Sebagai warga desa yang tinggal di lingkungan religius, saya sangat terkesan dengan kehidupan masyarakat yang sangat guyub. Dalam setiap hal, setiap orang seperti akan spontan menawarkan bantuan. Kami memang melakukan semua hal bersama-sama. Tak boleh ada yang tertinggal. Termasuk ketika ada yang meninggal.
Tapi, ada satu hal yang menurut saya makin berlebihan ketika ada orang meninggal. Betul bahwa muslim lainnya ibarat saudara. Dan salah satu keutamaannya, kami wajib ikut mensholatkan hingga memakamkan saat ada orang yang meninggal.
Sayangnya, kini kewajiban tersebut malah kebablasan. Seringnya malah ketambahan budaya yang tak baik. Nah, berikut saya jelaskan!
#1 Semua orang bebas melihat orang meninggal dimandikan
Di desa saya, saat ada orang meninggal, informasinya bisa tersebar dalam hitungan detik. Itu sangat baik, sebab masyarakat langsung berbondong-bondong membantu proses pemakaman.
Ada yang menggali kubur, menebang pohon, mencari bambu sebagai keranda, mengambil terop, dan lain sebagainya. Tapi, ada satu hal yang menurut saya akhirnya berlebihan, yakni saat proses memandikan jenazah.
Saya rasa, semua paham batasan-batasan aurat. Baik laki-laki maupun perempuan. Tapi, saat memandikan mayat itu di desa, kadang banyaknya tamu membuat mereka tak sungkan untuk melihat proses pemandian yang meninggal. Padahal, mereka bukan siapa-siapanya.
Saya tidak masalah jika dia memiliki kepentingan. Misalnya orang yang paham cara memandikan jenazah. Tapi kadang banyak yang hanya berdiri untuk menonton saja.
Ketidaksetujuan saya ini, selain masalah aurat, kadang juga malah jadi bahan gunjingan. Entah bentuk tubuhnya, atau apa saja tentang orang yang meninggal. Menyedihkan sekali.
#2 Ada ritual agar hantu tidak gentayangan
Cerita hantu di desa saya itu sangat populer. Makanya, banyak yang mengenal desa saya sebagai desa yang angker.
Saya tak menyangkal tentang adanya jin/setan. Sebagai orang beragama saya tetap percaya pada hal gaib. Tapi, kalau orang meninggal bakal hidup lagi dan jadi hantu, saya tidak percaya, sih.
Namun, dalam konteks desa saya, kepercayaan pada hal demikian kadang sampai membuat masyarakat berlebihan. Kadang, agar si arwah yang meninggal tidak bergentayangan, mereka sering melakukan ritual tertentu. Saya tidak tahu lebih tepatnya, sebab beda orang maka kepercayaan pada teknik ritualnya berbeda-beda.
Tetangga saya menanam telur di pojok pekarangan agar almarhum betah di rumahnya sendiri. Hah, jadi hostnya dong yang angker.
#3 Tuan rumah harus jadi story teller padahal lagi sedih ditinggal meninggal
Selanjutnya, setelah memakamkan yang meninggal, ada kebiasaan buruk yang menurut saya tidak pantas. Kebiasaan itu adalah kebiasaan tamu yang menuntut si tuan rumah menjadi story teller.
Tamu model gini akan akan mengulik secara detail detik-detik sebelum yang bersangkutan meninggal. Kan tuan rumah lagi sedih itu.
Biasanya, mereka akan memulai dengan pertanyaan “sakit apa”. Oke, ini masih biasa. Namun, pertanyaan basa-basi itu akan merembet. Diobati ke mana saja, sejak kapan sakitnya, gimana kondisi anak/orang tua yang ditinggal, apa ada firasat tertentu.
Pokoknya detail kayak wartawan infotainmet. Kalau si tuan rumah tidak menceritakan, si tamu akan terus mengejar kisah orang meninggal.
Masalahnya lagi, karena budaya yang berlebihan ini, si tuan rumah akhirnya harus bercerita berkali-kali sampai tujuh hari dengan cerita yang sama. Nggak kasihan?
#4 Niat menyumbang orang meninggal malah berubah jadi utang
Saya tahu, sudah banyak sebetulnya yang membahas masalah ini. Tapi, saya ingin menambahkan betapa tidak idealnya gaya orang bertamu pada orang yang sedang berduka di desa saya.
Sejatinya, niat berkunjung ke rumah orang meninggal itu berbela sungkawa. Jika punya rezeki lebih, bagus ikut bersedekah.
Tapi di desa, hal demikian seakan-akan sudah berubah total. Orang yang berbela sungkawa, sumbangannya sudah tidak lagi untuk bersedekah, tetapi sebagai “utang” bahkan secara terang-terangan.
Sudah biasa di desa saya, warga mencantumkan nama ke beras sumbangan untuk orang meninggal. Kebiasaan ini kayak jadi “peringatan” bahwa tuan rumah juga harus menyumbang dengan nilai yang sama ketika si penyumbang berduka.
#5 Tahlil itu sedekah, tapi sekarang menyulitkan tuan rumah
Ingat, SAYA TIDAK MENOLAK ANALISIS. Sebaliknya, saya sangat menyetujui budaya ini, sebab filosofinya kuat sekali.
Terlepas dari doa-doa yang oleh beberapa golongan dianggap tidak akan sampai (saya percaya itu sampai), ada hal lain yang menurut saya tetap masuk akal. Maksud saya adalah amal jariyah.
Misalnya, saat saya mengundang orang untuk mendoakan nenek saya yang meninggal, saya melihat hidangan yang saya suguhkan sebagai sedekah. Apa yang saya sedekahkan adalah bentuk terima kasih saya pada nenek yang telah mendidik saya sehingga saya punya rasa ikhlas.
Yakni, ikhlas memberikan suguhan pada para undangan. Mudah, kan. Apakah itu tidak disebut amal baik?
Ya tapi saya akui, beberapa tahlilan akhir-akhir ini memang malah kelewat batas. Orang-orang kadang sampai harus utang hanya untuk mengadakan tahlilan orang meninggal.
Padahal, sedekah itu ya semampu kita, tak perlu sampai utang. Akhirnya hanya membuat kita sendiri susah. Nah, baru ini tidak baik. Maka dari itu, ini perlu diubah.
Pengarang: Abdur Rohman
Redaktur: Yamadipati Seno
BACA JUGA Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh