1. News
  2. Kombitainment
  3. Festival Musik Tidak Berakhir Saat Lampu Panggung Padam (oleh: Redifka Akbar)

Festival Musik Tidak Berakhir Saat Lampu Panggung Padam (oleh: Redifka Akbar)

festival-musik-tidak-berakhir-saat-lampu-panggung-padam-(oleh:-redifka-akbar)
Festival Musik Tidak Berakhir Saat Lampu Panggung Padam (oleh: Redifka Akbar)

Ketika orang membicarakan festival musik, hal yang sering muncul adalah apakah lineup acaranya menarik, seberapa ramai penontonnya, apakah harga tiketnya terjangkau, atau momen saat lagu favorit dinyanyikan bersama ribuan orang. Namun, bagi sebagian orang, cerita tentang festival justru dimulai ketika panggung sudah dibongkar dan lampu-lampu dimatikan.

Saya pernah menjadi volunteer di sebuah festival musik, yaitu The Sounds Project Vol. 8. Awalnya, keputusan itu sangat sederhana. Saya hanya ingin melihat bagaimana sebuah acara besar berjalan dari balik layar setelah selama ini terbiasa datang sebagai penonton. Saya membayangkan pengalaman beberapa hari, bertemu orang baru, lalu kembali menjalani rutinitas seperti biasa setelah acara selesai.

Ternyata, pengalaman tersebut membawa saya pada pemahaman yang berbeda tentang festival musik.

Di balik panggung, festival mempertemukan banyak orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Mahasiswa dari berbagai kampus, pekerja kreatif, penggemar musik, hingga mereka yang sekadar ingin mencari pengalaman baru berkumpul dalam satu tujuan yang sama, yaitu memastikan acara berjalan lancar.

Di situlah saya menyadari bahwa festival musik memiliki fungsi lain yang jarang dibicarakan. Festival bukan hanya ruang hiburan, melainkan juga ruang pertemuan.

Dalam beberapa hari penyelenggaraan acara, orang-orang yang sebelumnya asing dipaksa bekerja sama menghadapi berbagai situasi. Ada yang harus menyelesaikan kendala teknis dalam waktu singkat, mengatur antrean penonton, membantu pengunjung yang kebingungan, atau berkoordinasi dengan banyak divisi sekaligus. Situasi-situasi seperti itu menciptakan hubungan yang berbeda dari pertemanan biasa karena dibangun melalui pengalaman bersama.

Rasa penasaran saya semakin besar setelah merasakan euforia selama seharian berada di area backstage. Saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang dunia penyelenggaraan acara dan mendaftarkan diri ke berbagai program volunteer lainnya. Semakin banyak acara yang saya ikuti, semakin saya memahami bahwa hubungan yang terjalin di dalam festival sering kali tidak berhenti ketika acara selesai.

Grup percakapan yang awalnya dibuat untuk kebutuhan koordinasi tetap aktif bahkan setelah festival berakhir. Obrolan yang sebelumnya berisi informasi operasional perlahan berubah menjadi ruang berbagi cerita, bertukar informasi pekerjaan, hingga merencanakan kolaborasi baru. Orang-orang yang dipertemukan oleh festival mulai menemukan kesamaan minat dan tujuan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak festival musik tidak selalu dapat diukur dari jumlah penonton atau panjang antrean tiket. Ada dampak sosial yang tumbuh secara organik melalui interaksi antarindividu yang terlibat di dalamnya.

Sebagai mahasiswa, saya sering melihat banyak teman memiliki mimpi yang sama, yaitu membangun band bersama teman-temannya. Tidak sedikit kelompok musik yang lahir dari lingkungan kampus dan kemudian berkembang menjadi nama besar. Namun, pertanyaannya adalah siapa yang menyediakan ruang bagi mereka untuk bertemu, tampil, dan membangun jaringan?

Meskipun festival musik tidak secara langsung menciptakan semua peluang tersebut, festival sering kali menjadi titik temu bagi orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa terhadap dunia kreatif. Dari pertemuan-pertemuan itulah muncul berbagai kemungkinan baru.

