
Ini Dia Stasiun Tambun yang Dulu Pernah Jadi Tempat Pertukaran Tawanan Perang
Stasiun Tambun adala stasiun kelas III/kecil di Tambun Selatan, Bekasi. Berada di ketinggian +19 meter, Stasiun Tambun hanya melayani KRL Commuter Line Cikarang arah timur dari Jakarta Kota lewat Pasar Senen.
Stasiun ini tampak modern dan minimalis. Namun, sejatinya Stasiun Tambun adalah salah satu stasiun tertua yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Berdiri sejak tahun 1889, Stasiun Tambun merupakan bagian dari jalur kereta Batavia-Karawang di era kolonial dahulu. Kemudian, di era pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan, stasiun ini pernah dijadikan lokasi perundingan dan pertukaran tawanan perang. Bagaimana ceritanya?
Stasiun Tambun, Saksi Bisu Gentingnya Masa Penjajahan Dahulu
Disadur dari akun Instagram resmi KAI Commuter Line, @commuterline, Stasiun Tambun pernah dijadikan lokasi perundingan sekaligus titik pertukaran tawanan perang. Posisi stasiun ini dekat dengan pusat pertahanan di Gedung Juang 45.
Di masa lalu, Gedung Juang 45 difungsikan sebagai pusat pertahanan, administrasi, dan markas pasukan kolonial. Kawasan ini punya bunker bawah tanah yang konon dipercaya terhubung sampai area Stasiun Tambun.
Bunker itu digunakan sebagai jalur perlindungan, komunikasi, dan mobilisasi pasukan. Kala itu, daerah Tambun menjadi titik strategis dalam kegiatan militer, salah satunya perundingan tawanan perang.
Dalam sejarahnya, sebetulnya Gedung Juang ini dibangun oleh seorang tuan tanah termasyhur di masanya. Pembangunan tahap awalnya dimulai pada tahun 1906 dan selesai empat tahun setelahnya. Pembangunan tahap keduanya dilanjutkan pada 1912 hingga 1925.
Mengutip dari ANTARA, nama asli gedung ini adalah Landhuis Tamboen atau gedung tinggi. Nama itu diambil dari nama keluarga si mpu-nya tanah, keluarga Khouw Van Tamboen. Akan tetapi, masyarakat Bekasi lebih mengenal bangunan ini dengan nama Gedung Juang.
Sayangnya, saat Jepang menginvasi Indonesia pada 1942, gedung ini disita. Lalu, saat perang kemerdekaan melawan Belanda, Gedung Juang dijadikan tempat pertahanan pejuang. Lokasinya juga sangat strategis karena dekat dengan perbatasan terluar Batavia.
Lebih lanjut, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Gedung Juang merupakan tempat perundingan dan pertukaran tawanan antara Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Pejuang kemerdekaan yang ditawan akan dipulangkan oleh Belanda ke wilayah Bekasi. Sementara itu, tentara Belanda akan dipulangkan ke Batavia melalui Stasiun Tambun yang lintasan relnya ada di belakang gedung tersebut.
Gedung Juang Setelah Indonesia Merdeka
Setelah Indonesia merdeka, Gedung Juang sempat dijadikan sebagai kantor Kabupaten Jatinegara. Namun, saat Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati, Gedung Juang diambil alih oleh mereka. Meskipun demikian, di tahun 1950, pejuang berhasil merebut kembali gedung ini.
Tak berhenti di situ, Gedung Juang juga pernah dijadikan sebagai tempat tahanan politik Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1960-an. Hal ini membuat Gedung Juang memiliki sejarah yang sangat rumit dan panjang.
Saat ini, Gedung Juang difungsikan sebagai Museum Bekasi. Akses menuju museum ini juga sangat mudah, termasuk melalui Stasiun Tambun yang melayani KRL Commuter Line Lin Cikarang yang terletak di belakang gedung legendaris ini.
Meskipun Stasiun Tambun sudah direvitalisasi menjadi lebih modern, nilai sejarahnya tetap melekat kuat di dalamnya. Jika Kawan GNFI berminat untuk menyusuri kisah masa lalu di sekitar kawasan Tambun, Kawan bisa mampir ke Museum Bekasi untuk melihat “tapak kaki” masa lalu yang masih tersisa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor