Paris Van Java Mall adalah salah satu mall yang, bisa dibilang, amat unik di Bandung. Menyandang nama yang menjadi julukan kota Bandung, bagi yang pertama kali mendengar namanya mungkin akan mengira mal ini seolah representasi Kota Kembang yang estetik, dengan sentuhan romantis, bertabur fashion dan harum kuliner di sudut-sudutnya.
Memiliki air terjun, kebun binatang mini, dan taman bunga di atapnya—yang biasa disebut dengan Sky Level—Paris Van Java (PVJ) tidak hanya dikenal warga Bandung, tapi juga jadi destinasi wisatawan dari luar kota. Percayalah, tidak ada mal di Kota Kembang yang memiliki taman seperti itu selain PVJ.
Tapi tampaknya mal ini sekarang sudah kalah pamor dengan mal-mal lain seperti Summarecon yang belum lama buka, Paskal23, atau Cihampelas Walk yang lebih nyaman dikunjungi untuk berjalan-jalan. Lontaran kritikan pedas mulai dilancarkan warganet di media sosial tentang PVJ yang agak ribet dan menyusahkan.
Paris Van Java hanya mentereng soal nama, untuk urusan kenyamanan bagi pengunjung, mal ini harus lebih banyak berbenah lagi.
Parkiran sempit dan layout yang membingungkan
Ketika pertama kali ke PVJ, jujur saya pun agak bingung dengan layout-nya. Terletak di tepi jalan menanjak di daerah Sukajadi, mal ini punya dua macam parkiran; satu di basement, satunya lagi di area terbuka yang nyambung dengan Sky Level. Banyak pula yang berpendapat, agak susah mencari tempat parkir, meskipun kelihatannya luas. Seringkali ada yang kebagian parkir di area tanjakan karena yang lain sudah penuh.
Penataan tenant di PVJ pun terkesan berantakan. Tata ruangnya aneh, terkesan tambal sulam di mana-mana. Banyak toko brand besar dan restoran mewah yang menyilaukan mata, tapi tidak ada foodcourt. Sekilas hanya ramah untuk dompet kalangan menengah ke atas, bukan untuk warga biasa yang hanya bisa cuci mata.
Bagi yang tidak terbiasa berjalan kaki, berjalan-jalan dengan niat healing di PVJ justru akan melelahkan dan pusing karena mal ini lumayan besar. Ditambah layout yang membingungkan, dijamin membuat tersesat bagi yang belum terbiasa.
BACA JUGA: Cicendo Daerah Paling Superior di Kota Bandung, Fasilitasnya Komplit dan Nyaman
Mal elite, tapi toilet dan musala sulit
Sungguh mengherankan, untuk mal dengan ukuran sebesar itu, toilet di Paris Van Java Mall hanya ada di ujung pada setiap lantai. Termasuk jauh dan memakan waktu pagi para pengunjung yang ingin segera menuntaskan hajat. Belum lagi antrean di toilet yang mengular, serta bau tidak sedap yang menguar. Ditambah urinoir yang terbuka, entah siapa perancang konsepnya. Mantap jiwa!
Begitu pula dengan musala, yang menjadi kebutuhan para pengunjung muslim. Untuk mal sebesar itu, musalanya begitu sempit, terbuka tanpa hijab atau tirai tinggi, dengan area wudu yang juga terbuka—bahkan di area perempuan. Tentu ini membuat para perempuan menjadi kurang nyaman ketika berwudu.
Warganet sebetulnya sudah sejak lama beramai-ramai melayangkan kritik soal toilet dan musala PVJ, hingga tersebutlah ungkapan, “PVJ adalah mal dengan toilet dan musala paling tidak proper di Bandung.”
Belakangan ini, rupa-rupanya mal ini sudah membuat toilet dan musala baru yang didesain lebih estetik. Namun, tetap saja area untuk berwudu dibiarkan terbuka, belum memenuhi konsep Muslimah friendly.
Seharusnya, pemilik mal ini studi banding ke mal-mal lain di Bandung, supaya punya gambaran seperti apa toilet dan musala yang proper itu. Saya membayangkan, jika mal ini mau bikin masjid yang nyaman di dalamnya seperti Pakuwon Mall di Jogja, tentu akan jadi nilai plus dan tidak dihujat warga, berhubung PVJ bukanlah mal kecil di daerah pinggiran.
Paris Van Java Mall adalah gambaran Bandung yang semrawut
Memutuskan berkunjung ke PVJ saat hari libur sesungguhnya adalah ujian kesabaran. Belum masuk mal saja kita sudah harus berhadapan dengan kemacetan yang luar biasa di jalan. Ketika sudah di dalam, harus bertempur dengan parkiran yang sempit—dan kadang-kadang juga bau.
Meski punya segudang kekurangan yang membuatnya dihujani kritik, entah kenapa tetap saja masih banyak orang yang datang ke mal ini. Entah hanya penasaran, ingin berfoto di taman bunganya yang instagramable, atau ingin bermain ice skating di Sky Level.
Saya setuju jika dikatakan Paris Van Java Mall merupakan miniatur Bandung. Ada bagian yang estetik, tapi jangan salah, banyak pula bagian yang semrawut dan berantakan. Lucunya, meski semrawut, tetap banyak orang yang datang berkunjung. Seperti anak muda yang kesal, tapi diam-diam cinta.
Semoga mal ini semakin berbenah, supaya bukan namanya saja yang mentereng, tapi juga membuat masyarakat terkesan dan tak bosan berkunjung.
Penulis: Septalia Anugrah Wibyaninggar
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh