1. News
  2. Berita
  3. Phubbing, Pemicu Distraksi

Phubbing, Pemicu Distraksi

phubbing,-pemicu-distraksi
Phubbing, Pemicu Distraksi

Saat ini, banyak yang mengatakan lebih baik ketinggalan dompet daripada ketinggalan ponsel. Ketinggalan dompet bisa meminjam uang atau melakukan pembayaran secara digital. Sementara itu, ketinggalan ponsel dapat membuat seseorang merasa terputus hubungannya dengan dunia luar. Ponsel memang memudahkan banyak aspek kehidupan kita. Ia membantu kita menjadi lebih efisien, lebih produktif, serta menghubungkan kita dengan relasi yang secara fisik berada jauh.

Ironisnya, meski ponsel dapat mendekatkan yang jauh, ia ternyata juga bisa menjauhkan yang dekat. Bayangkan seorang anak kecil sedang bercerita dengan penuh semangat kepada ibunya tentang pengalamannya di sekolah. Ibunya mendengarkan dengan penuh perhatian, tapi tiba-tiba notifikasi ponselnya berbunyi. Dengan refleks, ibunya mengambil ponsel itu lalu mengetikkan pesan balasan dengan singkat sebelum kembali memperhatikan anaknya.

Meskipun hanya teralihkan sesaat, gairah anak bisa seketika berubah. Nada suaranya tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya, ia menyelesaikan ceritanya dengan cepat dan segera pergi dari hadapan ibunya. Tidak ada yang salah, tidak ada yang dimarahi tapi ada sesuatu yang hilang.

Dalam lingkungan kerja pun kita sering menjumpai hal yang sama. Setiap orang yang memasuki ruang rapat hampir dipastikan membawa ponselnya masing-masing dan meletakkannya di atas meja. Meskipun semua nada dering sudah diatur senyap, keberadaan ponsel itu sudah menunjukkan bahwa ialah penguasa di sana.

Setiap kali ponsel bergetar dengan segera pemiliknya bereaksi, mengabaikan sejenak pembicara yang ada di hadapannya. Padahal, semua orang sadar bahwa rapat itu penting, dan semua yang hadir adalah orang-orang paling penting di organisasi. Namun, tak bisa disangkal nuansa “pihak ketiga” hadir dalam rapat tersebut.

Phubbing atau mengabaikan seseorang yang sedang kita ajak bicara untuk melihat ponsel kita mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Bayangkan seberapa sering percakapan terhenti karena ada yang mengeluarkan ponsel dan tenggelam dalamnya. Terasa bahwa mereka yang menghubungi melalui ponsel lebih diprioritaskan.

Tanpa perlu diucapkan, meletakkan ponsel di atas meja memberikan pesan ada pihak ketiga yang penting. Kehadirannya membuat pihak lain merasa tidak terlalu berharga. Seorang pemimpin yang mengambil ponselnya ketika anak buah sedang berbicara, mengirimkan sinyal bahwa ia bosan untuk mendengarkan.

Semangat dalam proses brainstorming pun menurun ketika ada partisipan yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Penelitian bahkan menunjukkan akibat yang lebih ekstrem, pasangan yang saling phubbing, lebih mudah mengalami depresi dan ketidakpuasan dalam pernikahan.

Multi-tasking itu mitos

Dahulu kita kagum pada orang yang melakukan multitasking karena ia dapat menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus. Kita merasa kagum akan efisiensinya. Namun, sekarang multitasking dengan mengerjakan hal lain di ponsel sambil mengikuti rapat bukanlah efisiensi, melainkan fragmentasi.

Berpindah-pindahnya perhatian membuat kualitas kerja kita menurun di semua tugas yang kita hadapi karena penuh dengan distraksi. Bisa jadi kita kehilangan aspek yang penting dalam tugas yang satu karena perhatian sedang teralihkan di tugas yang lain.

