1. News
  2. Berita
  3. Yogyakarta Royal Orchestra, Orkestra Keraton yang Bangkit Lagi Setelah 70 Tahun

Yogyakarta Royal Orchestra, Orkestra Keraton yang Bangkit Lagi Setelah 70 Tahun

yogyakarta-royal-orchestra,-orkestra-keraton-yang-bangkit-lagi-setelah-70-tahun
Yogyakarta Royal Orchestra, Orkestra Keraton yang Bangkit Lagi Setelah 70 Tahun

Yogyakarta Royal Orchestra, Orkestra Keraton yang Bangkit Lagi Setelah 70 Tahun


Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menunjukkan perannya sebagai pusat kebudayaan yang terus hidup melalui konser Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Konser bertajuk “Gregah Nusa” tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional dan menjadi simbol kebangkitan budaya Nusantara melalui musik orkestra.

Istilah “Gregah Nusa” berasal dari bahasa Jawa yang berarti bangkitnya kesadaran terhadap tanah air. Ketua panitia, GKR Bendara, menyebut konser ini bukan hanya pertunjukan musik, melainkan ajakan kolektif untuk kembali meneguhkan identitas bangsa di tengah arus globalisasi.

YRO memadukan musik orkestra modern dengan instrumen tradisional Nusantara sehingga menghasilkan warna musikal yang unik dan khas Yogyakarta.

Penampilan YRO di TIM juga memperlihatkan bagaimana Keraton Yogyakarta mampu membawa warisan budaya ke ruang publik modern. Tidak lagi terbatas di lingkungan keraton, musik orkestra kini hadir menyapa generasi muda dan masyarakat luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, nama YRO semakin dikenal, terutama di media sosial, karena keberhasilannya menghadirkan konser-konser tematik yang memadukan estetika klasik dan budaya Jawa.

Konduktor RW. Widyogunomardowo menjelaskan bahwa Keraton Yogyakarta sejak lama memiliki hubungan dengan budaya Eropa, termasuk musik Barat. Namun, YRO tidak meninggalkan akar budaya Jawa.

Setiap konser tetap memasukkan unsur karawitan dan tembang Jawa yang diaransemen dalam format orkestra modern. Perpaduan inilah yang membuat YRO berbeda dibanding kelompok orkestra lainnya di Indonesia.

Konser “Gregah Nusa” sekaligus memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi medium diplomasi budaya. Di tengah tantangan global, YRO hadir sebagai simbol bahwa tradisi tidak harus tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, tradisi dapat terus berkembang dan relevan ketika dipadukan dengan kreativitas modern.

Sejarah Orkestra di Keraton Yogyakarta

Sejarah musik orkestra di Yogyakarta sebenarnya sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I. Namun, perkembangan paling besar terjadi pada era Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pada awal abad ke-20.

Pada masa itu, Keraton Yogyakarta mulai aktif mengembangkan musik Barat bersamaan dengan berkembangnya wayang wong, tari, dan karawitan.

Di lingkungan Kedhaton dibangun Bangsal Mandalasana, sebuah bangunan khusus untuk memainkan musik Eropa. Dari sinilah lahir kelompok musik bernama Kraton Orkest Djocja (KOD), yang menjadi cikal bakal tradisi orkestra di Keraton Yogyakarta. Kelompok ini terdiri dari puluhan abdi dalem musikan yang memainkan instrumen Barat seperti biola, piano, dan alat musik tiup.

Keberadaan KOD tidak lepas dari pengaruh seniman Jerman Walter Spies yang datang ke Yogyakarta pada 1923. Spies tertarik dengan gamelan Jawa dan kemudian direkrut oleh Sultan HB VIII untuk memimpin orkestra Barat di keraton. Ia tinggal di Ndalem Jayadipuran dan membantu memperkenalkan konsep pertunjukan musik Eropa di lingkungan keraton.

Pada masa itu, musik orkestra digunakan untuk berbagai acara penting keraton, mulai dari penyambutan pejabat kolonial Belanda, upacara kenegaraan, hingga pertunjukan budaya. Kraton Orkest Djocja bahkan rutin tampil di gedung Societeit de Vereeniging yang kini dikenal sebagai Taman Budaya Yogyakarta.

Namun, setelah masa kejayaan tersebut, aktivitas orkestra di keraton perlahan meredup. Kesulitan finansial dan berkurangnya kebutuhan protokoler membuat kelompok musikan sempat dibubarkan. Meski begitu, jejak sejarahnya tidak pernah benar-benar hilang. Tradisi musik Barat di keraton tetap dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan budaya Yogyakarta.

Kebangkitan YRO dan Warisan Budaya Modern

Setelah hampir 70 tahun vakum, semangat orkestra Keraton Yogyakarta kembali dihidupkan pada 2019 atas prakarsa KPH Notonegoro dan izin Sri Sultan Hamengkubuwono X. Momentum kebangkitan itu dimulai lewat pementasan ansambel musik tiup di Bangsal Mandalasana pada 18 Agustus 2019 dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74.

Keraton kemudian merencanakan peluncuran Yogyakarta Royal Orchestra pada Hari Musik Dunia 21 Juni 2020. Namun pandemi Covid-19 membuat agenda tersebut tertunda. Barulah pada 21 Juni 2021, YRO resmi diluncurkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sejak saat itu, YRO berkembang menjadi salah satu kelompok orkestra budaya paling aktif di Indonesia. Mereka memiliki agenda konser rutin seperti konser Hari Musik Dunia pada Juni, konser “Kamardikan” pada Agustus, dan konser akhir tahun pada Desember. Hingga 2025, YRO telah menggelar puluhan konser, termasuk konser “A Tribute to Camille Saint-Saëns” untuk memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Prancis.

Keunikan YRO terletak pada kemampuannya memadukan budaya Jawa dengan musik klasik Barat. Para abdi dalem musikan tidak hanya memainkan repertoar Eropa, tetapi juga mengiringi tari dan karawitan keraton. Dengan demikian, YRO bukan sekadar kelompok orkestra modern, melainkan simbol keberlanjutan sejarah budaya Yogyakarta.

Kini, YRO menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman. Dari Bangsal Mandalasana hingga panggung megah TIM Jakarta, perjalanan Yogyakarta Royal Orchestra menunjukkan bagaimana warisan budaya mampu bertahan, bertransformasi, dan kembali menemukan relevansinya di era modern.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Yogyakarta Royal Orchestra, Orkestra Keraton yang Bangkit Lagi Setelah 70 Tahun
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us