Doni lari terbirit-birit melewati tepian sungai. Ia melihat titik-titik cahaya kecil mirip lampu bersinar digelapnya malam. Orang-orang Kediri menyebutnya kunang-kunang.
Maklum saja anak usia tujuh tahun harus melewati sungai malam-malam sepulang belajar kelompok. Di usia sekecil itu, imajinasinya sering kali lebih besar dari tubuhnya sendiri. Ia terngiang cerita dari Pak Tono.
Setelah tiba di rumah.
“Tidak usah lari Doni,” ucap Ibu Doni.
“Tapi, Bu, ada kunang-kunang, Doni takut.”
“Apa yang kamu takutkan dari serangga itu?” tanya Ibu Doni heran.
Dua hari yang lalu, Doni dan Irfan mendengar cerita Pak Tono di lapangan desa.
“Kalian tahu?” ucap Pak Tono dengan nada pelan.
“Apa, Pak?” tanya Irfan.
“Kunang-kunang itu sebenarnya bukan serangga biasa. Serangga itu berasal dari kuku orang mati. Kuku itu bisa hidup dan terbang pada malam hari. Makanya, mereka bercahaya,” ucap Pak Tono.
“Pantas saja, Pak, mana ada hewan yang bisa mengeluarkan cahaya,” jawab Doni sambil memandang Irfan.
“Kita harus lari Don kalau ketemu kunang-kunang itu,” seru Irfan.
Doni terus ketakutan tentang cerita kunang-kunang. Ia sulit tidur.
Ibu Doni akhirnya mengajaknya ke tepian sungai melihat kunang-kunang itu pada malam hari. Ibu Doni juga mengajak Irfan. Dengan langkah perlahan, mereka tiba di tepian sungai. Tanpa disangka, biasanya hanya terlihat 3 kunang-kunang, malam itu ada 17 kunang-kunang.
“Bu, Doni dan Irfan takut,” ucap Doni dengan kaki gemetar.
“Tidak ada yang perlu ditakuti,” ucap Ibu Doni sambil tersenyum.
“Lihat kunang-kunang itu, cahayanya bukan berasal dari alam lain. Cahaya itu berasal dari reaksi kimia di dalam tubuhnya, di bagian perut bawah, yang disebut bioluminesensi,” lanjut Ibu Doni sambil mendekatkan tangannya di dekat kunang-kunang.
“Tapi, Bu,” ucap Doni.
“Coba Irfan dan Doni mendekat ke sini,” ucap Ibu Doni. Dengan langkah perlahan, Doni dan Irfan mendekat ke arah kunang-kunang yang sedang terbang. Cahayanya begitu terang di tengah gelapnya malam.
“Bagaimana, indah, bukan, serangga ini?” tanya Ibu Doni.
“Indah, Bu, ini hanya serangga biasa, kan, Bu,” ucap Doni.
“Iya, kalian berdua harusnya bersyukur masih bisa melihat serangga ini. Kunang-kunang sudah jarang ditemukan akibat polusi cahaya, penggunaan pestisida, dan perubahan iklim,” tambah Ibu Doni.
“Iya, Bu,” ucap Doni.
“Mulai sekarang, kalian tidak perlu takut lagi dengan kunang-kunang. Kalian harus menjaganya,” ucap Ibu Doni.
Mulai saat itu, Doni dan Irfan tidak takut lagi melihat kunang-kunang. Mereka terus menjaga kunang-kunang kuning menyala itu. Cahayanya menemani di tengah gelapnya malam.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Wildan Pradistya Putra
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