Para peneliti melakukan percobaan untuk menggambarkan fenomena ini dan menerbitkannya dalam jurnal Universitas Chicago. Sekelompok orang diminta mengerjakan tugas berpikir, seperti menghitung, mengingat, memecahkan pola; lalu dibagi dalam tiga kondisi: ponsel di atas meja, ponsel di tas, dan ponsel di ruangan lain. Semua ponsel dalam keadaan senyap sehingga tidak ada notifikasi.

Hasilnya mengejutkan. Mereka yang meninggalkan ponsel di ruangan lain menunjukkan performa terbaik, sementara yang meletakkan ponsel di meja, walau tidak dipakai, menunjukkan performa paling rendah.

Ternyata kehadiran ponsel itu sudah mengambil sebagian kapasitas kita. Karena ponsel bekerja seperti gravitational pull, menarik perhatian kita meskipun tidak terlihat, seperti gravitasi. Ironisnya, saat berusaha untuk tidak melihat ponsel, justru kapasitas otak kita malah terkuras karena kita menggunakan sebagian energi untuk menahan diri sehingga tidak bisa berfokus penuh pada tugas yang ada di hadapan kita.

Rata-rata orang hanya bekerja 3 menit sebelum perhatiannya teralihkan serta membutuhkan waktu sekitar 23 menit untuk kembali ke tugas semula. Namun, 23 persen dari pekerjaan yang terganggu bahkan tidak dilanjutkan pada hari yang sama.

Jadi, semakin dangkalnya percakapan bukan karena kita tidak peduli, melainkan perhatian terbagi. Rapat menjadi kurang hidup bukan karena tidak kompeten, melainkan tidak ada yang benar-benar hadir penuh. Hubungan terasa menjauh bukan karena konflik besar, melainkan banyak momen kecil yang kehilangan kedalaman.

Kita mungkin berpikir “hanya sebentar”, tetapi yang hilang di sini bukan waktu, melainkan kualitas kehadiran dan perhatian utuh yang tidak terbagi, yang membuat orang di depan kita merasa benar-benar penting. Waktu tetap berjalan, kebersamaan tetap ada, tetapi rasa “terhubung” itu perlahan berkurang.

Hadir secara penuh

Kita pasti tidak mungkin menutup diri dari ponsel maupun teknologi. Namun, kita bisa mengambil batasan agar ponsel memang digunakan sesuai manfaatnya, bukan malah mengambil alih hidup kita. Fokus adalah perhatian tanpa gangguan ke satu arah. Inilah yang mendorong produktivitas, keterlibatan, dan kebahagiaan.

Ketika kita benar-benar larut dalam suatu tugas, penguasaan keterampilan pun meningkat hingga memberi kita makna dan kepuasan intrinsik dalam bekerja. Hubungan dengan pihak lain pun akan semakin mendalam ketika kita dapat berfokus saat berhadapan dengannya karena membuat mereka merasa menjadi tokoh sentral dalam interaksi saat itu.

Beri batasan waktu kapan kita menggunakan ponsel dan kapan kita berfokus pada apa yang ada di hadapan kita serta menjauhkan ponsel dari pandangan. Melatih fokus itu seperti melatih otot.  Dengan memberi ruang bagi otak untuk benar-benar “berfokus” tanpa gangguan, kita dapat membiarkan impuls untuk memeriksa ponsel itu lewat.

Di dunia yang penuh distraksi, mungkin yang paling berharga bukanlah kecepatan respons kita, bukan juga kemampuan kita untuk selalu “available”, melainkan kemampuan untuk hadir, tanpa terbagi dengan pihak ketiga. Karena sering kali, yang orang butuhkan bukan solusi besar, bukan jawaban cepat, melainkan satu hal sederhana, yaitu merasa bahwa untuk beberapa menit itu, mereka benar-benar penting.

Baca juga: Teman Kerja

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Phubbing, Pemicu Distraksi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us