Film pendek Indonesia Autosave membawa langkah penting bagi perfilman nasional setelah terpilih menjalani world premiere di 25th New York Asian Film Festival (NYAFF) 2026, salah satu festival film internasional yang berfokus pada sinema Asia.
Film berdurasi 15 menit 30 detik itu disutradarai Imanuel Bolaman asal Ambon, Maluku, dengan M. Khaerun Zuhry Radjilun asal Ternate, Maluku Utara, sebagai Executive Producer. Keberhasilan tersebut menunjukkan semakin besarnya kontribusi sineas dari Indonesia Timur dalam menghadirkan karya yang mendapat perhatian di forum perfilman internasional.
Diproduksi oleh ADEPTLAB dan diproduseri Martin Simbolon, Autosave mengangkat kisah yang dekat dengan pengalaman manusia: kehilangan, memori, hubungan ayah dan anak, serta keberanian melanjutkan hidup. Cerita yang sederhana dipadukan dengan pendekatan sinematik yang menempatkan emosi para tokohnya sebagai pusat narasi.
Memori yang Tersimpan dalam Sebuah Gim
Tokoh utama film ini adalah Bintang, remaja berusia 19 tahun yang kehilangan ayahnya ketika masih berusia sebelas tahun. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali membuka gim konsol yang dulu sering dimainkan bersama sang ayah, tetapi tidak pernah mereka selesaikan. Dari sana, Bintang kembali berhadapan dengan kenangan masa kecilnya, memproses rasa kehilangan, dan perlahan menemukan cara untuk berdamai dengan masa lalu.
Cerita tersebut diperkuat oleh penampilan Dru Prawiro Sasono sebagai Bintang remaja, Den Bagus Sasono sebagai Bintang kecil, Dwi Sasono sebagai sang ayah, dan Litany Audrey Nainggolan sebagai ibu. Interaksi antartokoh menjadi fondasi utama film dalam menggambarkan dinamika sebuah keluarga yang menghadapi duka.
Tema yang diangkat Autosave bersifat universal. Pengalaman kehilangan anggota keluarga dan usaha menerima kenyataan merupakan persoalan yang dapat ditemukan di berbagai budaya. Pilihan tema inilah yang membuat film tersebut memiliki ruang untuk berkomunikasi dengan penonton internasional tanpa harus melepaskan identitasnya sebagai karya Indonesia.
Lolos Kurasi Festival Internasional
Autosave masuk dalam Official Selection NYAFF 2026 setelah melalui proses seleksi dan kurasi internasional yang kompetitif. Film ini dijadwalkan tayang perdana pada 12 Juli 2026 di Walter Reade Theater, Film at Lincoln Center, New York, sebagai bagian dari program Shorts Program: Lost & Found, bersama sejumlah film pendek pilihan dari berbagai negara.
New York Asian Film Festival diselenggarakan pada 10–26 Juli 2026 di sejumlah lokasi prestisius di New York, antara lain Film at Lincoln Center, SVA Theatre, IFC Center, Anthology Film Archives, dan Korean Cultural Center New York.
Selama lebih dari dua dekade, festival ini dikenal sebagai salah satu ajang penting untuk memperkenalkan karya-karya sineas Asia kepada publik Amerika Utara. Pada penyelenggaraan tahun ini, salah satu film yang turut mendapat perhatian adalah Colony karya Yeon Sang-ho, sutradara Train to Busan, yang menjadi film pembuka festival dengan status North American Premiere.
Membuka Jalan bagi Sineas Indonesia Timur
Keikutsertaan Autosave juga mencerminkan semakin luasnya peta perfilman Indonesia. Kehadiran Imanuel Bolaman dari Ambon dan M. Khaerun Zuhry Radjilun dari Ternate memperlihatkan bahwa karya dengan kualitas festival internasional dapat lahir dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam rangkaian world premiere tersebut, empat perwakilan ADEPTLAB hadir di New York, yaitu Imanuel Bolaman sebagai sutradara, M. Khaerun Zuhry Radjilun sebagai Executive Producer, Dru Prawiro Sasono sebagai pemeran utama, dan Wijanara Dyota sebagai sinematografer.
ADEPTLAB menyampaikan, “Melalui Autosave, ADEPTLAB berharap dapat memperkenalkan perspektif baru dari perfilman Indonesia kepada dunia sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi karya-karya kreator Indonesia, termasuk dari kawasan Indonesia Timur, untuk terus hadir dan berkontribusi dalam percakapan sinema global.”
Kehadiran Autosave di New York Asian Film Festival 2026 memperlihatkan bahwa cerita yang berangkat dari pengalaman lokal tetap memiliki daya jangkau internasional ketika disampaikan secara autentik. Bagi sineas Indonesia Timur, pencapaian ini menjadi salah satu penanda bahwa kesempatan tampil di festival dunia semakin terbuka, seiring tumbuhnya keberagaman suara dan perspektif dalam perfilman Indonesia.
Baca jugaJAFF Market 2026 Perkuat Ekosistem Film Indonesia, Dorong Kolaborasi Global dan Akses Pembiayaan
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News