Di sebuah gang dekat warung, terdapat dua ekor kucing bernama Putih dan Hitam. Mereka memiliki warna bulu yang berbeda. Bulu Putih sangat bersih seperti gumpalan awan, sedangkan bulu Hitam segelap malam.
Setiap sore, mereka selalu bermain kejar-kejaran. Kalau lapar, Hitam yang mencari makanan, Putih yang berjaga. Benar-benar kompak.
Suatu hari, ada seorang manusia yang baru keluar dari warung. Tangannya membawa sebuah kresek.
Manusia itu lalu berjongkok di depan si Putih yang lagi berjaga sambil memberikan sosis, “Wah, kamu lucu sekali, kucing. Mau ikut aku pulang tidak? Nanti aku kasih makanan sama susu setiap hari.”
Putih mengeong pelan. Ia merasa tertarik. Rumah hangat, makanan enak, susu setiap hari. Kucing mana yang tidak mau?
Namun, Putih melirik ke arah bawah pohon mangga. Di sana ada Hitam yang berjalan dengan membawa ikan di mulutnya.
Putih ingat bagaimana Hitam selalu membawakan makanan dan mengajari cara memanjat pohon. Ingat ketika Hitam rela kedinginan agar ia bisa tidur nyaman di atas perutnya.
“Meong!” Putih tiba-tiba berlari. Bukan ke manusia itu, melainkan ke arah Hitam.
Hitam kaget ketika Putih menyundulkan kepala ke bulunya.
“Aku tidak mau meninggalkanmu, Hitam,” kata Putih.
Manusia itu juga terkejut, ia berjalan pelan menghampiri Putih dan Hitam.
“Jadi, kalian sahabatan, ya?” ucap manusia itu sambil tersenyum, “Kalau begitu, aku pelihara kalian berdua aja. Lebih banyak, lebih seru. Setuju?”
Putih dan Hitam saling menatap, kemudian mengeong dan keduanya lalu berlari ke arah manusia itu.
Artinya mereka setuju.
Sejak hari itu, Putih dan Hitam memiliki sebuah rumah. Ada kasur empuk, makanan, susu, dan manusia baik yang selalu mengelus kepala serta bermain bersama mereka.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Aulia Nissa Mahya Rianti
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
