Jakarta (04/07) – Konferensi tahunan Young On Top National Conference YOTNC16 sukses mempertemukan lebih dari 5.000 anak muda dari berbagai wilayah Indonesia di Swasana BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta, pada Jumat (4/7). Melalui rangkaian sesi inspiratif bersama para tokoh dari berbagai industri, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, serta memahami berbagai tantangan dan peluang yang akan dihadapi di masa depan. Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah sesi ketujuh bertajuk “Leading Through Disruption: Membangun Generasi yang Siap Memimpin Masa Depan” yang menghadirkan Prof. Dr. Stella Christie, Vice Minister of Higher Education, Science, and Technology of the Republic of Indonesia.
Dalam pemaparannya, Prof. Stella mengajak peserta untuk melihat perkembangan Artificial Intelligence (AI) secara lebih kritis dan komprehensif. Menurutnya, AI memang telah menghadirkan berbagai kemajuan yang membantu kehidupan manusia di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, penelitian, hingga industri. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat tantangan besar yang perlu dipertimbangkan, terutama terkait keberlanjutan penggunaan sumber daya, perubahan cara manusia menghasilkan pengetahuan, serta transformasi peran perguruan tinggi di era disrupsi teknologi.
Prof. Stella membuka sesi dengan menjelaskan konsep economic bubble melalui contoh fenomena dot-com bubble, ketika masyarakat menaruh ekspektasi yang sangat besar terhadap suatu teknologi hingga menganggapnya sebagai solusi untuk hampir seluruh persoalan. Menurutnya, kondisi serupa perlu menjadi refleksi dalam melihat perkembangan AI saat ini. Berbagai persoalan kini sering kali diasosiasikan dengan AI sebagai jawaban utama, mulai dari peningkatan produktivitas, penemuan ilmiah, pengembangan bisnis, hingga penyelesaian berbagai tantangan sosial. Kondisi tersebut, menurut Prof. Stella, perlu disikapi secara bijak agar perkembangan teknologi tidak hanya didorong oleh optimisme, tetapi juga oleh pertimbangan ilmiah dan keberlanjutan.
Selain membahas fenomena tersebut, Prof. Stella juga menyoroti besarnya kebutuhan energi dan air yang diperlukan untuk mendukung perkembangan AI. Ia menjelaskan bahwa pusat data yang menjadi tulang punggung teknologi AI membutuhkan konsumsi listrik yang terus meningkat setiap tahunnya. Di sisi lain, proses pendinginan pusat data juga memerlukan air bersih dalam jumlah yang sangat besar. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi digital tidak terlepas dari penggunaan sumber daya alam yang harus dikelola secara bertanggung jawab agar tetap mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Menurut teori bubble, ketika semua permasalahan dijawab oleh satu hal, kita perlu mulai bertanya: apakah kita sedang berada di dalam sebuah gelembung?” ujar Prof. Stella.
Lebih lanjut, Prof. Stella menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadapi era AI. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi harus mampu mendefinisikan kembali fungsi utamanya agar tetap relevan di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang perlu diperkuat, yaitu creation of knowledge (menciptakan pengetahuan), transmission of knowledge (mentransmisikan pengetahuan), dan curation of knowledge (mengkurasi pengetahuan). Ketiga fungsi tersebut menjadi landasan bagi perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi, membentuk sumber daya manusia yang adaptif, serta memastikan pengetahuan yang berkembang tetap memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat.
Pada aspek penciptaan pengetahuan, Prof. Stella mengajak peserta untuk mempertanyakan kembali bagaimana manusia dan AI dapat berkolaborasi dalam menghasilkan inovasi baru. Sementara itu, dalam proses transmisi pengetahuan, perguruan tinggi perlu menentukan kompetensi apa yang masih relevan untuk diajarkan kepada mahasiswa di tengah kemudahan akses informasi. Adapun pada aspek kurasi pengetahuan, ia menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis, menghubungkan berbagai informasi, serta menghasilkan pemahaman yang bermakna akan menjadi keterampilan yang semakin penting di era AI.
Melalui sesi ini, Prof. Stella mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pemimpin yang mampu memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, beretika, dan berorientasi pada keberlanjutan. Ia menegaskan bahwa masa depan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, melainkan juga oleh kemampuan manusia untuk terus belajar, berpikir kritis, dan menciptakan nilai bagi masyarakat. Kehadiran sesi ini semakin menegaskan komitmen YOTNC16 sebagai ruang belajar bagi generasi muda Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan dengan kepemimpinan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global.
====================================
Media Kontak
Muhammad Nazhif Ramadhan, Writer
Muhammad Lazuardi Naftali, Editor