Jika ditanya perihal gegar budaya selama ngekos di Jakarta Selatan saat magang di daerah Kebayoran baru, sebenarnya tidak banyak. Mungkin karena saya hanya tinggal selama empat bulan untuk magang, bukan menetap di sana dengan maksud berkuliah atau bekerja dalam waktu lama. Selain itu, lingkup pertemanan saya pun asal daerahnya berbeda-beda.
Kendati demikian, pengalaman hidup sendiri tetap menjadi perihal baru yang amat berkesan bagi saya. Seumur-umur, mana pernah dibolehin ngekos oleh orang tua. PAUD hingga kuliah selalu zonasi. Pupus sudah harapan jadi mahasiswa rantau.
Selama 23 tahun hidup saja, saya baru merasakan 4 kali PP Sumatra - Jawa. Mentok paling jauh ke Bandung. Dua kali ketika SD dengan niat mengikuti acara kepenulisan, dua kalinya lagi ketika kuliah dengan tujuan mengikuti magang MSIB dan lokakarya penyuntingan. Di luar itu? Ngimpi.
Bisa dibilang, pengalaman magang di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 2024 silam membuka banyak hal baru bagi saya. Bukan hanya perihal hidup sendiri atau kemudahan mengakses transum, melainkan juga pemandangan yang jarang saya jumpai selama mendiami Bandar Lampung. Sebagian menyenangkan, sebagian lagi membekas sebab lain nian.
Jalanan Kebayoran Baru berbau bacin dan banyak anomali kecoak geprek
Kalau boleh adu nasib, tentu kondisi jalan di Provinsi Lampung bobroknya ratusan kali lipat dibanding Kebayoran Baru. Mulai dari lubang dengan kedalaman bervariasi, trotoar keramik warna-warni, hingga tanah becek berlumpur yang tak kunjung dilapisi. Malah terkenalnya gegara itu kan.
Di sisi lain, gang-gang sempit di Jakarta Selatan yang hanya muat dilewati satu motor saja sudah beraspal semua. Termasuk daerah kosan saya.
FYI, kosan saya dulu hanya berjarak 7 menit dari stasiun MRT Blok A. Gampang ke mana-mana. Tentunya, saya tidak PP kosan-kantor saja. Entah kapan lagi bisa merasakan bebas mengelana seorang diri dengan berjalan kaki maupun menggunakan transportasi umum.
Alhasil, saya lumayan akrab dengan jalan-jalan di Kebayoran Baru, baik yang berdekatan dengan layanan transum maupun area padat penduduk yang sudah cukup jauh dari sana. Sayang, ada satu pemandangan yang terus muncul dan mengganggu kedamaian perjalanan saya tiap harinya.
Entah di jalan entah di trotoar sepanjang rute transum, anomali kecoak geprek sudah jadi kawan setia. Terutama sekitar pukul 06.00-07.30 WIB. Seolah-olah mereka sengaja menyapa saya yang belum sempat sarapan dengan tubuh gepeng dan tampak krispi itu.
Bukannya saya tidak pernah menemui anomali di ruas-ruas jalan Kota Bandar Lampung. Hanya saja, jumlah kecoak geprek yang saya jumpai selama tinggal di Jaksel rasanya macam hewan kabur dari peternakan saking tiada habisnya.
Ditambah lagi, bau bacin dari selokan hitam pekat yang selalu menyeruak hingga ke jalan. Aduhai sekali. Ada untungnya juga saya sempat terserang batuk pilek berkepanjangan sehingga indra penciuman rada ampas. Entah berapa pula stok masker yang saya beli selama di sini.
Mandi nggak ada seger-segernya karena air keran bau besi campur ingus
Perlu digarisbawahi, poin ini khusus membahas air keran di kosan saya saja ya. Soalnya, air keran di toilet kantor serta berbagai ruang publik yang saya sambangi di Kebayoran Baru masih tergolong aman dan tidak mengganggu indra penciuman. Walaupun memang, yang lain belum pernah dipakai mandi, sih.
Setiap menggunakan kamar mandi di kosan, saya selalu menahan napas lantaran tidak tahan dengan bau besi bercampur ingus dari airnya. Baunya pun sudah tercium benar sejak hari pertama ngekos. Waktu itu saya belum kena selesma, jadi tidak mungkin sumber kontaminasi berasal dari diri sendiri.
Alhasil, mandi pun tidak ada segar-segarnya. Basah doang. Saya baru bisa bernapas lega setelah kembali ke kamar, meskipun kelegaan tersebut juga hanya seuprit karena kamar saya tidak ada jendela.
Saking tidak nyamannya, saya bahkan sempat kepikiran, apa mandi di kantor saja ya? Namun, ide itu tentu tidak pernah terealisasi sampai hari terakhir magang. Tengsin.
Teman kuliah saya sih bilang kalau air PDAM biasanya memang bau besi. Akan tetapi, saya pernah pakai air sumur yang warna dan baunya juga mirip. Keruh dan berkerak pula kalau kelamaan mengendap di ember. Apa memang bau besi tak mendiskriminasi sumber air yang akan ia susupi? Entahlah.
Suatu hari, saya dan beberapa teman saya habis mengunjungi Museum Nasional Indonesia yang baru kembali dibuka untuk umum. Sudah malam, lapar, bingung pula mau makan apa dan di mana. Ujung-ujungnya ke Blok M lagi.
Kami akhirnya memutuskan untuk makan di pecel ayam dekat pintu keluar Blok M Plaza. Selagi menunggu pesanan, tetiba muncul seorang bapak-bapak yang menyodorkan QRIS cetak pada saya dan teman-teman. Yang jelas bukan mas penjual pecel ayam lantaran sedang asyik menggoreng paha.
Tidak tahu kesambet atau kena genjutsu. Mungkin faktor tak enakan. Saya langsung memindai QRIS di meja walaupun hanya transfer nominal receh. Setelah Bapak itu pergi, baru saya ngomong ke teman saya, “Wah, canggih juga ya pengemis di Jakarta.”
Sejak itu, saya sudah tidak kaget lagi melihat pengemis yang membawa QRIS cetak di kawasan Blok M. Banyak ternyata. Gelandangan dan pengemis yang memenuhi trotoar maupun gerai Indomaret dan Alfamart pun bukan lagi pemandangan ganjil, terutama saat malam tiba.
Diikuti sampe kos saya di Kebayoran Baru
Pernah satu kali saya tolak seorang anak yang minta dibelikan beras dari etalase Indomaret. Awalnya kasihan, kemudian teringat diri sendiri juga mesti dikasihani lantaran uang pegangan sudah tipis. Ketika saya pergi, anak tersebut malah mengikuti sampai gang kosan.
Jujur, saya takut dan sedikit merasa bersalah. Untungnya kejadian pada malam itu tidak terulang lagi. Namun, saya menjadi lebih waswas dan mulai memakai rute yang berbeda setiap kali bepergian. Memang agak repot karena harus jalan memutar, tetapi setidaknya hati saya jadi lebih tenang.
Terlepas dari hal-hal di atas, saya sangat bersyukur bisa menghabiskan beberapa bulan di Kebayoran Baru. Banyak kisah seru dan aneh yang bisa dibawa pulang, termasuk kecoak geprek yang masih begitu krispi dalam ingatan.
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2026 oleh