Saya merasakan sendiri bagaimana jaringan pertemanan yang terbentuk dari dunia volunteer berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Dari hubungan yang dibangun saat bekerja di berbagai acara musik, lahir ide untuk membentuk kelompok yang bergerak di bidang manpower event. Kelompok kecil yang awalnya terdiri atas sekitar sepuluh orang itu muncul dari pengalaman yang sama, semangat yang sama, dan kepercayaan yang tumbuh ketika bekerja bersama di lapangan.

Beberapa bulan setelah festival selesai, saya menyadari sesuatu yang unik. Ketika berkumpul dengan teman-teman dari berbagai acara, sebagian besar perkenalan kami berawal dari kalimat yang sama, yaitu “kenal di TSP”. Sebuah festival yang hanya berlangsung beberapa hari ternyata mampu menjadi titik temu bagi banyak perjalanan yang berbeda.

Pengalaman tersebut membuat saya melihat festival dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini, festival sering dianggap sebagai acara yang berlangsung satu atau dua hari. Padahal, pengaruhnya bisa bertahan jauh lebih lama daripada durasi acaranya sendiri.

Festival menciptakan ekosistem yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang beragam. Dari sana lahir komunitas, jaringan profesional, proyek kreatif, hingga peluang karier yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Dalam konteks anak muda dan mahasiswa, pengalaman semacam ini menjadi ruang belajar yang sulit ditemukan di ruang kelas.

Di kampus, mahasiswa mempelajari teori komunikasi, manajemen, kepemimpinan, dan kerja tim. Namun, di lapangan, terutama dalam lingkungan festival musik, semua teori tersebut diuji secara langsung. Kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, serta bekerja di bawah tekanan menjadi keterampilan yang dipelajari melalui pengalaman nyata.

Karena itu, festival musik bukan hanya tentang apa yang terjadi di atas panggung. Ada cerita lain yang berlangsung di belakangnya. Cerita tentang orang-orang yang bekerja sejak pagi, bahkan sejak berbulan-bulan sebelum acara dimulai. Mereka berkoordinasi di tengah keramaian, menghadapi berbagai tantangan, lalu pulang membawa lebih dari sekadar kenangan.

Sebagian membawa pengalaman baru. Sebagian membawa teman baru. Sebagian lainnya membawa kesempatan yang mengubah arah perjalanan hidup mereka.

Sebelumnya, saya melihat festival hanya dari sudut pandang penonton. Ketika terjadi kesalahan teknis atau kendala di lapangan, saya mudah mengeluh tanpa benar-benar memahami proses yang berlangsung di baliknya. Namun, setelah terlibat langsung dalam industri tersebut, saya menyadari bahwa bekerja di sebuah acara berskala besar bukanlah hal yang mudah.

Ada banyak proses yang tidak terlihat oleh penonton. Ada orang-orang yang bekerja jauh sebelum gerbang dibuka dan tetap bekerja ketika sebagian besar pengunjung sudah pulang. Mereka memastikan setiap detail berjalan sebagaimana mestinya agar pengalaman yang diterima penonton tetap menyenangkan.

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang industri kreatif. Saya menjadi lebih menghargai kerja kolektif yang memungkinkan sebuah festival berlangsung dengan baik. Selain itu, pengalaman tersebut juga membuka ketertarikan baru yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan di usia dua puluhan.

Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang selalu kembali ke festival musik, bahkan ketika mereka tidak lagi datang sebagai penonton. Ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pertunjukan yang mereka cari. Ada rasa keterhubungan yang sulit dijelaskan, tetapi nyata dirasakan.

Pada akhirnya, festival musik memang memiliki akhir. Lagu terakhir akan selesai dimainkan. Kembang api akan meledak sebagai penanda penutupan acara. Penonton akan pulang dan panggung akan dibongkar.

Namun, cerita yang lahir darinya sering kali terus berjalan bagi sebagian orang.

Karena bagi sebagian orang, festival musik tidak berakhir saat lampu panggung padam.


Penulis adalah mahasiswa Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Festival Musik Tidak Berakhir Saat Lampu Panggung Padam (oleh: Redifka Akbar)
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us