
CITRAsatelit terbaru mengungkapkan ada kerusakan baru di dalam kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, Iran. Kerusakan ini muncul menyusul gelombang serangan udara Amerika Serikat (AS) di tengah eskalasi militer yang kembali memanas antara Washington dan Teheran.
Perbandingan citra satelit European Sentinel-2 yang diambil pada 7 Juli dan 12 Juli 2026 menunjukkan bekas dampak serangan yang baru terbentuk di dalam kompleks Bushehr. Selain itu, titik serangan lain terlihat pada fasilitas pendukung di sekitar lokasi tersebut.
Unit sumber terbuka Al Jazeera Network menyusun citra satelit, rekaman lapangan, dan data resmi dari Komando Pusat AS (Centcom) untuk memetakan lokasi serangan AS di seluruh Iran antara 7 Juli hingga 15 Juli 2026.
Klaim Otoritas Iran dan Operasi Militer AS
Wakil Gubernur Provinsi Bushehr, Ehsan Jahanian, menyatakan pada 9 Juli bahwa beberapa lokasi di provinsi tersebut dihantam serangan. Lokasi yang terdampak mencakup area di sekitar PLTN Bushehrsitus militer di Choghadak, serta pelabuhan perikanan di bagian selatan provinsi.
Meski demikian, Jahanian kemudian membantah laporan bahwa reaktor nuklir itu sendiri terkena serangan. Ia menegaskan bahwa reaktor tetap tidak terpengaruh dan terus beroperasi secara normal.
Serangan ini merupakan bagian dari kampanye militer AS yang lebih luas terhadap Iran. Centcommenyatakan telah menyerang sekitar 90 target militer pada 7-8 Juli, termasuk sistem pertahanan udara, lokasi penyimpanan rudal dan drone, aset angkatan laut, serta infrastruktur militer di sepanjang pantai selatan Iran. Namun, pihak AS tidak secara spesifik menyebut Bushehr atau fasilitas nuklir lain sebagai target resmi.
Profil PLTN Bushehr
Bushehr merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi di Iran. Terletak sekitar 17 km di selatan kota Bushehr, kompleks seluas 2,5 kilometer persegi ini mencakup gedung reaktor, saluran air pendingin yang terhubung ke laut, aula perakitan, dan pelabuhan untuk menerima peralatan konstruksi.
Situs ini memiliki dua gedung reaktor: satu unit telah operasional, sementara unit lainbelum selesai dibangun selama bertahun-tahun. Berdasarkan data Sistem Informasi Reaktor Tenaga (PRIS) dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), unit Bushehr-1 memiliki kapasitas listrik bersih sekitar 915 megawatt.
Berbeda dengan fasilitas pengayaan uranium seperti Natanz atau Fordow, reaktor Bushehr mengandung bahan bakar nuklir dan material radioaktif yang digunakan untuk pembangkitan listrik. Hal ini membuat kerusakan pada sistem pendingin, pasokan daya, atau sistem penahanan (containment) menjadi sangat sensitif dan berisiko tinggi.
Rentetan Insiden di Tahun 2026
Insiden pada Juli ini menambah daftar panjang laporan proyektil di dekat PLTN Bushehr sepanjang tahun 2026. Laporan IAEA mencatat beberapa insiden sebelumnya, di antaranya:
- Proyektil menghantam area dalam pembangkit pada 17, 24, dan 27 Maret.
- Dampak serangan di dekat pagar unit pertama reaktor pada 4 April.
Dalam setiap kejadian tersebut, otoritas Iran melaporkan bahwa reaktor tetap beroperasi normal tanpa kerusakan pada struktur utama. IAEA telah berulang kali menegaskan bahwa fasilitas nuklir tidak boleh menjadi target serangan bersenjata karena potensi konsekuensi bencana bagi manusia, lingkungan, dan keamanan nuklir regional. (Al Jazeera/I-2)