kalau nastarnya diantar Lebaran ya berarti masih lama sekali, dong. Gagal deh rencana saya ingin buka puasa dengan nastar di minggu pertama.

Saya memang suka nastar. Suka sekali. Lembutnya butter dipadu dengan segarnya nanas, benar-benar melahirkan pengalaman nyemil yang menyenangkan. Saking senengnya, saya seringkali mencoba nastar dari seller yang berbeda. Soalnya, beda penjual beda pula rasanya.

Kecintaan saya pada nastar sudah berlangsung sejak lama. Yaitu, sejak saya masih duduk di bangku SD, sekitar tahun 90-an akhir. Namun, kala itu, cinta saya masih bertepuk sebelah tangan. Saya hanya bisa menikmati nastar di hari Lebaran, itu pun bukan nastar di rumah sendiri, tapi di rumah simbah.

Nastar barang mewah

Ketiadaan nastar di rumah bukan tanpa alasan. Kue kering satu ini tergolong mewah bagi keluarga kami. Itu sebabnya, ketika hari raya tiba, jajanan yang yang tersaji di meja hanya kletikan yang biasa dijual kiloan. Seperti, keripik, wafer, kacang bawang, dll.

Saya baru bisa makan nastar kalau diajak bapak dan ibu ke rumah mbah saya. Namanya, Mbah Rais. Beliau bukan embah saya langsung. Tapi, beliau adalah omnya bapak saya. Jadi, mbah saya punya banyak saudara. Mbah Rais adalah yang paling bontot.

Mbah Rais termasuk orang kaya. Rumahnya besar, punya 2 lantai. Di jaman itu, rumah dua lantai belum terlalu umum, apalagi di daerah saya. Kalau keluarga kami datang ke sana di hari raya, kami langsung dibawa ke lantai 2. Di sana, sudah siap toples-toples cantik berisi kue-kue, yang semuanya tampak lezat.

Harus tahu diri

Keajaiban masa kecil saya tidak berhenti pada stoples yang berkilauan. Keheranan berlanjut ketika tuan rumah menyajikan minuman kepada kami. Minumannya standar ya, sirup. Spesial Lebaran banget. Tapi, yang bikin mata saya mengerjap adalah gelas yang disajikan. Gelasnya bukan gelas hadiah sabun colek, tapi gelas yang biasa saya lihat di sinetron. Itu loh, gelas yang lehernya tinggi, yang cara minumnya dijepit dulu pake jari, trus kalau diisi air nggak sampe penuh biar estetik. Saya yang katrok jelas kagok pakai gelas yang seperti itu. Ya gimana? Nggak tau cara pegangnya. Bapak, ibu dan kakak saya juga sama.

Dan tibalah saat itu. Saat dimana toples-toples cantik itu dibuka. Di antara kue yang tersaji, nastarlah yang membuat saya jatuh cinta. Cinta yang kemudian membutakan saya, sehingga tangan ini tanpa sadar mencomot kue kering inidari toples, lagi dan lagi.

Sampai akhirnya, Ibu mengingatkan saya, tangan saya langsung trauma untuk tak mengambil nastar lagi. Saya mungkin masih kecil saat itu. Tapi, saya cukup pintar untuk memahami isyarat yang ibu berikan. Isyarat bahwa saya harus tahu diri. Kue itu memang enak, tapi ibu mengingatkan saya tentang pentingnya adab.

Keterbatasan yang bikin nastar makin nikmat

Waktu pun berlalu. Sejak bekerja dan punya penghasilan, saya mampu beli nastar sendiri. Kue kering ini bukan lagi barang mewah, bahkan levelnya sudah turun jadi seperti cemilan pada umumnya. Saya tidak perlu menunggu hari raya untuk membelinya. Sekarang, kapanpun saya kepengin, saya bisa beli saat itu juga. Mau yang biasa sampai yang premium, semua bukanlah masalah.

Meski demikian, terasa ada lubang di hati. Di satu sisi, saya memang mendapat apa yang dulu saya mau. Tapi di sisi lain, saya seperti kehilangan sesuatu. Tak ada lagi degup-degup bahagia atau mata yang berbinar di hadapan nastar, mau seenak apapun nastar tersebut. Paling ya cuma mbatin, “Hmm, enak.”

Mungkin benar kata orang, bahan premium bisa membuat nastar lumer. Tapi, sejuta bahan premium pun tidak akan bisa mengalahkan memori akan rasa dan suasana. Itulah yang hilang saat ini. Dulu, nastar itu enak karena saya jarang mendapatkannya. Saya harus menunggu sampai hari raya tiba, baru bisa makan nastar.

Dengan kata lain, nastar jadi semacam perayaan akan rasa yang tidak saya miliki. Ia lezat karena dicicipi di tengah kekaguman dan… keterbatasan. Sementara nastar hari ini? Ia hanyalah pemuas keinginan yang mudah saja untuk dicari. Pantas saja jika ia tak lagi istimewa.

Walau debaran itu tak lagi ada, nastar akan selalu ada di hati. Tiap gigitannya akan selalu membawa saya pada nostalgia masa lalu, sekaligus rasa syukur atas apa yang sudah dicapai hingga hari ini. Meski, saya sendiri kadang bertanya. Ini saya beneran suka nastar, atau hanya dendam?

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 26 Februari 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us