1. News
  2. Komunitas
  3. YOTNC16: Vision To Value Hadirkan Inspirasi Kepemimpinan dan Inovasi Bagi Generasi Muda

YOTNC16: Vision To Value Hadirkan Inspirasi Kepemimpinan dan Inovasi Bagi Generasi Muda

yotnc16:-vision-to-value-hadirkan-inspirasi-kepemimpinan-dan-inovasi-bagi-generasi-muda
YOTNC16: Vision To Value Hadirkan Inspirasi Kepemimpinan dan Inovasi Bagi Generasi Muda

Jakarta (04/7) – Konferensi tahunan Young On Top, YOTNC16, sukses mempertemukan lebih dari 5.000+ anak muda dari berbagai wilayah Indonesia di Swasana BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta, pada 04 Juli 2026. Melalui rangkaian sesi inspiratif bersama tokoh-tokoh dari berbagai industri, peserta memperoleh kesempatan untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring. Dalam sesi bertema “Vision to Value: Langkah Awal Membangun Mindset Bisnis & Kepemimpinan pada Generasi Muda”, Leontinus Alpha Edison (Deputi PEMPPMI Kemenko PM; Co-Founder Tokopedia), Arto Biantoro (Brand Activist), dan A.A.A.Indira Pratyaksa (Direktur SDM & Penunjang Bisnis – PT Pertamina Power Indonesia) membahas vision to value sebagai akar inspirasi serta relevansinya bagi pengembangan kapasitas generasi muda.YOTNC16: VISION TO VALUE HADIRKAN INSPIRASI KEPEMIMPINAN DAN INOVASI BAGI GENERASI MUDA

Mimpi besar tidak akan pernah cukup tanpa keberanian untuk mengeksekusinya. Pesan inilah yang menjadi benang merah dalam sesi Vision to Value: Langkah Awal Membangun Mindset Bisnis & Kepemimpinan pada Generasi Muda di Young On Top National Conference (YOTNC). Menghadirkan Leontinus Alpha Edison (Deputi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Kemenko PM sekaligus Co-Founder Tokopedia), Arto Biantoro (Brand Activist), serta A.A.A. Indira Pratyaksa (Direktur SDM & Penunjang Bisnis PT Pertamina Power Indonesia), sesi ini mengajak generasi muda memahami bahwa visi hanya akan bermakna apabila diwujudkan menjadi nilai nyata bagi diri sendiri maupun masyarakat.

Diskusi diawali dengan fenomena yang kerap ditemui di kalangan anak muda: memiliki banyak ide dan mimpi besar, tetapi berhenti pada tahap perencanaan. Menanggapi hal tersebut, Leontinus Alpha Edison menekankan bahwa perjalanan membangun bisnis maupun kepemimpinan tidak dimulai dari ide semata, melainkan dari proses mengenal diri sendiri. Menurutnya, setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda sehingga jalan menuju keberhasilan pun tidak bisa disamaratakan. Pengalaman, keberanian mencoba, serta kemampuan membangun kolaborasi menjadi fondasi penting untuk mengubah sebuah visi menjadi sesuatu yang benar-benar memberikan nilai.

Leontinus juga mengingatkan bahwa eksekusi membutuhkan proses belajar yang tidak singkat. Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk tidak terburu-buru merasa harus langsung membangun bisnis setelah lulus kuliah. Pengalaman bekerja dan belajar dari berbagai tantangan justru dapat menjadi bekal berharga dalam memahami persoalan nyata, menemukan solusi, serta membentuk mentalitas seorang pemimpin maupun entrepreneur. “Kita tidak akan tahu bagaimana cara menyelesaikan suatu masalah jika belum pernah benar-benar terjun menghadapinya,” ujarnya.

Perspektif serupa disampaikan oleh A.A.A. Indira Pratyaksa mengenai kepemimpinan. Menurutnya, leadership bukanlah kemampuan yang muncul setelah seseorang memperoleh jabatan. Sebaliknya, kepemimpinan dibangun melalui latihan yang dilakukan setiap hari, bahkan dari keputusan-keputusan sederhana. Membangun jejaring, berani mengambil keputusan, memberdayakan orang lain, hingga mampu menentukan prioritas merupakan bentuk latihan kepemimpinan yang dapat dimulai sejak dini.

Indira menegaskan bahwa jabatan hanyalah bentuk legitimasi, sedangkan karakter seorang pemimpin terbentuk jauh sebelum seseorang menduduki posisi strategis. Oleh karena itu, generasi muda tidak perlu menunggu kesempatan datang untuk mulai mengembangkan kapasitas kepemimpinan. Konsistensi dalam belajar dan memperbaiki diri menjadi kunci utama agar kemampuan tersebut terus bertumbuh.

Dalam membangun bisnis, Arto Biantoro mengajak peserta untuk melihat bahwa peluang berwirausaha saat ini justru lebih terbuka dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, membangun usaha membutuhkan tiga modal utama, yaitu modal finansial, ilmu pengetahuan, dan kemauan untuk terus berkembang. Apabila seseorang belum memiliki modal finansial, maka yang perlu dilakukan adalah terus belajar dan bekerja untuk mempersiapkan fondasi tersebut. Arto juga menekankan bahwa networking bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, melainkan dibangun secara aktif. Ia menjelaskan bahwa jaringan dapat berasal dari berbagai lingkaran, mulai dari keluarga, alumni, lingkungan kerja, komunitas, hingga orang-orang baru yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Semakin luas jejaring yang dimiliki, semakin besar pula peluang untuk belajar, berkolaborasi, maupun mengembangkan usaha.

Menutup sesi, Indira membagikan empat prinsip kepemimpinan yang dapat menjadi bekal bagi generasi muda. Pertama, peningkatan kapabilitas adalah tanggung jawab pribadi yang tidak dapat didelegasikan kepada siapa pun. Kedua, setiap individu perlu membangun keunggulan yang menjadi ciri khas dirinya. Ketiga, integritas harus dijaga melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan. Terakhir, kepemimpinan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.

Sementara itu, Arto mengingatkan bahwa kesalahan terbesar yang sering dilakukan anak muda ketika membangun sebuah brand adalah terlalu cepat berfokus pada penjualan. Menurutnya, fondasi utama sebuah bisnis bukanlah keuntungan, melainkan kepercayaan. Kepercayaan dibangun melalui hubungan yang kuat, kolaborasi, dan keterlibatan dalam isu-isu yang memiliki nilai bersama, seperti kemanusiaan, sosial, maupun budaya. Ketika kepercayaan telah terbentuk, peluang bisnis akan mengikuti dengan sendirinya.

Melalui sesi Vision to Value, para pembicara sepakat bahwa perjalanan menjadi pemimpin maupun entrepreneur tidak pernah terjadi secara instan. Dibutuhkan keberanian untuk memulai, konsistensi untuk terus belajar, serta kemauan membangun relasi yang bermakna. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa besar mimpi yang dimiliki yang akan menentukan masa depan seseorang, melainkan seberapa jauh ia berani mengubah visi tersebut menjadi nilai yang membawa manfaat bagi banyak orang.

====================================

Media Kontak

Sabrina Shafa Qonita, Writer

[email protected]

Muhammad Lazuardi Naftali, Editor

[email protected]

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
YOTNC16: Vision To Value Hadirkan Inspirasi Kepemimpinan dan Inovasi Bagi Generasi Muda
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us