Katanya, harga makanan di kota besar itu mahal-mahal, tak terkecuali Surabaya. Tapi, setelah tinggal di kota pahlawan selama lebih dari sepuluh tahun, anggapan itu terbantahkan. Apalagi jika harga makanan itu dibandingkan dengan tempat asal saya, Banyuwangi. Makanan yang dimaksud adalah makanan jadi yang biasanya kita beli di warung makan atau di rombong pinggir jalan.
Penilaian ini memang terlihat subjektif. Jangan-jangan, hanya saya yang merasa begini? Tapi, sepertinya tidak. Saya pernah melempar pertanyaan ke Threads tentang apa yang membuat orang betah tinggal di Surabaya. Beberapa orang menjawab bahwa mereka betah hidup di kota ini karena harga makanannya yang murah.
Anggapan yang sama juga datang dari para saudara yang kebetulan pernah mampir atau menginap di tempat saya di Surabaya. Kalau mereka datang pas saya lagi nggak masak, langsung saja saya melipir ke warung makan. Saking lamanya tinggal di kota ini, saya sampai hafal lokasi warung yang menjual makanan enak dan murah. Rata-rata saudara saya pasti berkomentar,”Kok murah yo? Ini kalau di Banyuwangi cuma dapat seuprit”.
Namun, di balik fenomena itu, apakah harga murah yang kita dapatkan saat membeli makanan di Surabaya ini sebanding dengan keuntungan yang didapat oleh penjualnya?
Dari mana anggapan harga makanan di Surabaya “lebih murah” itu berasal?
Penilaian bahwa makanan di Surabaya lebih murah dari Banyuwangi ini muncul setelah saya dan orang-orang membandingkan antara harga, menu, dan porsi yang di dapat. Dengan menu yang sama, sebuah makanan bisa memiliki porsi yang berbeda meskipun harganya sama-sama 14 ribu rupiah.
Sebagai contoh, ambil saja menu nasi pecel. Makanan sejuta umat Jawa timur ini terasa lebih murah jika dibeli di Surabaya. Dengan harga yang sama dengan pecel di Banyuwangi, pecel di Surabaya punya porsi lebih banyak. Kalau ngasih sambel juga nggak tanggung-tanggung. Bisa basah semua nasi dan sayurnya.
Beda dengan bakul pecel di Banyuwangi yang ngambil sambelnya pakai sendok makan dan cuma ditaruh di atas sayurnya. Sambel itu cuma nangkring di atas kulupan, kurang seimbang dengan jumlah nasinya.
Makanan lain yang nggak kalah murah adalah nasi goreng. Dengan harga yang sama, nasi goreng di Surabaya nyatanya jauh lebih murah. Saya pernah iseng menimbang nasi goreng di Surabaya pakai timbangan digital. Beratnya benar-benar dua kali lipat dari porsi nasi goreng di Banyuwangi. Porsi ugal-ugalan ini bahkan bisa cukup untuk 2-3 orang. Sedangkan di Banyuwangi, satu porsi nasi goreng cuma cukup buat satu orang. Apalagi kalau makan di tempat, isinya lebih sedikit lagi dibandingkan dengan take away.
Belum lagi dengan menu sambelan atau penyetan. Surabaya bisa menyajikan menu sekelas bebek goreng dengan harga paling murah hanya dengan membeli di pedagang kelas rombong. Sedangkan di daerah lain, daging bebek adalah menu dengan harga menengah yang hanya ditemukan di rumah makan. Minimal PKL pinggir jalan yang pasang tenda dan punya area dine-in.
Di Banyuwangi, beda cerita
Di Banyuwangi, menu sekelas ayam goreng atau ayam panggang bisa-bisa dibanderol dengan harga 25 ribu ke atas. Kalau bebek, minimal dapat harga 30 ribu ke atas. Kalaupun ada yang di bawah itu, pastilah dagingnya kecil dan sambelnya super irit.
Beda sekali dengan Surabaya yang bahkan memberikan sambel sepuasnya bagi pelanggan yang makan di tempat. Dengan uang belasan ribu, kita dengan mudah makan penyet ayam atau bebek dari penjual yang bawa gerobak rombong yang mangkal hampir di tiap sudut kota.
Harga makanan di Surabaya yang lebih murah ini tentu saja membuat pendatang seperti saya terheran-heran. Kalau pakai logika sederhana, harusnya makanan di Banyuwangi itu lebih murah, kerena bahan dasarnya juga murah.
