Minggu ini, ada kabar baik dari Kabupaten Bangkalan yang jarang sekali terdengar dari periode sebelumnya. Kabar tersebut yakni pajak masyarakat akhirnya digunakan untuk program yang benar-benar bermanfaat. Program yang saya maksud adalah beasiswa Satu Desa Satu Satu Sarjana yang baru saja diluncurkan.
Melalui program ini, para siswa di pedesaan diharapkan bisa terfasilitasi untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan bukan saja berkuliah, setelah lulus, para awardee diharapkan juga bisa kembali ke desa masing-masing untuk menebar manfaat.
Akan tetapi, karena saya sebagai warganya agak trust issue pada pejabat di kabupaten ini. Jadi, saya ingin mengingatkan/memberikan rekomendasi hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam program ini. Ya, tujuannya sebagai bahan pertimbangan supaya proker ini hasilnya lebih maksimal.
#1 Pemkab Bangkalan Madura tolong pakai sistem seleksi yang adil
Sebagai warga pedesaan di Bangkalan Madura, membaca persyaratan harus berprestasi sudah langsung bikin saya mengelus dada. Sebab, persyaratan demikian sudah bikin banyak harapan anak desa luntur. Ya, jangankan untuk berprestasi, akses untuk bisa belajar atau berkembang saja sudah sangat timpang di Bangkalan Madura ini.
Maksud saya, semua merasakan kalau siswa di pusat kabupaten Bangkalan Madura didukung fasilitas lengkap, sementara yang di desa hanya seadanya. Bahkan, sudah jadi rahasia umum kalau tiket untuk mewakili Bangkalan di berbagai lomba tingkat SMA kerap dimonopoli salah satu SMA negeri di kabupaten ini. YTTA!
Maka dari itu, menurut saya, perlu diberikan kelonggaran bagi masyarakat desa. Okelah, prestasi bisa menjadi pertimbangan, tapi niat baik atau kemauan untuk terus berkembang juga sangat perlu untuk diperhatikan. Indikator domisili, sekolah asal, hingga aspek lainnya perlu dilihat untuk memberikan peluang yang sama bagi semua siswa.
#2 Program Magister Satu Desa Satu harus menjauhi sistem insider
Saya tidak bermaksud berprasangka buruk tentang Bangkalan Madura, tapi sistem orang dalam agaknya sudah merajalela di negara kita, hehehe. Maka dari itu, saya berharap beasiswa ini bisa menjauhi sistem demikian. Bukan apa, tapi hal tersebut akan membuat calon yang potensial malah tergeser oleh pendaftar yang udah punya orang dalam.
Mengapa saya mewanti-wanti hal ini? Sebab orang dalam kini sering dipoles dengan narasi yang membuatnya normal, yakni melalui sistem rekomendasi. Rekomendasi kadang malah digunakan untuk menitip sembarang orang, mulai dari sanak kerabat hingga orang asing yang nantinya akan dimintai sekian persen setiap bulan untuk pemberi rekomendasi. Ini banyak saya dengar dan temukan sendiri pada teman-teman saya dulu.
Jadi, saya harap beasiswa Satu Desa Satu Sarjana tidak seperti itu ya!
#3 Bangun empati para awardee pada Bangkalan Madura
Kemudian, komitmen awardee beasiswa Satu Desa Satu Sarjana untuk kembali ke desanya tidak bisa dipercaya melalui tanda tangan hitam di atas putih saja. Dalam sistem beasiswa ini, pemkab Bangkalan Madura sebaiknya tidak membiarkan komitmen itu mengambang, tetapi juga membantu menggapainya.
Maksud saya, jangan lepas para awardee untuk berkembang sendiri, tetapi terus wadahi mereka agar tetap memiliki empati pada Bangkalan Madura.
Caranya, paling mudah dengan memberikan pelatihan secara rutin, paling tidak setiap libur semester. Pelatihan ini pun jangan hanya meromantisasi kondisi Bangkalan Madura.
Beri tahu ke mereka apa adanya tentang kabupaten ini yang sedang kacau, pendidikannya, ekonominya, politiknya dan berbagai aspek lainnya. Dengan demikian mereka akan peka pada masalah-masalah di sekitar mereka.
Melalui metode itu, saya yakin banyak dari mereka yang akhirnya kembali ke desanya seperti niat baik beasiswa ini.
#4 Bangun koneksi dengan diaspora Bangkalan
Terakhir, pemkab Bangkalan Madura harus menjadi jembatan bagi para awardee dengan orang hebat Bangkalan Madura yang menjadi diaspora. Harapannya, mereka bisa punya role model bagaimana menjadi warga Bangkalan Madura.
Kalau saya lihat, siswa-siswa saya, salah satu alasan mereka sulit berkembang yakni karena mereka tidak punya role model. Bahasanya, “emangnya saya siapa, asal saya dari mana, kok impiannya tinggi banget”
Nah, dengan menghadirkan para diaspora Bangkalan yang sudah sukses, para awardee akan semakin termotivasi. Ini akan menumbuhkan kepercayaan pada mereka bahwa siapa saja bisa menjadi apa saja.
Oiya, tapi ingat, diaspora yang saya maksud adalah mereka yang tetap berkontribusi pada Bangkalan Madura ya. Seperti pedoman orang Madura, “asel tak adinah asal” yang artinya, “sudah berhasil tidak lupa tanah asalnya”.
Ya demikianlah beberapa rekomendasi dari saya untuk memaksimalkan program beasiswa di Bangkalan Madura ini. Saya berharap program Satu Desa Satu Sarjana ini bisa berjalan maksimal dan berkelanjutan, sebab manfaatnya akan sangat jelas dirasakan oleh masyarakat!
Pengarang: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2026 oleh