Beberapa hari ini, saya harus rela berjuang melawan koloni semut yang menyebalkan. Semut-semut ini terus-terusan menyerbu kamar kos saya. Tentu saya tidak menghitung berapa ratus semut yang hilir mudik di kamar kos ini. Namun, yang jelas, jumlahnya cukup untuk membuat saya pusing karena kehadiran mereka begitu terorganisir dengan baik.
Mulanya saya membiarkan mereka begitu saja karena jumlahnya terlihat sedikit. Satu dua ekor terlihat merayap di dinding. Sebagai orang yang rajin membersihkan kamar, saya menganggap mereka makhluk hidup yang sedang melintas.
Akan tetapi, semakin lama, jumlah semut ini makin banyak dan mulai menyebar ke beberapa titik. Mereka terlihat di dekat jendela, merayap di lantai, dan kadang muncul di atas bantal tidur saya.
Saya jadi makin khawatir ketika ada beberapa semut tiba-tiba muncul keluar dari laptop saya. Padahal laptop sering saya gunakan, sering saya bawa ke luar, tapi rupanya, tetap dijadikan penginapan oleh semut-semut ini. Saya menduga mereka masuk ketika malam hari, ketika laptop saya letakan di atas meja. Mereka masuk melalui sela-sela keyboard dan lubang charger.
Kamar kos diserbu semut
Sejak saat itu, saya menyadari bahwa kamar kos saya sudah diinvasi oleh koloni semut. Dan, jujur saja, itu sedikit menyeramkan. Meski tidak semenyeramkan film Koloni yang diperankan oleh Ji Chang-wook.
Makin lama, semut-semut itu mulai ditemukan di lemari, sela-sela buku, tumpukan kertas, dan sudut-sudut meja. Ketika mengambil buku untuk dibaca, pasti muncul satu dua semut yang kabur kebingungan seperti orang yang kepergok mau maling.
Jangan kira saya orang yang malas membersihkan kamar!!!
Membersihkan kamar, mulai dari tempat tidur, meja belajar, dan lantai selalu saya lakukan hampir setiap pagi. Saya selalu memastikan tidak ada makanan yang berceceran saat sebelum tidur. Namun, ikhtiar itu terkesan percuma. Sebab, koloni semut ini tetap datang tanpa rasa bersalah.
Akhirnya solusi cepat yang saya gunakan adalah menyemprot mereka dengan baygon sambil mengumpat, “mati kalian semut sialan!!!” Jadi setiap kali melihat mereka lewat, langsung saya semprot untuk mengusir mereka. Harapannya, mereka tidak muncul kembali.
Untuk beberapa saat, cara ini efektif. Mereka menghilang dari kamar kos dan saya merasa memenangkan peperangan. Sayangnya, kemenangan yang saya rasakan terlalu cepat saya rayakan.
Keesokan harinya, koloni semut ini muncul kembali melalui jalur yang berbeda. Mungkin mereka melalui jalur baru itu sambil mengolok-ngolok kepolosan saya karena merasa menang. Jalur satu ditutup, ada jalur lain yang bisa mereka temukan.
Saya kemudian merenung, “apa yang sebenarnya membuat mereka hobi sekali muncul di kamar saya?”
Temukan akar masalahnya
Renungan itu membuat saya mencari-cari akar masalah mengapa semut-semut ini selalu muncul. Saya telusuri jalur mereka dengan sabar dan akhirnya menemukan masalah utamanya. Tempat sampah utama kos yang diletakkan tepat di dekat jendela kamar saya adalah penyebabnya. Selain menimbulkan bau, tempat sampah ini adalah surga makanan bagi semut-semut itu. Dari sanalah mereka masuk melalui sela-sela jendela dan pintu kamar.
Kalau diperhatikan, letak kamar kos saya memang tidak menguntungkan. Tapi, bagi perspektif semut, kamar saya ini bisa jadi adalah jalur strategis untuk menyusupkan berbagai makanan dari tempat sampah itu.
Saya tentu tidak tinggal diam. Saya beberapa kali mencoba menggeser tempat sampah tersebut dari posisi awalnya supaya jauh dari jendela kamar. Setidaknya, kalau sumber masalahnya saya geser, semut-semut ini akan mencari jalur baru yang lebih efisien.
Masalahnya, setiap kali saya pindahkan, tempat sampah itu kembali ke posisi semula ketika saya kembali ke kosan. Saya tidak tahu siapa yang mengembalikannya, tapi ini sungguh menyebalkan.
Mencoba berdamai dengan keapesan
Saya seperti Sipilis yang dengan polisnya terus-terusan mendorong batu ke atas bukit. Bedanya yang saya geser adalah tempat sampah, lalu ada orang entah siapa mengembalikannya ke dekat jendela.
Apa yang saya alami ini membuat saya akhirnya sadar, kebersihan kamar kos yang dijaga ternyata tidak selalu cukup menghindarkan saya dari kesialan diserang segerombolan semut. Saya bisa saja menyapu tiap pagi, menyemprot baygon setiap malam, dan memastikan seluruh area kamar bersih dari makanan sisa. Tapi, semua akan percuma ketika sumber masalahnya justru datang dari faktor luar, yaitu posisi tempat sampah!
Barangkali, begitulah rasanya harus menghadapi masalah yang penyebab utamanya datang dari luar kendali kita. Kita bisa saja berjuang, beradaptasi, dan melakukan apapun untuk bertahan, tapi kalau sudah jatahnya apes ya mau gimana lagi?
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2026 oleh