Di tiap sudut Jogja, pasti kalian akan ketemu mahasiswa. Bila ketemu orang dengan kemeja flanel dengan celana model terbaru, tatanan rambut yang ikutan model terkini, besar kemungkinan itu mahasiswa. Tentu saja itu wajar, sebab, memang Jogja adalah Kota Pelajar.
Branding Kota Pelajar yang amat kuat bikin banyak orang dari berbagai daerah jauh-jauh belajar di Jogja. Padahal saya yakin di kota mereka sendiri sebetulnya juga ada kampus.
Saya merasa bahwa ada semacam mitos yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Semacam pesan tersirat yang bunyi maknanya: “kalau ingin kuliah, pergilah ke Jogja”. Entah siapa yang pertama kali menyebarkan “doktrin” itu. Yang jelas beberapa teman saya kuliah di sini karena dorongan doktrin tersebut.
Bahkan terkadang orang tua sangat menginginkan anaknya belajar di Jogja. Entah kampusnya bagus atau tidak. Beberapa teman saya dianggap hebat setelah sekolah atau kuliah di Jogja. Padahal sekolah dan kampusnya juga bukan termasuk unggulan.
Sebagai warga Jogja, saya merasa kalau kota ini memang pantas jadi tempat tujuan kuliah. Setelah saya amati dalam-dalam, ada beberapa alasan yang bikin Kota Istimewa pantas menyandang tujuan utama orang melanjutkan pendidikan.
Kampus di Jogja saling berdekatan
Kalau diperhatikan secara seksama, jarak antarkampus di Jogja itu tidak jauh. Katakanlah UGM dengan UNY. Kampus utama UGM itu tempatnya di Bulaksumur, sedangkan kampus pusat UNY di Karangmalang. Keduanya hanya berjarak sekitar 1–2 kilometer.
Di selatannya UNY juga ada kampus terkenal lainnya, yakni UIN Sunan Kalijaga. Jaraknya dengan UGM dan UNY masih terbilang relatif dekat. Bahkan uniknya, beberapa wilayah ketiga kampus ini masih berada di kecamatan yang sama, yakni kecamatan Caturtunggal.
Masih ada UPN Veteran yang jaraknya tidak begitu jauh, dan UII Ekonomi yang tepat ada di depan UPN. Di selatan UPN, ada ada STIE YKPN. Oh iya, dekat dengan Jalan Gejayan, juga ada Mercu Buana. Masih ada banyak kampus di Jogja, tapi dalam jarak 2-8 kilometer saja, sudah ada banyak kampus.
Kerapatan ini jelas mengalahkan kota lain, misalnya Malang yang juga kerap disebut sebagai pesaing Jogja perkara gelar Kota Pendidikan. Tapi meski Malang juga terhitung rapat, tetapi secara jumlah kalah jauh. Jogja punya 100 lebih perguruan tinggi, sedangkan Malang (kota plus kabupaten) hanya 50-70. Anda bisa cek daftar perguruan tinggi yang ada di Kota Malang di tautan ini.
Di Jogja banyak perpustakaan dan tempat baca buku
Perpustakaan di Jogja itu bisa dibilang tidak sedikit. Katakanlah di provinsi DIY, ada Kota Jogja, Kabupaten Sleman, dan Bantul yang dekat dengan area sentra kampus. Dan di setiap kota tersebut, terdapat minimal satu perpustakaan.
Di kota Jogjanya terdapat perpustakaan kota Jogja dan perpustakaan Pevita. Bagi yang menyukai koleksi arsip koran lama bisa datang ke Jogja Library Center. Kalau di utara, ada Perpustakaan Kabupaten Sleman. Selain itu, di Sleman juga ada Ruang Literasi Kaliurang milik Willy Aditya, yang bisa dijadikan tempat membaca dan mencari referensi.
Sedangkan di Bantul ada Grhatama Pustaka yang terkadang dikenal dengan Perpusda DIY. Selain Grahatama di Bantul juga ada perpustakaan umum kabupaten Bantul.
Melihat banyaknya perpustakaan di Jogja, saya rasa tidak ada alasan bagi mahasiswa kesulitan mencari referensi belajar.
Toko buku di mana-mana
Bagi yang tidak suka pinjam buku, orang cukup pergi ke toko buku dan membeli buku yang dicarinya. Karena toko buku di Jogja itu cukup banyak jumlahnya. Dari mulai yang estetik sampai klasik semua ada.
Dan di toko buku yang kekinian, terkadang kita boleh hanya sekedar datang untuk membaca. Sebab, di sana disediakan buku khusus untuk bacaan.
Kegiatan non-akademik melimpah
Di akhir menjelang saya lulus kuliah, saya mencoba untuk aktif mengikuti kegiatan di luar kampus. Seperti pelatihan, seminar, diskusi, atau sekedar duduk dalam majlis untuk mendengarkan kajian.
Dan setelah bergerilya mencari berbagai informasi, saya merasa bahwa frekuensi kegiatan positif di Jogja cukup sering. Dan hal ini belum tentu ditemukan di kota-kota lain. Sebabnya teman saya pernah bilang kalau di kotanya minim kegiatan semacam di kota ini.
Banyak komunitas-komunitas untuk berkembang di Jogja
Kalau ada perantau yang kesepian di Jogja itu adalah sebuah kebohongan. Kalau tidak bohong ya orangnya berarti tidak pandai bergaul. Sebabnya di Jogja banyak komunitas yang cocok untuk menambah relasi.
Komunitas di Jogja itu banyak. Ada yang bergerak di bidang kemanusiaan. Berangkat dari hobi. Atau bahkan komunitas kedaerahan. Selain itu sebetulnya masih banyak lagi seperti: isu lingkungan, literasi, seni, teknologi, dan keagamaan.
Jika kesepian, anda tinggal datang ke komunitas untuk sekedar ikut kopdar atau diskusi. Biasanya budaya komunitas di sini itu terbuka. Orang bisa ikut kegiatannya tanpa harus menjadi anggota resmi.
Beberapa hal yang saya sampaikan di atas jelas cukup jadi alasan kenapa orang-orang menuju ke Kota Istimewa untuk melanjutkan pendidikan. Jadi misal ada kota lain yang klaim lebih cocok jadi kota pendidikan, ya boleh saja sih, tapi apakah bisa menyaingi Jogja perkara hal-hal ini?
Kalau tidak, ya tak perlu repot-repot lah ya.
Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh