1. News
  2. Berita
  3. Bali Sudah, Sekarang Giliran Banyuwangi

Bali Sudah, Sekarang Giliran Banyuwangi

bali-sudah,-sekarang-giliran-banyuwangi
Bali Sudah, Sekarang Giliran Banyuwangi

Banyuwangi itu cuma seberang selat dari Bali. Naik kapal, sejam sudah sampai.

Tapi nasibnya dulu beda jauh. Bagai bumi dan langit.

Bali diserbu turis dari segala penjuru dunia. Banyuwangi? Puluhan tahun nasibnya cuma jadi tempat lewat. Orang naik bus dari Surabaya, mampir sebentar di Pelabuhan Ketapang, lalu nyebrang ke Bali. Selesai. Bus-bus antarkota berhenti sebentar di terminal, penumpang turun cuma untuk pindah moda, lalu jalan lagi ke pelabuhan.

Data resmi pun menunjukkan pola yang sama. Menurut catatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi, rata-rata lama menginap tamu hotel di sana cuma berkisar 1,3 sampai 1,5 malam. Artinya, kebanyakan wisatawan cuma numpang tidur satu malam, lalu pergi lagi. Banyuwangi kebagian jatah singgah sebentar, bukan tujuan yang ditinggali lama-lama.

Padahal, coba jujur saja. Apa yang Bali punya, yang Banyuwangi tidak punya?

Alam? Banyuwangi punya Kawah Ijen dengan Blue Fire-nya. Ini bukan fenomena sembarangan. Di dunia, api biru sekelas ini cuma ada di dua tempat. Satu di Kawah Ijen, satu lagi di Dallol, gunung berapi di kawasan Danakil, Ethiopia. Api itu bukan dari lava. Itu gas belerang yang keluar dari retakan bumi, lalu terbakar begitu kena udara.

Belum lagi soal taman nasional. Banyuwangi punya tiga sekaligus, dan masing-masing punya karakter beda. Baluran, sabana kering yang sering disebut “Little Africa”-nya Jawa. Alas Purwo, hutan tropis yang penuh cerita mistis dan legenda turun-temurun. Meru Betiri, rumah penyu hijau dan salah satu hutan hujan dataran rendah yang masih tersisa di Jawa.

Budaya? Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi, punya bahasa sendiri: Bahasa Using. Ini bukan sekadar dialek Jawa. Sebagian ahli bahasa bahkan menyebutnya sebagai bahasa yang berdiri sendiri, turunan langsung dari Jawa Kuno, dengan struktur yang lebih statis dan tidak mengenal tingkatan tutur seperti Bahasa Jawa modern.

Osing juga punya tradisi sastra lisan yang jarang dibicarakan orang luar Banyuwangi. Ada kesenian Mocoan Pacul Gowang, tradisi membaca dan melantunkan Lontar Yusuf secara turun-temurun. Ada juga wayang khas Osing, termasuk wayang wong dan wayang bambu dari Desa Gintangan, yang ceritanya diadaptasi dengan bahasa dan busana Banyuwangi sendiri. Belum lagi Tari Gandrung, tarian penyambutan yang magis kalau ditonton langsung dengan iringan gamelan.

Soal makan, jangan tanya. Nasi tempong dengan sambalnya yang menampar, pecel pitik, sampai tradisi ngopi yang mengakar kuat di Desa Kemiren, semuanya jadi identitas yang tidak bisa dipisahkan dari Banyuwangi. Dan nama Blambangan sendiri bukan sekadar nama daerah. Suku Osing dipercaya sebagai keturunan Kerajaan Blambangan, yang lama bertahan menghadapi ekspansi Mataram dan kolonial Belanda, sehingga tersimpan kuat dalam memori kolektif orang Jawa sebagai simbol perlawanan.

Belum lagi soal gaya hidup. Banyuwangi punya Pantai Plengkung di dalam Alas Purwo, yang oleh peselancar dunia dijuluki G-Land, salah satu ombak terbaik untuk selancar di Asia. Hamparan sawah di pinggiran kotanya masih luas dan hijau, bukan sekadar pemandangan, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari warganya. Jalanannya juga jauh dari macet, kontras dengan Bali yang makin padat di jalur-jalur wisata utamanya.

Soal akses fisik, Banyuwangi sebenarnya sudah cukup lengkap. Ada Bandara Blimbingsari. Ada jalur kereta api langsung dari Surabaya dan kota-kota lain di Jawa. Ada pelabuhan feri Ketapang yang menyeberang langsung ke Bali. Ada jaringan bis antarkota. Dan tol Trans Jawa sedang disambungkan sampai ke sini, meski saat ini progresnya baru rampung hingga Besuki, Situbondo, belum tuntas sampai Banyuwangi. Semua moda transportasi itu sudah ada. Yang belum matang tinggal satu: bagaimana menata semuanya jadi satu sistem pariwisata yang menghasilkan, bukan cuma jalur transit.

Semua modal itu sudah lama ada. Sudah puluhan tahun ada. Lalu kenapa Banyuwangi (masih) kalah jauh?

Jawabannya, menurut saya, sederhana saja: tata kelola dan akses.

Banyak daerah bikin festival. Pintar bikin banyak acara termasuk acara-acara seremonial. Tapi pintar bikin acara belum tentu pintar jualan pariwisata secara bisnis. Pariwisata itu industri.

Kalau cuma mengandalkan APBD dan cara kerja birokrasi biasa, ya jalannya pasti merayap. Lambat dan lama sampainya.

Makanya begitu saya baca kabar bahwa PT Aviasi Pariwisata Indonesia, atau InJourney, turun tangan langsung menggarap Banyuwangi, saya langsung tertarik. Ini bukan kabar biasa. Ini kabar baik.

Di mata saya, InJourney itu bukan holding BUMN biasa. Mereka pegang ekosistem pariwisata dan aviasi dari hulu ke hilir. Bandara. Maskapai. Perhotelan. Sampai pemetaan destinasi. Dan mereka sukses di situ.

Saya berapa kali bertemu dengan Direktur Utamanya, Maya Watono, dan menurut pandangan saya, beliau faham betul cara kerja industri ini. Ketika InJourney masuk ke Banyuwangi, timnya blusukan tiga hari penuh. De Djawatan. Pantai Mustika. Pulau Bedil. Pulau Merah. Desa Wisata Tamansari. Desa Wisata Adat Osing Kemiren. Baru setelah itu duduk diskusi teknis dengan dinas terkait.

Kolaborasi ini juga bukan cuma InJourney dan Pemkab Banyuwangi berdua saja. Angkasa Pura, yang kini bagian dari InJourney Airports, ikut duduk satu meja, diwakili Direktur Utamanya, Mohammad Rizal Pahlevi. Jadi ada tiga pihak yang bergerak bersama: otoritas daerah yang paham keotentikan lokal, holding pariwisata dan aviasi yang punya jaringan nasional, dan operator bandara yang pegang urusan teknis penerbangan. Urusan darat, udara, dan pemasaran digarap satu paket, bukan jalan sendiri-sendiri.

Saya sempat menonton video singkat Maya Watono berbicara soal ini, dan dari situ terasa betul bahwa visinya bukan sekadar basa-basi korporat. Ia bicara soal keinginan besar menampilkan Banyuwangi, dan Indonesia, di mata dunia. Ia bahkan mengaku sendiri sempat terkejut begitu turun langsung melihat potensinya. “Saya juga tidak menyangka bahwa seluar biasa ini,” begitu katanya. Bagi saya, itu bukan kalimat basa-basi. Itu reaksi orang yang biasa berurusan dengan bandara-bandara besar, tapi tetap kaget melihat modal yang selama ini terpendam di Banyuwangi.

Maya juga menyinggung soal kecepatan. Pasar pariwisata itu bergerak cepat, dan menurutnya semua pihak “tidak bisa juga saling nunggu” satu sama lain. Artinya, penyusunan roadmap, penguatan event, promosi destinasi, dan penambahan konektivitas udara mesti digarap paralel, bukan bergiliran menunggu satu proyek selesai dulu.

Itu cara kerja khas swasta profesional yang berorientasi hasil, yang ukuran suksesnya bukan seremoni pembukaan, tapi apakah destinasi itu benar-benar didatangi dan menghasilkan pendapatan berkelanjutan bagi daerah.

Tapi sebaiknya kita jangan cuma percaya konsep atau niat baik. Sebuah rencana yang bagus di atas kertas belum tentu terbukti di lapangan. Yang lebih penting adalah melihat rekam jejak. Apakah lembaga yang bersangkutan pernah membuktikan pendekatan serupa berhasil di tempat lain?

Kita punya datanya. Di bawah manajemen InJourney Airports, apa yang terjadi pada bandara-bandara utama kita? Berdasarkan pemeringkatan Skytrax World Airport Awards 2026, Bandara Soekarno-Hatta melesat ke peringkat 22 dunia.

Trennya konsisten naik. Tahun 2024, Soetta masih di posisi 28. Tahun 2025 naik ke posisi 25. Sekarang, di 2026, sudah di posisi 22. Menurut Kompas.com (13 Juli 2026), pemerintah menargetkan Soetta masuk 10 besar dunia pada 2029. Bukan target asal sebut, karena transformasinya sudah berjalan sejak 2024 lewat tiga pilar: infrastruktur berorientasi layanan, kualitas sumber daya manusia, dan proses operasional berbasis teknologi. Salah satu buktinya, Terminal 1A sedang direvitalisasi untuk menaikkan kapasitas dari 5,7 juta jadi 10 juta penumpang per tahun. Pun juga Terminal 3 yang sudah cantik, makin dipercantik. 

Layanan imigrasinya konsisten masuk 10 besar dunia. Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali naik ke posisi 67 dunia, dan peringkat 6 untuk kategori Best Regional Airports in Asia. Itu angka dari Skytrax, lembaga pemeringkat internasional yang diakui seluruh dunia.

Lalu saya membayangkan kalau standar manajemen seperti itu disuntikkan ke Banyuwangi.

Soal akses udara, Banyuwangi sebenarnya sudah punya modal awal yang unik. Bandara Blimbingsari. Bandaranya kecil, tapi arsitekturnya luar biasa. Hijau, ramah lingkungan, banyak pakai material kayu, minim AC. Cantik lah, pokoknya. Dulu sempat dapat penghargaan arsitektur internasional.

Tapi bandara cantik kalau sepi penerbangan, ya percuma saja.

Nah, di sinilah peran InJourney jadi krusial. Mereka tidak cuma bicara “tambah rute penerbangan“. Mereka hitung kalkulasi bisnisnya. Bagaimana menjaga load factor. Caranya dengan mengintegrasikan rute Banyuwangi ke jaring destinasi wisata lain, supaya maskapai tidak rugi dan penerbangan bisa jalan terus.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, paham betul soal ini. Pemkab tidak bisa jalan sendiri kalau mau menembus pasar internasional. Di sini sinerginya pas. Pemkab punya komitmen daerah dan keotentikan budaya. InJourney dan Angkasa Pura punya jaringan, manajemen bandara, dan kapasitas pemasaran global.

Targetnya jelas. Menaikkan kelas event lokal seperti Festival Gandrung Sewu, Oktober 2026, jadi etalase budaya internasional. Sekaligus menyusun jalan agar wisatawan mancanegara tidak cuma menumpuk di Bali.InJourney sukses melakukan banyak event nasional menjadi begitu bagus. 

Bukan cuma soal angka kunjungan turis. Dalam pernyataan resminya, InJourney dan Pemkab juga menyebut kopi lokal, kuliner, dan kreativitas masyarakat sebagai kekuatan yang layak diperkenalkan lebih luas, sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM dan tenaga kerja setempat. Kalau rencana ini benar-benar jalan, dampaknya diharapkan bukan cuma dirasakan pengelola hotel atau maskapai, tapi juga pedagang kecil dan petani kopi di kampung-kampung.

Selama ini banyak daerah ingin pariwisatanya maju. Tapi cara kerjanya masih cara kerja lama.

Banyuwangi mengambil jalan berbeda. Mereka tidak mau pasrah cuma jadi daerah transit.

Kalau potensi daerah yang kaya ini benar-benar dikawinkan dengan tata kelola kelas dunia, tetangga di seberang selat itu harus mulai melihat Banyuwangi dengan mata terbuka lebar.

Bukan lagi sebagai tempat lewat. Tapi sebagai tujuan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Bali Sudah, Sekarang Giliran Banyuwangi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us