Jakarta (04/7) – Konferensi tahunan Young On Top, YOTNC16, sukses mempertemukan lebih dari 5.000+ anak muda dari berbagai wilayah Indonesia di Swasana BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta, pada 04 Juli 2026. Melalui rangkaian sesi inspiratif bersama tokoh-tokoh dari berbagai industri, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring. Dalam sesi bertema “Radio nowadays is not just about listening. #NONTONRADIO content on TikTok creates value for brands, from increasing awareness to driving joint sales initiatives”, Kamal Rasyid (Radio announcer at Jak 101 FM & Podcast Bahlul) & Sahil Mulachela (Radio announcer at Jak 101 FM & Podcast Bahlul) membahas perkembangan dunia konten serta relevansinya bagi pengembangan kapasitas generasi muda.
Mengawali diskusi, moderator menyinggung pernyataan Raditya Dika yang menyebut tahun 2026 sebagai “tahunnya Kamal dan Sahil (2 Bahlul)”. Bagi keduanya, apresiasi tersebut menjadi sebuah kehormatan sekaligus pengingat untuk terus berkembang. Sahil mengaku bahwa ucapan tersebut sempat terasa seperti bentuk manifestasi yang membanggakan, namun di sisi lain juga menghadirkan ekspektasi besar. Baginya, keberhasilan Podcast Bahlul bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan motivasi untuk terus menjaga konsistensi agar karya yang mereka bangun tetap relevan di tengah persaingan industri kreatif yang semakin dinamis.
Menurut Sahil, keberhasilan sebuah konten di era digital tidak hanya ditentukan oleh satu momen viral. Konsistensi menjadi faktor yang membuat algoritma terus bekerja dan membantu sebuah konten menjangkau audiens yang lebih luas. Meskipun mengalami pertumbuhan yang signifikan, ia menyadari bahwa dunia digital selalu menghadirkan kompetitor baru sehingga setiap kreator harus terus beradaptasi dan berinovasi.
Kamal pun mengajak para peserta YOTNC16 untuk melihat diri mereka sebagai generasi yang akan memimpin Indonesia di masa depan. “Kalian adalah calon-calon leaders Indonesia,” ujarnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan media merupakan bekal penting bagi generasi muda untuk menciptakan dampak di berbagai bidang.
Salah satu faktor yang membuat Podcast Bahlul mampu berkembang adalah chemistry antara kedua host. Namun, Kamal menegaskan bahwa chemistry bukan berarti memiliki karakter yang sama. Justru perbedaan karakter membuat mereka mampu saling melengkapi dalam setiap percakapan. Dinamika tersebut menghasilkan interaksi yang terasa alami sehingga lebih mudah diterima oleh audiens. Ia juga menambahkan bahwa chemistry tidak hanya dibangun dengan partner, tetapi juga dengan pendengar dan penonton agar tercipta hubungan yang lebih dekat dan autentik.
Sahil mengakui bahwa perubahan terbesar yang mereka rasakan terjadi ketika radio mulai membangun ekosistem digital secara menyeluruh. Seluruh aset yang dimiliki, mulai dari siaran radio, media sosial, podcast, hingga konten video, saling terhubung dalam satu strategi yang mendukung pertumbuhan bersama. Menurutnya, radio kini bukan lagi sekadar tempat bekerja, tetapi menjadi etalase yang memperkenalkan identitas dirinya sebagai seorang kreator.
“Radio adalah etalase saya,” ungkap Sahil. Melalui radio, ia tidak hanya dikenal sebagai penyiar, tetapi juga memperoleh peluang untuk mengembangkan berbagai bentuk konten digital yang memberikan nilai tambah bagi dirinya maupun brand yang bekerja sama.
Menjawab pertanyaan peserta mengenai rasa malas membuat konten, Kamal memberikan jawaban sederhana namun mengundang tawa. Menurutnya, tidak ada cara instan untuk mengatasi rasa malas selain mencari lingkungan yang mampu mendorong seseorang agar tetap konsisten berkarya. “Cari teman yang kayak Sahil,” ujarnya.
Diskusi kemudian berlanjut pada strategi yang perlu dilakukan kreator pemula di tengah maraknya live streaming dan video on demand (VOD). Kamal menyarankan agar kreator yang baru memulai lebih dahulu memanfaatkan live streaming sebagai media membangun kedekatan dengan audiens. Setelah mulai memahami karakter penonton dan membangun komunitas, barulah mereka dapat mengembangkan konten video yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Sementara itu, Sahil menekankan pentingnya membangun “etalase” sebelum berharap memperoleh keuntungan dari media sosial. Menurutnya, konten merupakan identitas yang menunjukkan siapa diri seorang kreator dan bidang apa yang ingin ditekuni. Apabila belum menemukan niche yang tepat, ia menyarankan untuk terus bereksperimen dengan berbagai jenis konten, mengevaluasi performanya melalui engagement, kemudian mengembangkan konten yang paling mendapat respons positif dari audiens.Ia juga mengingatkan agar proses berkonten tidak dijadikan sebagai beban.
Ketika membahas platform yang paling potensial untuk memperoleh penghasilan, Kamal menjelaskan bahwa setiap platform memiliki karakteristik yang berbeda. Berdasarkan pengalamannya, TikTok dan Instagram menjadi platform yang relatif lebih cepat menghasilkan pendapatan bagi kreator. Namun, ia menilai Instagram menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dibandingkan TikTok yang memiliki aturan lebih ketat dalam pengelolaan konten.
Menutup sesi, Sahil membagikan pesan sederhana namun penuh makna kepada seluruh peserta YOTNC16. “Lakuin apa yang kamu takutin.” Baginya, keberanian untuk memulai sering kali menjadi pembeda antara mereka yang hanya memiliki ide dan mereka yang berhasil mewujudkannya menjadi karya nyata.
Melalui sesi #NONTONRADIO, Kamal Rasyid dan Sahil Mulachela menunjukkan bahwa masa depan radio bukanlah sekadar mempertahankan cara lama, melainkan terus beradaptasi mengikuti perubahan perilaku audiens. Dengan memanfaatkan podcast, live streaming, video pendek, hingga media sosial sebagai satu ekosistem, radio berhasil menciptakan nilai baru bagi kreator maupun brand. Transformasi ini menjadi bukti bahwa di era ekonomi kreatif digital, radio tidak lagi hanya untuk didengar, tetapi juga untuk ditonton, dibagikan, dan menjadi ruang lahirnya peluang-peluang baru.
====================================
Media Kontak
Sabrina Shafa Qonita, Writer
Muhammad Lazuardi Naftali, Editor