
FENOMENAbediding atau penurunan suhu udara yang cukup ekstrem mulai dirasakan warga di wilayah Semarang dan sekitarnya. Perbedaan suhu udara yang mencolok antara siang dan malam hari memaksa warga untuk lebih waspada terhadap potensi gangguan kesehatan.
Berdasarkan pemantauan pada Rabu (10/6), cuaca di kawasan dataran tinggi maupun rendah di Semarang terpantau cerah berawan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, terjadi perubahan suhu yang sangat drastis. Pada siang hari, suhu udara di Semarang dapat mencapai 18-34 derajat Celsius yang memicu rasa panas dan gerah. Sebaliknya, pada malam hari, suhu merosot tajam hingga di bawah 14 derajat Celsius.
Kondisi ini dikeluhkan oleh sejumlah warga. Dewi, 48, warga Sumowono, Kabupaten Semarang, mengaku tubuhnya merasa tidak fit akibat perubahan cuaca tersebut. “Perubahan suhu siang dan malam sangat terasa, sehingga badan menjadi meriang,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Nur Aini, 65, warga Kota Semarang. Ia mengaku harus menggunakan jaket dan selimut tebal saat malam hari karena suhu yang sangat dingin, meski pada siang harinya cuaca terasa sangat terik.
Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Suhu Dingin
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan proses pelepasan panas dari permukaan bumi. Menurutnya, pada siang hari permukaan bumi menyerap panas dari sinar matahari secara maksimal.
“Ketika malam tiba, energi panas tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer dan luar angkasa. Proses ini menjadi lebih efektif ketika langit dalam kondisi cerah tanpa tutupan awan,” jelas Goeroeh.
Ia menambahkan bahwa ketiadaan awan pada malam hari menghilangkan fungsi ‘selimut alami’ yang biasanya menahan panas di atmosfer. Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas, sehingga suhu udara turun lebih cepat. Fenomena ini lazim terjadi saat memasuki musim kemarau ketika curah hujan menurun dan langit malam cenderung bersih.
Catatan BMKG: Udara dingin yang dirasakan warga saat ini tidak selalu dapat disebut sebagai fenomena bediding secara permanen, karena kemunculannya tidak konsisten setiap hari dan sangat bergantung pada dinamika atmosfer serta siklus alamiah musim kemarau.
Imbauan Kesehatan
Mengingat perbedaan suhu yang sangat signifikan antara siang dan malam (rentang Mata Uang Rupiah tidak tersedia untuk konteks ini, namun dampak ekonomi kesehatan perlu diantisipasi), BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kondisi kesehatan tubuh.
“Masyarakat diimbau menjaga imunitas karena perbedaan suhu antara siang dan malam hari bisa cukup signifikan dan berisiko bagi kesehatan,” pungkas Goeroeh.
Kondisi cuaca cerah yang menandai awal musim kemarau ini diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, sehingga masyarakat diminta untuk terus memantau informasi cuaca resmi dari BMKG. (AS/E-4)