
Kala 3 Musisi Indonesia Produksi Rekaman Lagu di Singapura pada 1968 | Berita Harian 3 Agustus 1968
Produksi rekaman lagu menjadi salah satu tahapan penting dalam proses penciptaan karya dari seorang musisi. Sebelum memasarkan lagu ciptaan mereka, para musisi akan melakukan rekaman terlebih dahulu untuk “meracik” karya terbaik tersebut.
Proses produksi ini bisa dilakukan di mana saja. Apalagi kemajuan teknologi pada saat ini memungkinkan para seniman untuk menciptakan karya di ruang nyaman mereka masing-masing.
Namun tahukah Kawan, mundur ke beberapa dekade silam, ada musisi Indonesia yang memproduksi karya mereka hingga ke luar negeri. Salah satunya pernah terjadi pada 1968 silam.
Pada waktu itu, ada tiga musisi Indonesia yang melakukan produksi rekaman langsung ke negara tetangga Singapura. Proses produksi ini membuat mereka berdiam di sana selama berminggu-minggu lamanya.
Meskipun menjalani proses produksi yang panjang, ketiga musisi ini tetap bisa menyelesaikan pengerjaan karya musik mereka. Lantas bagaimana momen saat ketiga musisi asal Indonesia yang melakukan produksi lagu hingga ke Singapura pada 1968 lalu?
Tiga Musisi Indonesia Produksi Rekaman Lagu ke Singapura pada 1968
Dikutip dari artikel “Tiga Orang Penyanyi Indonesia Rakamkan Lagu Hasil Chiptaan Sendiri” yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 3 Agustus 1968, pada waktu itu ada tiga orang musisi Indonesia yang melakukan rekaman lagu ke Singapura. Ketiga musisi tersebut adalah Wirdaningseh, Novel, dan Amir Siregar.
Mereka memproduksi rekaman lagu dalam bentuk piringan hitam. Tempat produksi rekaman ini juga merupakan salah satu yang terbesar di Singapura pada waktu itu.
Nantinya hasil rekaman ini akan mereka sebarkan secara luas. Proses rekaman ini pun juga memakan waktu cukup lama.
Terhitung ketiga musisi tersebut berada selama berminggu-minggu di Singapura untuk melakukan produksi tersebut. Meskipun demikian, ketiga musisi ini meninggalkan kesan baik selama proses rekaman.
Kenangan dari Setiap Musisi
Dalam artikel tersebut, Berita Harian sempat menampilkan kesan dari ketiga musisi Indonesia yang melakukan rekaman pada waktu itu. Ketiga musisi ini melakukan proses rekaman lagu dengan jumlah yang berbeda-beda.
Wirdaningseh merekam empat lagu pada waktu itu. Dari keempat lagu tersebut, satu merupakan lagu Minang (Bugih Lamo) dan tiga lagu lainnya berbahasa Indonesia (Kau Pergi Tanpa Kesan, Menyambut Pagi Hari, dan Lambaian Tangan).
Penyanyi yang juga menjadi mahasiswa di Universitas Nasional pada waktu tersebut berada di Singapura selama satu bulan dalam proses produksi ini. Sebelumnya dia bahkan menjalani tur ke beberapa kota besar di Malaysia untuk memperkenalkan karya ciptaannya.
Lagu-lagu ini juga diciptakan oleh Wirda berdasarkan pengalamannya saat menjalani tur tersebut. Lagu-lagu ini langsung dia tulis begitu pulang ke Jakarta dan berhasil diramu dalam proses rekaman tersebut.
Selain Wirda, ada juga Amir Siregar yang sama-sama menetap selama sebulan bersamanya untuk produksi lagu di Singapura. Sama seperti Wirda, Amir juga memproduksi empat buah lagu, dua lagu Tapanuli (Si Togol dan Ale Bulan) dan dua lagu Indonesia (Bahtera Laju dan Pahlawan Revolusi).
Novel menjadi musisi yang memproduksi lagu paling banyak dibandingkan kedua rekannya pada waktu itu. Dirinya menciptakan 12 lagu pada waktu itu dalam tiga bahasa berbeda, yakni Indonesia, Inggris, dan Melayu.
Meskipun memproduksi lebih banyak lagu, Novel justru datang lebih telat dibandingkan kedua rekannya. Dirinya menjalani proses produksi dari 12 lagu ciptaannya itu selama tiga minggu lamanya dengan bantuan iringan dari Kurigan The Rhythm Boys.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.
Tim Editor