Tentara Finlandia bersiaga di posisi pertahanan di tengah hutan bersalju, Perang Musim Dingin 1939-1940 | Wikimedia Commons
Tidak ada yang benar-benar siap pada pagi itu.
Pada 30 November 1939, sebelum matahari terbit, hampir satu juta tentara Soviet menyeberangi perbatasan Finlandia tanpa deklarasi perang, tanpa ultimatum terakhir. Finlandia adalah negara kecil dengan populasi sekitar empat juta orang, baru 22 tahun merdeka, dengan tentara yang sebagian masih menggunakan senjata peninggalan Perang Dunia I. Di beberapa sektor, komunikasi antar unit tempur masih mengandalkan pelari kaki karena tidak cukup radio. Anggaran pertahanan selama bertahun-tahun masa damai sangat terbatas, dan tidak ada dalam sejarah singkat kemerdekaan mereka yang pernah mempersiapkan mereka untuk menghadapi invasi dari kekuatan militer sebesar ini.
Seluruh dunia sudah tahu kira-kira bagaimana cerita ini akan berakhir. Tiga hari, kata para analis militer Barat. Paling lama seminggu. Bahkan beberapa pemimpin Finlandia sendiri, dalam pembicaraan tertutup, tidak yakin apakah perlawanan bersenjata adalah pilihan yang realistis atau hanya cara yang lebih mahal untuk sampai pada hasil yang sama: menyerah.

Tentara Soviet siap menyerbu | Wikimedia commons
Mereka semua keliru. Dan kekeliruan itu, ternyata, tidak hanya mengubah nasib Finlandia. Apa yang terjadi selama 105 hari berikutnya akan dibaca ulang oleh para pemimpin militer di seluruh Eropa, termasuk di Berlin, pusat komando Nazi Jerman yang saat itu sedang menyusun rencana ekspansi ke timur dan aktif mencari celah kelemahan Soviet. Konsekuensi dari perang kecil yang hampir tidak ada yang anggap serius itu ternyata jauh melampaui batas-batas Finlandia, dan pada akhirnya ikut menentukan jalannya Perang Dunia II secara keseluruhan.
Perang yang Tidak Sesuai Rencana
Stalin punya alasan strategis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Leningrad, kota terpenting di bagian barat Uni Soviet, hanya berjarak 32 kilometer dari perbatasan Finlandia. Jika Jerman suatu hari menyerang dari arah barat laut, tidak ada zona penyangga apapun yang melindungi kota itu. Stalin meminta Finlandia menyerahkan beberapa pulau di Teluk Finlandia, menggeser perbatasan di Tanah Genting Karelia lebih jauh ke barat, dan memberikan akses ke semenanjung Rybachi. Sebagai kompensasi, Soviet menawarkan wilayah di Karelia Timur yang lebih luas secara ukuran tapi jauh lebih sedikit nilai strategisnya.
Finlandia menolak. Bagi bangsa yang baru dua dekade menikmati kemerdekaannya setelah lama berada di bawah kekuasaan Rusia, menyerahkan wilayah atas tekanan adalah sesuatu yang secara psikologis dan politis hampir mustahil diterima, berapapun bentuk kompensasinya. Penolakan itu memberi Stalin justifikasi untuk mengirimkan tentaranya. Dan ia melakukannya dengan skala yang dirancang untuk menyelesaikan segalanya dengan cepat.
Angka-angkanya terlalu jelas untuk diperdebatkan: 340.000 tentara Finlandia melawan hampir satu juta tentara Soviet, 32 tank melawan 6.500, 114 pesawat tempur melawan 3.880. Beberapa bulan sebelumnya, Soviet menduduki Polandia timur dengan korban di bawah seribu orang. Finlandia seharusnya tidak lebih sulit dari itu.
Tapi Finlandia bagian timur adalah jutaan hektar hutan pinus dan birch yang rapat, danau beku, dan rawa yang tersembunyi di bawah lapisan salju. Suhu turun hingga minus 40 derajat Celsius. Siang hari berlangsung hanya beberapa jam. Jalan yang ada sangat sedikit, dan kolom kendaraan berat Soviet terpaksa bergerak di sepanjang jalan-jalan sempit itu, satu di belakang yang lain, tidak bisa menyebar ke samping, tidak bisa bermanuver, tidak bisa merespons ancaman dari arah yang tidak terduga.
Pasukan Finlandia, yang bergerak dengan ski di medan yang mereka kenal sejak kecil, menyerang kolom-kolom itu dari sisi hutan kemudian mundur sebelum Soviet sempat mengorganisir respons yang terkoordinasi. Mereka tidak bertempur dengan cara yang diajarkan buku teks militer.

Pasukan ski Finlandia | Wikimedia commons
Mereka bertempur dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang tumbuh di tanah itu dan tidak punya pilihan lain selain mempertahankannya. Dalam tiga hari pertama, lebih dari seratus tank Soviet hancur. Tiga divisi penuh dilumpuhkan. Pada 21 Desember 1939, tujuh divisi Soviet sudah tidak lagi berfungsi efektif dan hampir 300 tank tambahan hancur.
Soviet tidak menyerah pada kekalahan demi kekalahan. Pada Februari 1940 mereka mereorganisasi seluruh operasi dan mengirim 45 divisi tambahan, 750.000 personel, dengan artileri besar-besaran dan pemboman udara yang intensif, semuanya difokuskan pada Tanah Genting Karelia. Garis pertahanan Mannerheim mulai tidak bisa bertahan di bawah tekanan yang terus meningkat. Amunisi menipis minggu demi minggu. Bahan bakar hampir habis.

Kehancuran beberapa kolom tentara Soviet | Wikimedia commons
Finlandia bertahan selama berminggu-minggu lagi, lebih lama dari yang seharusnya mungkin secara logistik, sebelum pada 12 Maret 1940, unit-unit di garis terdepan benar-benar kehabisan peluru. Keesokan harinya, perjanjian damai ditandatangani di Moskow. Finlandia menyerahkan sekitar 11 persen wilayahnya, termasuk Tanah Genting Karelia dan kota Viipuri. Sekitar 430.000 penduduk dari wilayah yang diserahkan memilih mengungsi ke dalam Finlandia, meninggalkan rumah yang tidak akan pernah mereka kembali.
Secara hukum internasional, Soviet menang. Tapi untuk mendapatkan wilayah dari negara yang seharusnya jatuh dalam tiga hari, Soviet kehilangan antara 125.000 hingga 170.000 tentara tewas, dengan total korban lebih dari 320.000 orang jika dihitung yang luka, hilang, dan ditangkap. Finlandia kehilangan 25.000 tentara. Rasio korban itu dibaca dengan seksama oleh para perencana militer Nazi Jerman di Berlin, yang sejak lama memang sedang mencari jawaban atas satu pertanyaan strategis: apakah Soviet cukup kuat untuk bertahan jika diserang? Perang Musim Dingin memberi mereka jawaban yang mereka inginkan. Jika satu juta tentara Soviet butuh 105 hari dan kerugian yang sangat besar hanya untuk memaksa negara sekecil Finlandia menandatangani perjanjian damai, maka Tentara Merah bukanlah mesin perang yang selama ini ditakuti. Delapan belas bulan kemudian, keyakinan itu terwujud dalam Operasi Barbarossa, invasi Nazi ke wilayah Soviet pada Juni 1941 yang menjadi salah satu operasi militer terbesar dalam sejarah, dan pada akhirnya, titik balik yang menentukan kekalahan Jerman sendiri dalam Perang Dunia II.
Yang Tidak Bisa Dihitung Intelijen Manapun
Yang membuat Finlandia bertahan bukan kekuatan militernya. Dalam sejarah perang modern, kesenjangan seperti ini hampir selalu berakhir dengan satu cara. Yang membuat mereka bertahan adalah sesuatu yang tidak muncul dalam laporan intelijen manapun: keputusan seluruh masyarakat untuk bergerak tanpa menunggu diperintah.
Tidak ada dekrit pemerintah yang menggerakkan mereka. Tidak ada kampanye nasional yang terorganisir, tidak ada pidato pemimpin yang menyulut semangat secara serentak. Tapi di seluruh penjuru Finlandia, keluarga-keluarga mulai mengumpulkan makanan dan pakaian hangat untuk dikirim ke garis depan. Perempuan mendirikan dapur umum dan pos pertolongan pertama di kota-kota dan desa-desa. Pekerja meninggalkan pabrik dan bergabung dengan unit militer atau mendukung logistik. Semuanya bergerak, hampir bersamaan, tanpa ada yang memerintahkan kapan harus mulai dan apa yang harus dilakukan pertama.

Kohesi sosial rakyat Finlandia yang tinggi
Sejarawan menyebut berbagai faktor: kohesi sosial Finlandia yang tinggi, ketidakpercayaan historis terhadap Rusia yang menyatukan mereka melampaui perbedaan kelas dan politik, serta pengalaman kolektif membangun negara dari nol yang memberi mereka rasa kepemilikan yang dalam terhadap apa yang sedang mereka pertahankan. Semua itu mungkin benar. Tapi ada satu hal yang konsisten di semua penjelasan itu: orang-orang Finlandia tidak bergerak karena negara meminta mereka. Mereka bergerak karena mereka merasa ini adalah urusan mereka.
Ada pertanyaan yang lebih menarik dari sekadar bagaimana Finlandia bisa bertahan selama 105 hari. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: dari mana datangnya keputusan kolektif itu? Tidak ada pemimpin tunggal yang memerintahkannya. Tidak ada sistem birokrasi yang mengorganisirnya. Setiap orang rupanya sudah tahu apa yang harus dilakukan, dan langsung melakukannya, karena mereka tidak sedang menunggu izin dari siapapun.
Mungkin itulah intinya. Ketika sebuah masyarakat benar-benar merasa bahwa sesuatu adalah milik mereka, bahwa nasib dari apa yang mereka bangun bersama adalah tanggung jawab mereka sendiri, mereka tidak menunggu instruksi untuk mempertahankannya. Instruksi hanya dibutuhkan ketika keterikatan itu belum cukup dalam, ketika orang masih perlu diyakinkan bahwa ini urusan mereka juga, bahwa mereka punya peran di sini, bahwa keterlibatan mereka berarti sesuatu.
Sebuah bangsa kecil yang bergerak bersama, bahkan tanpa peluru yang cukup, ternyata mampu mengubah perhitungan geopolitik dunia. Dan tidak ada satu pun laporan intelijen Soviet yang memperhitungkan kemungkinan itu.
Finlandia 1939 tidak perlu diyakinkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News