1. News
  2. Berita
  3. Hedonisme

Hedonisme

hedonisme
Hedonisme

Dalam beberapa tahun terakhir, ada pemandangan sosial yang menarik untuk diamati. Restoran dan kafe tetap ramai, konser dipadati penonton, dan media sosial dipenuhi unggahan liburan dan kuliner. Banyak orang terlihat mencari pengalaman baru, tempat baru, dan suasana baru sebagai cara menikmati hidup.

Di sisi lain, kondisi ekonomi juga menantang, tecermin pada kenaikan harga, efisiensi perusahaan, dan tekanan yang mulai dirasakan kelas menengah. Situasi ini menunjukkan adanya dorongan untuk tetap menjaga ruang kesenangan meskipun realitas hidup tidaklah ringan. Dari sinilah hedonisme sering dibicarakan, yaitu pandangan yang menempatkan kesenangan sebagai salah satu sumber kebahagiaan. Dalam realitanya, kesenangan yang awalnya hanya menjadi bagian dari hidup dapat bergeser menjadi tolok ukur bahwa hidup sedang baik-baik saja.

Gaya hidup menjadi simbol status

Kita hidup pada era yang sangat visual. Sukses tidak hanya perlu dicapai, tetapi juga perlu terlihat. Orang tidak hanya menikmati hidup, tetapi juga mempertontonkannya.

Thorstein Veblen menyebut fenomena itu sebagai conspicuous consumption, yaitu konsumsi yang dilakukan untuk menunjukkan status sosial. Jika dahulu simbolnya berupa rumah besar atau mobil mewah, kini bentuknya lebih beragam, mulai dari pengalaman eksklusif, gaya hidup estetik, kafe premium, hingga aktivitas healing.

Fenomena ini berkembang lebih jauh. Dalam artikelnya, Harvard Business School memperkenalkan istilah conspicuous consumption of time untuk menggambarkan kecenderungan menjadikan kesibukan sebagai penanda status. Orang melakukan humble bragging sembari bilang, “Capek banget meeting terus.” “Belum sempat istirahat.” “Bulan ini bolak-balik luar negeri.”

Kelihatannya itu mengeluh, padahal sebenarnya sedang menunjukkan status. Anat Keinan menyebut bahwa sekarang manusia tidak lagi berkata, “Lihat barang mahal saya,” tetapi “Lihat betapa pentingnya saya sampai waktu saya begitu penuh.”

Lebih dari sekadar status dan pencapaian

Kita hidup pada zaman ketika kesenangan dapat berubah menjadi pertunjukan. Namun, apakah kesenangan benar-benar identik dengan kebahagiaan? Philip Brickman menjawab pertanyaan ini melalui penelitian yang membandingkan pemenang lotre dan korban kecelakaan yang mengalami kelumpuhan.

Hasilnya mengejutkan. Pemenang lotre memang lebih bahagia pada awalnya, tetapi seiring waktu kembali ke tingkat kebahagiaan yang hampir sama seperti sebelumnya. Sebaliknya, korban lumpuh yang semula mengalami guncangan emosional perlahan mampu beradaptasi dan menikmati hidup kembali.

Temuan itu menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak semata ditentukan oleh kemewahan atau kemalangan. Namun, bagaimana manusia dapat beradaptasi dengan kondisi yang dialaminya seiring waktu.

Mungkin di sinilah tantangan masyarakat modern. Banyak aktivitas ekonomi dirancang untuk terus mendorong pencarian stimulus baru: scroll lagi, beli lagi, pergi lagi, dan upgrade lagi. Tidak heran muncul istilah looks maxxing, productivity maxxing, wellness maxxing, hingga meaning maxxing. Hidup bukan lagi sekadar dijalani, melainkan terus dimaksimalkan. Penampilan harus lebih baik, produktivitas harus meningkat, bahkan self-care berubah menjadi proyek yang tak pernah selesai.

Akibatnya, banyak orang sulit merasa cukup. Selalu ada orang lain yang tampak lebih sukses, lebih sehat, lebih kaya, atau lebih menarik. Di balik berbagai upaya untuk menjadi versi yang lebih baik, tidak sedikit yang justru merasa lelah dan kehilangan ketenangan.

Melihat hedonisme dari sisi berbeda

Menariknya, konsep hedonisme dalam psikologi organisasi tidak selalu dipandang negatif. Dalam Hogan Motives, Values, Preferences Inventory (MVPI), hedonism diartikan sebagai kebutuhan untuk menikmati hidup, mencari energi dan suasana yang menyenangkan. Individu dengan skor hedonisme tinggi umumnya menyukai lingkungan yang dinamis dan variatif.

Mereka senang dengan budaya work hard, play hard. Mereka menghargai humor dan menikmati interaksi yang membuat pekerjaan terasa lebih hidup. Dalam kadar yang seimbang, hedonisme dapat membantu menjaga antusiasme, keterlibatan, dan semangat dalam bekerja.

Artinya, kesenangan bukanlah musuh. Manusia membutuhkan momen untuk menikmati hidup, tertawa, berlibur, atau sekadar berbincang santai. Hidup yang terlalu kaku dan serius juga dapat menguras energi emosional. Namun, seperti banyak hal lain dalam hidup, setiap kekuatan memiliki sisi yang perlu diwaspadai.

Hedonisme yang sehat dapat berubah menjadi pelarian ketika kesenangan dijadikan satu-satunya sumber makna hidup. Ketika manusia tidak lagi bisa diam tanpa stimulus. Tidak lagi nyaman dengan kesederhanaan. Tidak lagi bisa menikmati hal yang biasa-biasa saja.

Rangkul kebahagiaan, bukan kesenangan

Lalu bagaimana agar kita dapat merangkul kesenangan sekaligus membangun kebahagiaan yang lebih berkelanjutan?

Mungkin langkah pertama adalah membedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Kesenangan biasanya cepat, intens, dan meledak-ledak. Sebaliknya, kebahagiaan sering hadir lebih tenang. Ia tidak selalu heboh, tetapi memberi rasa utuh dan cukup.

Kedua, kita perlu menikmati sesuatu tanpa terus menaikkan standar kenikmatan. Otak manusia cepat beradaptasi. Apa yang terasa istimewa hari ini dapat menjadi biasa esok hari. Tanpa disadari, hidup berubah menjadi pengejaran yang tidak pernah selesai karena selalu ada sensasi baru yang ingin diraih.

Ketiga, penting untuk sesekali keluar dari comparison loop. Media sosial membuat kita terus melihat versi terbaik kehidupan orang lain. Lama-lama, kita merasa kurang bukan karena hidup kita buruk, melainkan karena terus membandingkan diri dengan cemerlangnya hidup orang lain.

Keempat, kita perlu kembali melatih diri untuk menikmati hal-hal sederhana. Penelitian Brickman menunjukkan, kebahagiaan sering muncul dari pengalaman sehari-hari yang bermakna. Makan bersama keluarga, mengobrol santai, berjalan pagi, atau tertawa bersama teman sering kali memberi kepuasan yang lebih bertahan dibanding sensasi sesaat.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu mulai bertanya, “Apakah saya benar-benar menikmati hidup, atau hanya takut terlihat tertinggal?” Sering kali yang melelahkan bukan kurangnya kebahagiaan, melainkan tekanan untuk terus tampak bahagia.

Ironisnya, di tengah melimpahnya hiburan, banyak orang justru semakin sulit merasa puas. Mungkin karena yang paling berat bukan bekerja keras, melainkan keyakinan bahwa hidup harus selalu terasa luar biasa setiap saat.

Baca Juga: Kerja Hibrida Efektif

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Hedonisme
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us