Bagaimanapun, UMR Banyuwangi yang lebih kecil dari Surabaya harusnya membuat harga makanan lebih terjangkau untuk kelas pekerja. Kenapa yang terjadi justru sebaliknya?
Suatu hari, saya pernah ngobrol ngalor ngidul sama suami. Obrolan kami akhirnya menyenggol masalah harga pangan ini. Setelah membuat analisis kecil-kecilan, akhirnya saya membuat kesimpulan. Harga jual makanan itu tidak hanya dipengaruhi harga bahan dasar dan realitas pendapatan masyarakat lokalnya. Faktor lain yang membuat pedagang menentukan harga jual adalah tingkat persaingan di sektor usaha makanan itu sendiri.
Jumlah warga Surabaya asli dengan warga pendatang yang terus bertambah tiap tahun membuat kebutuhan makanan juga meningkat. Para pekerja kantor, buruh pabrik, mahasiswa, semuanya adalah target empuk untuk dibidik sebagai konsumen utama. Hal inilah yang membuat banyak perantau menyerbu Surabaya untuk berjualan makanan. Persaingan antar pedagang makanan pun tak terhindarkan.
Sebagai contoh, kita ambil satu varian makanan, misalnya ayam geprek. Di Surabaya, jumlah penjual ayam geprek bisa lebih dari lima gerai dalam satu ruas jalan. Kalau satu kelurahan, penjual ayam geprek itu jumlahnya bisa mencapai puluhan. Mau tidak mau, penjual makanan harus mengikuti perang harga yang tercipta secara organik akibat kompetitor yang muncul begitu cepat.
Sedangkan Banyuwangi yang penduduknya hanya separuh dari penduduk Surabaya otomatis memiliki pasar yang lebih sedikit. Target market hanya menyasar warga lokal yang sebagian besar tinggal di wilayah pedesaan. Jumlah pedagang makanan hanya beberapa orang saja.
Contohnya adalah desa saya sendiri. Jumlah warung makan yang beroperasi bisa dihitung pakai jari. Kadang kalau mau jajan, kami harus melipir ke desa sebelah. Persaingan yang rendah ini tentu membuat para pedagang lebih leluasa memainkan harga. Tidak ada ancaman berarti dari kompetitor.
Persaingan tinggi melahirkan perang harga yang menyiksa antar-pedagang makanan
Di Surabaya, hampir semua jenis makanan dari berbagai daerah di Indonesia tumplek blek di sini. Mau masakan padang sampai ayam taliwang, semua ada. Belum lagi menu-menu modern hasil kreativitas pedagang yang kadang tumbuh dari konten-konten yang sedang viral.
Banyaknya varian makanan ini membuat konsumen dengan mudah pindah haluan kalau menemukan menu baru. Apalagi kalau harganya lebih murah. Mau tidak mau, pedagang harus menyesuaikan dengan harga kompetitor. Kalau mereka menaikkan harga seribu perak saja, pelanggan dengan entengnya pindah ke warung sebelah yang jaraknya cuma tiga langkah kaki.
Sampai di sini kita jadi paham bahwa harga murah yang kita dapatkan ternyata hasil dari perang tak kasat mata antar-pedagang makanan di Surabaya. Kota ini bisa berubah jadi medan tempur yang sengit meskipun sebelumnya terlihat menggiurkan untuk ladang cuan.
Di balik harga yang ramah bagi kantong pekerja dan mahasiswa, ada upaya mati-matian menekan keuntungan agar pedagang dapat bertahan setiap harinya.
Di balik harga murah, ada perjuangan pedagang yang berdarah-darah
Setelah membandingkan harga makanan di Surabaya dan Banyuwangi, kita jadi tahu bahwa Surabaya memang unggul dalam urusan murah. Namun, hal ini seharusnya tidak membuat kita cuma bertepuk tangan, karena setelah ditelisik lebih dalam, harga “miring” di Surabaya ini ternyata hasil pertarungan brutal antar pedagang. Di satu sisi, kita senang menikmati harga murah, sementara di sisi lain, pedagang ternyata sedang berdarah-darah mempertahankan nafas usahanya.
Jadi, saat kamu beli makanan murah ke pedagang kecil di Surabaya, jangan lupa menyisipkan sedikit rasa empati pada mereka. Kita sering lupa bahwa di balik harga Rp10 ribu itu, ada pedagang yang harus memeras margin keuntungan sampai titik terendah agar bisa bersaing, agar warungnya tak sampai gulung tikar.
Penulis: Mega Hutagama
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Kuliner Populer yang Jarang Ditemukan di Surabaya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh