1. News
  2. Mojok
  3. 3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

3-alasan-yang-membuat-saya-nggak-ikhlas-kalau-jaklingko-harus-berbayar,-sebaiknya-benahi-hal-hal-ini-dahulu
3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu

Beberapa waktu belakangan santer terdengar kabar kalau JakLingko akan dibayar. Wacana tarif barunya memang masih lebih murah dibandingkan angkot biasa. Berdasarkan berbagai pemberitaan, rencana tarifnya adalah Rp2.000. Sedangkan angkot biasa di Jakarta, tarif dengan jarak dekat untuk usia dewasa mencapai Rp4.000.

Akan tetapi, sebagai warga Jakarta yang nggak mau rugi, saya mengharapkan kenaikan tarif JakLingko nanti beriringan dengan perbaikan kekurangannya. Supaya, saya membayarnya dengan senang hati dan nggak beralih pakai transum lain.

Apabila ke depannya benar berbayar, saya akan cukup ikhlas untuk membayar tarifnya, asalkan 3 kekurangan JakLingko ini diperbaiki.

#1 Kelakuan menyebalkan sopir JakLingko itu bukan cuma suka ugal-ugalan di jalan, tapi juga nggak menghargai penumpang

Bicara soal ugal-ugalan di jalan, baik angkot biasa maupun JakLingko, ternyata sama. Sopirnya sama-sama suka mengebut. Tapi, kalau bicara soal perlakuan kepada penumpang, sopir angkot biasa sering terlihat lebih menghargai. Apalagi, sekarang angkot biasa sepi penumpang karena kalah saing dengan JakLingko.

Sopir angkot biasa mau memberikan informasi soal rute secara sukarela kepada penumpang yang kebingungan. Kalau sopir JakLingko, belum tentu. Saya pernah bertanya soal rute kepada sopir Jaklingko. Padahal sepi, karena penumpangnya hanya saya sendiri. Tapi, si sopir menjawab dengan ogah-ogahan. Saya sampai harus beberapa kali mengulang pertanyaan.

Selain itu, bukan cuma sekali dua kali saya mendapati sopir JakLingko berwajah jutek. Mereka seperti nggak peduli dengan penumpang. Mengucapkan terima kasih kepada sopir saat turun JakLingko, sudah menjadi etika dasar bagi penumpang. Tapi, banyak supir yang diam tanpa ekspresi saat mendengarnya.

Banyak pula sopir JakLingko yang nggak berhenti di halte, padahal kursi masih kosong dan ada penumpang yang menunggu. Kalau yang menunggu nggak sadar, banyak sopir yang langsung tancap gas. Tapi, masih ada juga sopir baik yang mau klakson dulu agar kita notice kedatangan mereka.

Baru beberapa hari lalu, saya naik JakLingko yang sopirnya mengizinkan penumpang naik tanpa tap kartu. Nggak heran karena penumpang tersebut adalah kenalannya. Saat itu saya duduk dekat mesin tap. Otomatis penumpang yang mau tap kartu, bakal minta tolong kepada saya. Tapi, penumpang itu nggak kunjung memberikan kartunya untuk ditap. Ternyata, dalam dunia per-JakLingko-an saja ada tindakan nepotismenya.

#2 Mesin tap yang terkendala membuat penumpang kesulitan

Setelah melakukan ketukkartu yang sama baru bisa ketuk keluar sekitar 1-2 menit kemudian. Hal ini bikin penumpang yang tujuannya relatif dekat, kerepotan. Akhirnya, banyak yang nggak sempat ketuk keluar kartu, karena sudah waktunya mereka turun. Hal begini harus ada solusinya, apalagi kalau nanti berbayar.

Akan semakin rumit kalau misal tarifnya dibuat berdasar jarak tempuh. Penumpang harus ketuk keluar di tempat turun, sedangkan tap sebelum turun dari mobil itu menyulitkan. Bakal lama, bahkan bisa aja bikin macet, karena sopir harus menunggu penumpang selesai tap dan turun untuk bisa jalan kembali.

Mesin tap eror juga beberapa kali saya temui. Saya pernah naik JakLingko yang mesin tapnya mati. Penumpang naik, semuanya bingung saat mau tap kartu. Tapi, sopirnya cuek saja. Nggak ada omongan apa-apa soal rusaknya mesin tap. Malah, salah satu penumpang mengusulkan untuk menunjukkan kartu ke CCTV Jaklingko sebagai bukti.

Masalah lain yang melibatkan mesin tap adalah kartu penumpang entah mengapa nggak bisa terbaca. Padahal, di mobil JakLingko sebelumnya masih bisa. Beberapa kali saya menemui penumpang dengan masalah tersebut. Akhirnya, saya yang bantu tap dengan kartu milik saya. Membantu seperti itu juga saya tiru dari penumpang lain.

#3 Kursi prioritas ada, tapi fungsinya sama aja dengan kursi lainnya

Bangku depan di samping sopir itu untuk golongan prioritas, tapi hal ini seolah nggak berlaku. Siapa aja boleh duduk di sana. Wajar kalau bangku tersebut menjadi satu-satunya kursi kosong, lalu ada penumpang yang bukan golongan prioritas mau naik. Kenyataannya kursi belakang masih ada space, tapi penumpang yang bukan termasuk prioritas malah pilih duduk di depan. Lagi-lagi, sopir diam aja.

Lebih menyebalkan, ketika bangku prioritas diisi oleh kenalannya sopir. Nggak separah angkot biasa yang seringnya ditempati oleh istri dan anaknya si sopir, tapi yang namanya nepotisme itu selalu menyebalkan. Apalagi, penumpang JakLingko itu sama-sama dibayari oleh pajak.

Keberadaan JakLingko memudahkan untuk bepergian di wilayah Jakarta. Apalagi, saat ini gratis. Cuma butuh kartu uang elektronik untuk tap. Kalau jadi berbayar, selama tarifnya masih sekitar Rp2.000, masih oke. Tapi kalau nggak ada peningkatan kualitas, huh mau naik Jaklingko atau angkot biasa akan sama aja. Apalagi, angkot biasa bisa uang tunai dan nggak ribet tap kartu.

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Nihilnya Posisi Ideal Mesin Tap JakLingko Justru Melestarikan Budaya Tolong Menolong Warga Jakarta.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
3 alasan yang membuat saya nggak ikhlas kalau JakLingko harus berbayar, sebaiknya benahi hal-hal ini dahulu
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us